Tampilkan postingan dengan label Virus kehamilan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Virus kehamilan. Tampilkan semua postingan

Wah, Keputihan!



Seringkali, ibu hamil mendapati adanya lendir mirip-mirip keputihan. Berbahayakah?

Umumnya, keputihan bukanlah penyakit, melainkan gejala adanya penyakit atau kelainan tertentu. Jangan khawatir, keputihan yang terjadi saat hamil normal terjadi, kok .

Bagaimana terjadinya?

Selama hamil, tubuh Anda mengalami banyak perubahan. Salah satu perubahan yang mudah dikenali adalah keluarnya lendir dari vagina. Biasanya, jumlah lendir yang keluar pada masa ini meningkat dari biasanya. Ternyata, ini akibat pengaruh hormon yang diproduksi selama kehamilan, misalnya estrogen.

Apa ciri-cirinya?

Umumnya, keputihan pada masa kehamilan bertekstur encer, berwarna putih agak bening campur putih seperti susu, tidak menyebabkan gatal, serta tidak berbau busuk.

Apa penyebabnya?

Anda perlu mengenali dan menyadari adanya perubahan pada penampilan lendir dari vagina. Sebab, bisa jadi ada infeksi kuman penyakit atau gangguan pada proses kehamilan. Misalnya saja:

* Infeksi atau peradangan bakteri, parasit, atau jamur . Infeksi vagina yang paling sering dialami ibu hamil adalah infeksi jamur .
* Infeksi virus dari jenis Human Papilloma Virus (HPV) yang menimbulkan kutil-kutil di sekitar alat kelamin.
* Keganasan kanker leher rahim .
* Penyakit yang ditularkan lewat hubungan seksual , seperti Gonorhoe (GO) dan sifilis.
* Tanda akan lahir , berupa gumpalan lendir tebal akibat keluarnya “sumbat” mulut rahim.

Kapan perlu diwaspadai?

Keputihan tergolong tidak normal bila ditandai dengan:
* Lendir kental dan lengket.
* Lendir berwarna kehijauan atau kekuningan, bahkan sampai kemerahan atau kecokelatan.
* Berbau tidak enak dan menyengat.
* Daerah di sekitar vagina berwarna kemerahan dan terasa gatal.

Bagaimana mengatasinya?

Jika keputihan Anda tergolong normal alias akibat aktivitas kelenjar penghasil hormon kehamilan, keadaan ini akan hilang dengan sendirinya begitu si kecil lahir.

Penting diingat, sebaiknya segera memeriksakan diri begitu terjadi perubahan lendir yang mencurigakan, agar pengobatan bisa efisien dan efektif.

Bisakah dicegah?

Yang bisa dicegah cuma keputihan karena infeksi. Caranya? Dengan meningkatkan kebersihan diri sendiri. Upaya lain yang dapat Anda lakukan adalah:

* Jangan kenakan pakaian dalam yang ketat dan tidak menyerap keringat. Pilih yang terbuat dari katun.
* Jaga selalu kebersihan di sekitar alat kelamin.
* Hindari duduk di toilet umum.
* Biasakan ganti pakaian 2 kali sehari.
* Gunakan air yang bersih untuk membasuh daerah kelamin.
* Bagi Anda yang berusia 30 tahun ke atas, dianjurkan untuk melakukan pap smear sebelum berencana memiliki anak.

Sri Lestariningsih ( ayahbunda-online.com)
Konsultasi ilmiah: dr. Lastiko Bramantyo, Sp.OG, RSIA Hermina, Jakarta.

Jangan Sampai Kena Tetanus!



Infeksi ini sebenarnya cukup berbahaya, karena janin Anda bisa ikut-ikutan jadi “korban”. Sejauh mana vaksinasi bisa membantu?

Penyakit tetanus adalah infeksi berbahaya yang mempengaruhi sistem urat saraf dan otot. Dan ternyata, luka menjadi media “ideal” masuknya kuman penyakit tetanus.

Sebenarnya, apa penyebab infeksi ini?

