Tampilkan postingan dengan label Operasi Caecar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Operasi Caecar. Tampilkan semua postingan

Bedah Caesar? Jangan Buru-buru Deh...


Saat ini terjadi kecenderungan bedah Caesar dilakukan tanpa indikasi medis, namun seringkali didasarkan faktor sosial dan pemahaman yang salah.
KEMAJUAN di bidang teknologi kedokteran khususnya dalam metode persalinan jelas membawa manfaat besar bagi keselamatan ibu dan bayi.  Ditemukannya bedah caesar memang dapat mempermudah proses persalinan sehingga banyak ibu hamil yang lebih senang memilih jalan ini walaupun  sebenarnya mereka bisa melahirkan secara normal.

Menurut keterangan Dr. Andon Hestiantoro SpOG(K) dari Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI/RSCM, meskipun relatif aman, menjalani persalinan dengan metode bedah caesar tentu bukannya tanpa risiko.

"Riset para ahli menyebutkan, persalinan dengan bedah Caesar terkait dengan kematian ibu 3 kali lebih besar dibandingkan dengan persalinan normal. Angka kematian langsung akibat persalinan caesar pun mencapai sekitar 5.8 per 100.000 persalinan," ungkapnya dalam sebuah talkshow di Jakarta.

Prevalensi persalinan caesar di rumah sakit pemerintah Indonesia, kata Dr Andon adalah sekitar 11-15% dan di rumah sakit swasta saat ini dapat mencapai 30-40%.  Tingginya prevalensi ini tentu dipengaruhi banyak faktor termasuk indikasi medis yang mewajibkan sang ibu menjalani persalinan dengan bedah Caesar.

Namun begitu, kata Dr Andon, saat ini juga terjadi kecenderungan lain untuk indikasi persalinan dengan bedah Caesar.  Indikasi tersebut seringkali tidak berdasarkan pertimbangan medis, namun lebih karena faktor sosial dan pemahaman yang salah tentang bedah caesar.

Faktor sosial yang mempengaruhi di antaranya adalah kecemasan suami yang berlebihan dan menganggap istrinya tidak sanggup melahirkan normal. Selain itu kehawatiran vagina istri menjadi longgar, riwayat infertilitas dan alasan memilih waktu dan tanggal kelahiran.

"Bahkan yang lebih parah, kini banyak rumah sakit swasta yang merekomendasikan ibu hamil untuk caesar dengan alasan supaya tidak merasa sakit atau supaya suami tetap lengket karena vaginanya tidak akan longgar," ungkap Dr Andon.

Supaya terhindar dari kemungkinan bedah caesar, Dr Andon menganjurkan para ibu hamil untuk memperhatikan beberapa hal seperti konsumsi makanan bergizi tinggi, menghindari kelebihan berat badan, gaya hidup aktif, olahraga serta meminta pendapat dokter lain bila harus caesar.

"Dengan berat badan ibu yang ideal, bayi dalam kandungan tidak akan terlampau besar.  Olahraga yang teratur jug akan  menguntungkan posisi bayi menjelang kelahiran. Sedangkan bila sudah divonis harus caesar oleh dokter, tetapi Anda merasa masih mampu melahirkan normal cobalah untuk meminta second opinion dari dokter lain," tandas Dr Andon.

5 Pemahaman ibu hamil yang salah soal bedah caesar :
1 .Lebih nyaman melahirkan dengan bedah caesar karena tidak sakit
2 Melahirkan caesar lebih aman dibandingkan dengan persalinan normal
3 Melahirkan caesar bayi lebih pintar
4 Khawatir untuk dilakukan vakum atau forseps pada persalinan normal
5 Khawatir kepala bayi terjepit saat persalinan normal

Peningkatan risiko ibu dengan bedah caesar dibandingkan persalinan normal :
1.  5 kali lebih besar untuk mengalami henti jantung
2.  3 kali lebih besar untuk dilakukan pengangkatan rahim (histerektomi)
3.  3 kali lebih besar untuk mengalami infeksi masa nifas
4.  2.3 kali lebih besar untuk mengalami komplikasi anestesi
5.  2.2 kali lebih besar untuk mengalami sumbatan pembuluh darah
6.  2.1 kali lebih besar untuk mengalami perdarahan banyak yang seringkali berakhir dengan pengangkatan rahim
7.  1.5 kali lebih besar untuk lebih lama dirawat di rumah sakit

AC/kmps

Bersenang-senang Dulu, Bersakit-sakit Kemudian?



Akhir-akhir ini, operasi caesar menjadi tren, karena dinilai lebih praktis dan tidak terlalu menyakitkan. Bahkan, para dokter kerap menyodorkan opsi ini. Anda harus tahu, operasi caesar bukannya tanpa komplikasi.