Biang keladinya adalah bakteri Klostridium tetani yang memproduksi racun (toksin), yakni tetanospamin . Toksin ini lalu menempel pada saraf di area luka, kemudian dibawa oleh darah ke sistem saraf otak dan saraf tulang belakang. Akibatnya, terjadi gangguan pada aktivitas urat saraf.

Lewat luka apa bakteri akan masuk?

Luka apa pun. Misalnya, luka tusuk atau luka sayat yang dalam, luka bakar, luka garuk, dan sebagainya.

Berapa lama masa inkubasinya?

Masa inkubasi atau masa dari saat penyebab penyakit masuk di tubuh (saat penularan) sampai ke timbulnya penyakit ini cukup bervariasi. Meski begitu, umumnya akan berlangsung 3–21 hari.
Adakah gejalanya?

Ada . Biasanya diawali dengan kejang otot rahang (kejang mulut), timbul pembengkakan, rasa sakit dan kaku di otot leher, bahu atau punggung. Setelah itu, otot perut, lengan atas, dan paha mengejang. Menelan pun jadi susah.

Apa akibatnya bagi ibu hamil?

Toksin yang dihasilkan kuman tetanus akan menyebabkan muka, leher dan tengkuknya kaku. Pada kehamilan muda, bisa saja ia mengalami keguguran.

Adakah efeknya terhadap janin?

Ada. Tumbuh kembang janin bisa tergangggu karena suplai nutrisi dan proses masuknya oksigen ke janin terganggu akibat dinding perut ibu kaku seperti papan. Selain itu, janin bisa juga tertular infeksi.

Tindakan apa yang harus dilakukan?

Untuk mengatasi kejang, ibu hamil akan dirawat di rumah sakit dalam ruang yang tenang, menghindari rangsangan, makan dan minum secukupnya, serta diobati infeksi sekundernya. Bisa jadi, daya tahan tubuhnya yang lemah membuatnya terserang infeksi lain, seperti radang paru. Kalau ini yang terjadi, radang paru juga harus diobati.

Perlukah ibu hamil divaksinasi TT?

Perlu, untuk tindakan pencegahan. Vaksinasi TT ( Tetanus Toxoid) dapat dilakukan pada kunjungan pertama pemeriksaan kehamilan. Setelah itu, dilanjutkan empat minggu kemudian.

Bukankah vaksin TT sudah pernah diberikan ketika kecil?

Walau telah mendapat vaksinasi lengkap, setelah lebih dari 10 tahun, sebaiknya seorang wanita mendapatkan vaksinasi tambahan.
Adakah efeknya terhadap janin bila vaksinasi diberikan saat hamil?

Tidak ada! Vaksinasi aktif (pemberian vaksinasi lagi) justru akan merangsang pembentukan antibodi yang akan melewati plasenta sampai ke bayi. Jadi, meski ada luka, ia tetap bisa terhindar dari infeksi tetanus.

Laila Andaryani Hadis
Konsultasi ilmiah: dr. I.P.G. Kayika, Sp.OG, Subbagian Ginekologi Sosial, Bagian Obstetri dan Ginekologi, FKUI RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Kenapa Virus Toksoplasma Berbahaya ?

Wanita hamil yang terinfekasi virus toksoplasma bisa mengalami keguguran, melahirkan bayi cacat, premature, serta meninggal. Penularan virus ini bisa melalui daging yang kurang matang atau bisa pula melalui kotoran kusing. Ibu hamil yang terinfeksi virus ini biasanya tidak merasakan gejala apapun. Kalaupun ada, hanya . berupa demam biasa dan pembesaran kelenjar getah bening.

Tapi, adanya virus ini pada wanita yang tidak hamil justru membuat wanita itu kebal dan janinnya aman-aman saja jika ia kelak hamil. Kendati begitu lebih baik jalani pemeriksaan untuk mendeteksi ada tidaknya penyakit akibat virus ini. Untuk pencegahan, cucilah tangan sesudah memegang kucing dan hindari makanan yang belum matang benar.


sumber: Lisa Nomor 23/tahun II/11-17 Juni 2001-06-14

Awas Komplikasi Flu!



Komplikasi influenza dapat berdampak buruk bagi ibu maupun janin. Itu sebabnya, sebisa mungkin perkecil risiko tertular penyakit ini.

Influenza, atau lebih dikenal dengan flu, adalah infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus. Penyakit ini menular dan dapat menyebabkan terjadinya komplikasi alias penyakit baru yang timbul yang dapat berakibat fatal.

Apa saja gejalanya?

Virus flu banyak jenisnya, sehingga influenza bisa muncul dalam berbagai bentuk. Namun, gejala utamanya adalah demam (sekitar 38-40 derajat Celcius), sakit kepala, tubuh terasa sangat lemah, batuk, hidung tersumbat atau hidung berair, sakit tenggorokan, serta nyeri otot. Pada beberapa orang, timbul juga gejala lain seperti mual, muntah, dan diare.

Berapa lama masa inkubasinya?

Masa inkubasi, yakni masa antara infeksi sampai timbulnya gejala, antara satu sampai tiga hari.

Bagaimana cara penularannya?

Virus flu biasanya ada dalam cairan hidung atau mulut penderita. Bila Anda batuk, bersin atau bicara, virus akan menyebar ke udara, lalu dapat terisap oleh orang di sekitar Anda.

Anda juga bisa tertular bila menyentuh benda yang terinfeksi, karena ada cairan yang mengandung virus flu, seperti pegangan pintu, dinding atau telepon, lalu memegang hidung atau mulut.

Apakah flu berdampak buruk bagi ibu hamil?

Ya. Ibu hamil yang tertular flu berisiko lebih besar untuk mengalami komplikasi, seperti pneumonia (radang paru). Hal ini antara lain karena kehamilan dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh, khususnya yang menyangkut organ jantung dan paru.

Apa pula dampaknya pada janin?

Dari beberapa penelitian terbukti adanya risiko kecil timbulnya cacat bawaan, yakni spina bifida (adanya celah pada tulang belakang karena lengkung beberapa ruas tulang belakang tidak merapat sambungannya), bila Anda mengalami demam tinggi selama lebih dari 24 jam, dan terjadi antara awal minggu ke-3 sampai akhir minggu ke-4 setelah konsepsi (pembuahan).

Apa yang harus dilakukan bila tertular flu?

Bila tidak terjadi komplikasi seperti halnya penyakit lain yang disebabkan oleh virus, sebenarnya flu bisa sembuh dengan sendirinya. Namun, Anda sebaiknya menghubungi dokter bila merasa tertular flu, terutama bila gejala tidak reda dalam 2-3 hari. Selain itu, penuhilah kebutuhan tubuh akan istirahat, serta konsumsi cairan dan vitamin sesuai anjuran dokter.

Bagaimana cara mencegah penyebaran virus flu?

Selain menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh, beberapa langkah berikut dapat membantu mencegah Anda atau orang lain di sekitar Anda tertular flu.

- Hindari kontak atau jaga jarak dengan orang yang sedang flu.
- Jaga kebersihan tangan sehingga Anda terlindung dari infeksi berbagai kuman penyakit.
- Jangan menyentuh mata, hidung dan/atau mulut, terutama bila tangan Anda kotor.
- Tinggallah di rumah saat sakit. Bila perlu, mintalah surat istirahat pada dokter.
- Tutup mulut dan hidung dengan tisu ketika batuk atau bersin.

Apakah ibu hamil perlu mendapat vaksin influenza?

Ibu hamil yang berisiko tinggi mengalami komplikasi influenza disarankan untuk diberikan vaksin, tanpa melihat usia kehamilannya, sebelum tiba musim flu. Namun demikian, untuk menghindari efek samping yang mungkin timbul, seperti sakit kepala, demam ringan atau rasa tidak enak badan ( malaise ), sebaiknya Anda berkonsultasi dulu dengan dokter.

Sedangkan ibu yang tidak berisiko mengalami komplikasi influenza, bila ingin divaksinasi, sebaiknya ketika usia kehamilannya di atas trimester pertama (mengingat besarnya risiko terjadinya keguguran pada trimester ini). Yang pasti, vaksin ini aman untuk diberikan pada ibu hamil.