Kita tidak dapat menutup mata melihat adanya kecenderungan terus meningkatnya jumlah ‘peserta’ operasi caesar. Menurut Dra. Yati Utoyo Lubis, Ph.D, staf pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, “Ironisnya, si pasien itu sendiri diduga memilih operasi caesar yang tak seharusnya (tanpa indikasi kesehatan atau medis) karena sosialisasi yang keliru.”

Memang, menurut WHO (Badan Kesehatan Dunia), standar rata-rata operasi caesar di sebuah negara adalah sekitar 5–15%. “Di Indonesia sendiri, persentase operasi caesar sekitar 5%. Di rumah sakit pemerintah rata-rata 11%, sementara di rumah sakit swasta bisa lebih dari 30%,” ujar Prof. dr. Gulardi Wiknyosastro, Sp.OG, Guru Besar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. .

Kecenderungan peningkatan jumlah pasien yang menjalani operasi caesar di rumah sakit swasta ini sempat mengkhawatirkan para dokter yang patuh pada kode etik kedokteran. Bukan saja di Indonesia, tapi juga di Amerika.

Tonya Jamois , Ketua International Caesarean Awareness Network (ICAN - Jaringan Masyarakat Internasional Peduli Caesar) mengatakan, “ American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG - Perkumpulan Ahli Obstetrik dan Ginekologi di Amerika) telah memberikan peraturan untuk para anggotanya, yakni untuk sebuah operasi caesar, mereka harus menunjukkan pada pasien bukan saja prosedur operasi, tapi juga harus menjelaskan bahwa operasi caesar lebih berisiko untuk ibu dan bayinya dibandingkan dengan persalinan normal.”

Harus diakui, banyak wanita yang merasa khawatir harus menjalani persalinan normal hanya karena sering mendengar cerita orang lain mengenai rasa sakit yang akan dialaminya pada proses persalinan normal. Padahal, di ujung cerita, biasanya orang tersebut mengatakan merasa lega dan bahagia begitu buah hatinya lahir. Rasa sakit yang mendera sebelumnya hampir-hampir tidak terasa lagi.

Selain itu, ada bagian cerita yang sering ‘tertangkap’ oleh para wanita tadi, yakni persalinan dengan operasi caesar konon bisa lebih cepat dan proses persalinan bisa tetap diikuti oleh si pasien.

“Mereka lalu menangkap bagian yang menyenangkan dari cerita ini tanpa disertai pengetahuan mengenai rasa sakit yang lama setelah operasi, berbagai risiko yang dapat timbul akibat operasi, maupun proses pemulihan pascaoperasi yang lama. Dengan sosialisasi ‘keliru’ semacam itu, ditambah dengan semakin banyaknya wanita muda yang menjalani operasi caesar, maka seolah-olah operasi menjadi sebuah jalan keluar bagi kekhawatiran mereka,” lanjut Yati .

Padahal, menurut dr. Marius Widjajarta, SE , Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI), “Operasi caesar boleh dilakukan asal ada indikasi medis.”

Repotnya, kini, makin banyak pilihan dan juga tawaran yang menyebabkan meningkatnya operasi caesar yang justru tidak perlu.

Sekali caesar tetap caesar?

Meningkatnya jumlah pasien yang menjalani operasi caesar antara lain juga karena pendapat yang menyatakan, bahwa sekali operasi caesar tetap operasi caesar. Artinya, bila mereka menjalani operasi casear sebelumnya, maka persalinan berikutnya mau tidak mau harus caesar lagi. Tidak ada pilihan lain.

“Padahal, dengan sayatan sejajar dengan garis perut dan kondisi kehamilan setelahnya yang baik, persalinan berikutnya tak selalu harus melalui operasi. Juga, mungkin saja pada persalinan pertama terjadi plasenta previa atau terjadi persalinan macet, sementara pada kehamilan kedua kondisinya baik-baik saja sehingga persalinan normal bisa dilakukan,” ujar Prof. Gulardi

Repotnya, ada pula wanita yang minta melahirkan dengan operasi caesar hanya karena ingin memilih tanggal atau waktu persalinan. Kalau keadaannya begini, Prof. Gulardi yang juga mantan Ketua Pengurus Besar Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia menandaskan sekali lagi, “Bila tidak ada keadaan gawat dan indikasi untuk operasi, maka tindakan operasi tidak sesuai dengan kode etik kedokteran. Dokter juga seharusnya memberikan penjelasan pada pasien mengenai risiko operasi caesar yang lebih tinggi dibandingkan dengan persalinan normal.“

Nah, salah satu penangkal agar tidak mudah memilih operasi caesar adalah dengan memiliki pengetahuan cukup banyak mengenai operasi itu sendiri.

Ada andil rumah sakit juga

Sekilas, tampaknya si pasien itu sendiri yang menjadi ‘biang keladi’ naiknya jumlah angka operasi caesar tanpa indikasi medis. Padahal, pihak rumah sakit juga punya andil. Iming-iming yang ditawarkan oleh pihak rumah sakit seringkali sulit ditampik.