Januari ini dilaporkan 18 orang meninggal (sebagian besar anak-anak) karena wabah flu burung . Gejala flu yang virusnya hidup dalam saluran pencernaan unggas ini sama dengan flu biasa, namun kondisi si korban kemudian akan menurun drastis. Hingga kini belum ada laporan kasus flu burung di Indonesia, namun kita tetap harus waspada, yakni dengan memutus mata rantai penularan virus dari binatang unggas ke manusia.
source : www.ayahbunda-online.com

HIV dan malaria kronis pada kehamilan meningkatkan risiko tetanus pada ibu dan bayi

Oleh: C. Vidyashankar, MD, Reuters Health

Infeksi HIV dan malaria kronis selama kehamilan mengakibatkan penurunan antibodi antitetanus pada ibu dan janin. Akibatnya adalah peningkatan risiko tetanus. Hal ini berdasarkan hasil penelitian dari Kenya.

Dr. Felicity Cutts di London School of Hygiene dan Tropical Medicine dan tim dari Inggris dan Kenya menganalisis titer antibodi antibody memakai tes ELISA pada 704 ibu dan serta pada darah di tali plasenta bayi yang baru dilahirkan.

Riwayat vaksinasi tetanus sebelumnya dan status HIV ibu ditentukan, dan biopsi plasenta terhadap malaria juga dilakukan.

Infeksi HIV terdeteksi pada 12 persen perempuan, malaria plasenta pada 44 persen, dan 7 persen adalah positif terhadap keduanya, para peneliti melaporkan. Empat puluh empat (6 persen) perempuan belum pernah divaksinasi terhadap tetanus selama kehamilan.

Di antara pasangan ibu-bayi, 5,3 persen ibu dan 7,8 persen bayi yang baru lahir adalah seronegatif terhadap tetanus, para peneliti melaporkan dalam Journal of Infectious Diseases edisi 15Agustus 2007. Tidak divaksinasi tetanus, infeksi HIV, malaria plasenta, malnutrisi, usia yang lebih muda dan parity (jumlah kali ibu melahirkan janin dengan usia 24 minggu atau lebih) yang lebih rendah dikaitkan dengan peningkatan odds secara bermakna terhadap status tetanus negatif dalam darah ibu, para peneliti menemukan.

Titer antibodi tetanus rata-rata yang disesuaikan secara geometri adalah kira-kira 50 persen lebih rendah di antara bayi yang dilahirkan dari ibu yang HIV-positif dan di antara bayi yang ibunya mempunyai malaria plasenta aktif-kronis atau pernah, para peneliti melaporkan. Bayi yang lahir dari ibu yang tidak divaksinasi dan yang terlahir prematur juga mempunyai tingkat antibodi tetanus yang lebih rendah, para peneliti menambahkan.

Sementara infeksi HIV mengakibatkan penekanan kekebalan dan tingkat antibodi yang lebih rendah, malaria plasenta menurunkan penyebaran antibodi pelindung melalui plasenta, para peneliti menduga.

Skrining terhadap antibodi tetanus secara rutin pada ibu yang HIV-positif atau ibu dengan malaria kronis tidak disarankan, Dr. William Moss dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health dan penulis tajuk rencana terkait mengatakan pada Reuters Health.

“Sumber daya lebih baik diberikan untuk memastikan bahwa semua ibu dalam usia subur divaksinasi secara tepat melalui pemberian toksoid tetanus secara rutin sebanyak lima kali untuk seumur hidup dan melalui kampanye vaksinasi secara massal,” Dr. Moss menyarankan.

Pengobatan pencegahan malaria berselang selama kehamilan pada perempuan HIV-positif

Oleh: Keith Alcorn, aidsmap.com

Pengobatan pencegahan berselang setiap bulan selama kehamilan (monthly intermittent preventive treatment during pregnancy/IPTp) dengan sulfadoksin-pirimetamin (SP) adalah sebanding dengan dua dosis SP IPTp sebagai pengobatan pencegahan baku untuk melindungi perempuan HIV-positif terhadap malaria di Zambia. Hal ini berdasarkan temuan penelitian yang diterbitkaan dalam Journal of Infectious Diseases edisi 1 Desember 2007.

Tetapi, IPTp dua dosis berisiko kekurangan dosis pada beberapa perempuan yang hanya menerima dosis tunggal sehingga berdampak buruk pada kehamilan. Hal ini berdasarkan tajuk rencana bersama yang ditulis oleh penulis laporan dalam jurnal yang sama.

Kurang lebih 12 juta perempuan hamil di Afrika sub-Sahara akan terserang malaria pada 2007. Dampak buruk kehamilan yang berpengaruh pada malaria plasenta termasuk anemia, bayi lahir meninggal, keguguran, aborsi, bayi lahir dengan berat badan rendah (low birth weight/LBW), dan kematian ibu. Bayi LBW rentan terhadap banyak penyakit anak.

Masalah kesehatan masyarakat ini bertambah dengan koinfeksi malaria dan HIV yang umum di banyak negara Afrika sub-Sahara. Perempuan hamil yang HIV-positif lebih rentan terserang malaria dibandingkan dengan perempuan hamil yang HIV-negatif. Di sisi lain serangan malaria meningkatkan viral load dan risiko penularan HIV dari ibu-ke-bayi.

IPTp adalah intervensi yang efektif untuk mengurangi infeksi plasenta, anemia pada ibu, dan LBW pada perempuan HIV-negatif. Tetapi, belum ada panduan yang jelas tentang frekuensi dosis SP yang terbaik untuk perempuan hamil yang HIV-positif yang belum memakai profilaksis kotrimoksazol.

Dua penelitian di Kenya dan Malawi sebelumnya menunjukkan bahwa IPTp sebulan sekali lebih efektif dibandingkan dua dosis IPTp pada perempuan hamil yang terinfeksi HIV dan yang HIV-negatif. Temuan ini harus dikonfirmasi dengan rangkaian lain di Afrika dengan malaria tingkat penularan yang berbeda.

Untuk menangani masalah ini, tim peneliti dari Zambia dan AS membandingkan IPTp bulanan dan dua dosis IPTp di wilayah dengan tingkat penularan malaria rendah. Penelitian ini dilakukan antara Januari 2003 dan Oktober 2004 di tiga klinik distrik di Ndola, Zambia. Tingkat kegagalan pengobatan malaria dengan SP meningkat lebih dari 2,5 kali lipat selama periode ini.

Peserta penelitian semuanya adalah perempuan hamil yang HIV-positif dengan usia kehamilan antara 16 dan 28 minggu. Setelah melakukan tes dan konseling secara sukarela (voluntary counseling and testing/VCT), perempuan HIV-positif diberi nevirapine (NVP) dan dilibatkan dalam penelitian. Penelitian ini adalah penelitian IPTp secara acak, double-blind, plasebo terkontrol dan dibandingkan dengan rejimen baku dua dosis SP dengan IPTp bulanan pada perempuan hamil yang HIV-positif di Zambia. Informasi demografi pada awal dikumpulkan dan contoh darah diambil untuk menentukan Hb serta mikroskopi malaria.

Para ibu diobati terhadap cacingan dan diberi suplemen zat besi dan folat setiap bulan. SP IPTp diberikan di bawah pengawasan langsung sampai kandungan berusia 36 minggu. Pada kunjungan tindak lanjut setiap bulan, para ibu mengisi angket dan melakukan peremiksaan kandungan serta tes laboratorium untuk anemia dan malaria.

Pada waktu melahirkan, tingkat Hb ibu dan bayi ditentukan, darah ari-ari, plasenta dan perifer ibu diambil untuk pemeriksaan malaria dengan mikroskopi, dan biopsi plasenta dilakukan untuk histologi. Berat bayi diukur dan usia kandungan diperkirakan. Satu dan enam minggu setelah kelahiran, ibu dan bayi kembali untuk pemeriksaan klinis.

Dari 456 perempuan HIV-positif yang terdaftar, 224 menerima IPTp bulanan dan 232 menerima dua dosis IPTp yang baku. Demografi pada awal dan ciri-ciri klinis, pemakaian kelambu berinsektisida, pengobatan antimalaria terakhir, dan parasitemia perifer adalah sebanding di antara kedua kelompok pengobatan.

Tidak ada perbedaan antara IPTp bulanan dan dua dosis IPTp yang baku terhadap malaria di plasenta berdasarkan histopatologi (26% banding 29%; risiko relatif [RR], 0,90) atau parasitemia plasenta (2% banding 4%; RR, 0,55). Juga tidak ada perbedaan pada anemia pada ibu, bayi lahir meninggal, kelahiran prematur, LBW, atau kematian bayi pada usia enam minggu karena sebab apapun.

Perempuan dalam kelompok IPTp bulanan rata-rata menerima empat dosis SP dan hanya satu persen menerima satu dosis. Sebaliknya, 16 % perempuan dalam kelompok dua dosis IPTp menerima satu dosis SP. Hasil pada ibu dan kelahiran dibandingkan antara perempuan yang menerima dosis tunggal dan yang menerima dua hingga empat dosis atau lebih. SP dosis tunggal secara bermakna berhubungan dengan risiko yang lebih tinggi terhadap anemia pada ibu, parasitemia perifer dan tali plasenta, bayi prematur serta LBW.

Sebagai kesimpulan, penelitian di Zambia menunjukkan bahwa di daerah penularan malaria rendah, SP IPTp bulanan adalah sebanding dengan rejimen dua dosis yang baku untuk pencegahan malaria plasenta atau dampak buruk kelahiran. Tetapi risiko kekurangan dosis meningkat secara bermakna pada rejimen dua dosis.

Temuan ini mendukung penelitian sebelumnya di Kenya dan Malawi tentang manfaat SP IPTp pada perempuan Afrika yang hamil yang HIV-positif. Mereka juga menunjukkan dampak dosis SP secara bermakna dan meremehkan keampuhan pengobatan SP dosis tunggal.

Dampak temuan ini terhadap kebijakan adalah bahwa SP IPTp bulanan tetap menjadi pilihan yang lebih baik untuk mengendalikan malaria pada perempuan hamil yang HIV-positif karena mereka lebih mungkin menerima lebih dari satu dosis SP. Tetapi, semangat tentang SP IPTp secara umum harus disikapi secara hati-hati.

Ada keprihatinan tentang kemungkinan toksisitas sulfonamida. Walaupun dalam penelitian di Zambia ini tingkat peristiwa dampak buruknya rendah, serupa pada kedua kelompok pengobatan, ada satu kasus penyakit kuning setelah lahir dan satu kasus sindrom Stevens-Johnson (SJS) yang mematikan. Karena risiko SJS meningkat secara tidak proporsional pada peserta yang terinfeksi HIV, SP IPTp pada peserta ini adalah berisiko walaupun sejauh ini kejadian toksisitas yang dilaporkan akibat SP IPTp adalah rendah.

Resistansi terhadap SP juga meningkat di banyak negara di Afrika dan pedoman IPTp berbasis SP akan segera tidak berlaku lagi di banyak negara. Tajuk rencana bersama menyarankan bahwa alternatif IPTp sebagai kombinasi obat antimalaria sebaiknya ditinjau kembali terkaitan dengan penggunaan kelambu berinsektisida karena kelambu berinsektisida adalah unsur pelengkap terhadap pengendalian malaria pada perempuan hamil. Uji coba ini sedang dilakukan di Afrika.

Dampak malaria pada perempuan hamil, Odha di Mozambik

Oleh: GlobalHealthReporting.org

IRIN/PlusNews menyelidiki dampak malaria pada perempuan hamil dan Odha di Mozambik. Di negara endemik malaria contohnya Mozambik, sebagian orang dapat “secara perlahan-lahan meningkatkan” kekebalan terhadap malaria. Tetapi, kekebalan menghilang pada perempuan hamil dan Odha, dan hal ini meningkatkan kerentanan mereka terhadap penyakit tersebut. Mozambik yang berpenduduk 19,8 juta orang, memiliki prevalensi HIV kurang lebih 16%. Prevalensi malaria di antara perempuan hamil kurang lebih 20%, berdasarkan data dari National Malaria Control Program.

Pemberian kelambu berinsektisida (ITN), khususnya kepada perempuan hamil, adalah salah satu strategi utama untuk memerangi malaria di Mozambik. Selama tiga tahun terakhir, Malaria Consortium dan Palang Merah Mozambik sudah menyebabkan lebih dari 700.000 ITN di beberapa wilayah di negara tersebut. Sebagai tambahan kebijakan departemen kesehatan mewajibkan perempuan hamil mulai dari usia kandungan 20 minggu untuk memakai pengobatan pencegahan yang mengandung sejumlah pil profilaksis secara berselang yang mampu mengurangi risiko berpenyakit malaria.

Palang Merah Mozambik juga sudah melatih petugas kesehatan di seluruh negeri agar memberi perhatian khusus terhadap kasus malaria pada pasien Odha. Odha adalah lebih mungkin berpenyakit malaria apabila mereka sudah mengembangkan AIDS. Armindo Tiago Junior dari Fakultas Kedokteran Eduardo Mondlane mengatakan bahwa orang dengan malaria biasanya dirawat inap di rumah sakit selama rata-rata tiga hari, tetapi masa rawat inap ini meningkat menjadi satu minggu pada orang dengan AIDS.

Viral load selama kehamilan: kian rendah kian baik

Oleh: aidmeds.com

Viral load tidak terdeteksi, terus memakai ART selama kehamilan dan persalinan setelah masa kehamilan terpenuhi dikaitkan dengan risiko terendah terhadap penularan HIV dari ibu-ke-bayi. Hal ini berdasarkan data baru dari ANRS French Perinatal Cohort yang diterbitkan dalam jurnal AIDS edisi 11 Januari 2008.

Penelitian ini, dilakukan oleh Josiane Warzawski, MD dan rekan dari Institut National de la Sante et de la Recherche Medicale (INSERM), mendaftarkan 5.271 pasangan ibu dan bayi yang dilahirkan di seluruh Prancis antara 1997 dan 2004. Sejumlah 67 (1,3 persen) bayi yang lahir dari ibu yang HIV-positif, terinfeksi HIV.

Viral load pada saat kelahiran ditemukan sebagai risiko utama terhadap penularan. Di antara 364 perempuan yang melahirkan dengan viral load di atas 10.000, tingkat penularan adalah 6,6 persen, dibandingkan dengan 0,6 persen di antara 2.856 ibu yang melahirkan dengan viral load di bawah 400. Tingkat penularan di antara ibu dengan viral load kurang dari 50 pada saat melahirkan adalah 0,4 persen.

Faktor kunci lain adalah masa penggunaan ART selama kehamilan. Tidak ada penularan pada perempuan yang tetap memakai ART sejak kehamilan hingga melahirkan. Di antara perempuan hamil yang HIV-positif yang memulai pengobatan sejak triwulan pertama atau kedua, tingkat penularan adalah kurang lebih satu persen. Dan di antara mereka yang memulai pada triwulan ketiga, tingkat penularan adalah 3,6 persen. Penulis mencatat bahwa lima ibu yang menularkan HIV dengan viral load di bawah 50 pada saat melahirkan terlambat memakai ART waktu hamil, antara minggu ke-32 dan 33.

Bayi yang lahir prematur juga lebih berisiko terhadap penularan. Berdasarkan laporan INSERM, tingkat penularan adalah enam kali lebih tinggi pada bayi yang lahir sebelum 33 minggu (6,6 persen) dibandingkan bayi yang lahir setelah masa kehamilan terpenuhi (satu persen).

Kelompok Dr. Warzawski menyimpulkan bahwa “cara yang paling efektif untuk mendapatkan pengendalian replikasi virus adalah memakai terapi kombinasi obat tiga jenis. Lebih lanjut, temuan kami berpendapat kuat bahwa ART harus dimulai cukup dini, paling lambat pada minggu ke-28, untuk mencapai kemanjuran yang maksimal.”