“Bahkan, ada yang melaporkan pada kami, bahwa ada paket yang menawarkan operasi caesar sekalian operasi usus buntu. Padahal, menurut kode etik kedokteran, kedua operasi tersebut tak perlu dilakukan, apalagi sekaligus, jika tak ada indikasi kesehatan,” kata dr. Marius W.

Belum lagi, disinyalir ada pihak rumah sakit yang seakan-akan menggiring pasien untuk ‘memilih’ operasi caesar ketimbang persalinan normal. Misalnya, dengan menyatakan bahwa janin terlilit tali pusat (biasanya dengan menunjukkan hasil USG atau ultrasonografi). Nah, pasien yang tak punya pengetahuan kesehatan sama sekali biasanya akan menuruti tawaran dokternya untuk operasi. “Padahal, lilitan tali pusat tak selalu harus dioperasi,” tutur Prof. Gulardi W.

Sehubungan dengan ini, Prof. Gulardi menambahkan, “Jika ada indikasi untuk operasi pun, dokter harus menjelaskan mengenai penyakitnya, alternatif pengobatannya, serta apa alasan si ibu harus menjalani operasi.”

Pada kondisi tertentu, seperti plasenta previa (ari ari janin menutupi jalan lahir) atau ukuran panggul tak sesuai dengan besar bayi, indikasi operasi caesar memang perlu dan sudah bisa diperkirakan melalui pemeriksaan sebelumnya.

Sayangnya, banyak hal lain yang sebenarnya bukan indikasi medis untuk operasi, namun diarahkan seolah-olah sebuah indikasi operasi. “Keadaan seperti ini bisa terjadi karena di Indonesia belum ada standar pelayanan kesehatan yang jelas,” sambung dr. Marius W. Lalu, apa jalan ke luarnya?

Second Opinion

“Jika Anda menghadapi dokter yang bersikukuh agar Anda dioperasi dan Anda merasa tidak ada indikasi kuat untuk menjalani operasi tersebut, maka sebaiknya Anda mencari second opinion atau bahkan third opinion. Bandingkan pendapat antara dokter yang satu dengan yang lainnya. Lalu, bagaimana cara Anda memilih dokter-dokter yang tepat untuk dimintai pendapat lainnya? “Sebaiknya cari dokter dari rumah sakit yang berbeda. Bisa juga Anda pilih dokter dengan usia yang berbeda. Memang jumlah uang yang akan dikeluarkan dari kocek Anda cukup banyak. Tetapi, dibandingkan dengan risiko yang mungkin Anda hadapi, rasanya pengorbanan Anda itu sepadan,” jelasnya lagi.

Jadi, bila Anda ingin menjalani operasi caesar tanpa indikasi medis, tidak salahnya jika Anda menggali dulu pengalaman mereka yang pernah mengalami proses persalinan dengan operasi dan secara normal. Apalagi, persalinan normal lebih murah, lebih nyaman karena proses penyembuhannya lebih cepat, serta risikonya lebih kecil bagi ibu dan bayinya ketimbang operasi.

Operasi Caesar, Amankah?

Seorang perempuan dirujuk bidan ke rumah sakit dengan keterangan persalinannya macet. Dokter jaga yang memeriksa memutuskan operasi caesar karena posisi bayi tidak menguntungkan, sehingga persalinan tidak dapat berlangsung normal. Saat operasi terjadi perdarahan hebat. Bayi berhasil dilahirkan dengan selamat, namun ibunya harus mendapat perawatan intensif dan transfusi darah. Pada hari ke-7 perawatan pascaoperasi ibu meninggal karena komplikasi infeksi berat.

Pada kasus lain, seorang ibu hamil meminta dokter untuk dioperasi caesar karena ingin melahirkan pada hari baik yang telah ditentukan tanpa indikasi medis. Ternyata saat operasi, setelah bayi lahir terjadi keadaan henti jantung dan henti nafas pada sang ibu. Akhirnya ibu meninggal di meja operasi, penyebabnya mungkin adalah emboli air ketuban yang masuk dalam pembuluh darah ibu saat operasi.

Contoh-contoh di atas kadang terjadi di masyarakat. Saat ini operasi caesar menjadi tren karena berbagai alasan. Dalam dua puluh tahun terakhir, angka operasi caesar meningkat pesat. Semakin modern alat penunjang kesehatan, semakin baik obat-obatan terutama antibiotik, dan ting-ginya tuntutan terhadap dokter, menunjang meningkatnya angka operasi caesar di seluruh dunia.

Tidak banyak yang mempertanyakan, sebenarnya mana yang lebih aman antara persalinan normal atau per vaginam (melewati jalan lahir normal/vagina) dengan operasi caesar?

Susahnya permintaan ibu-ibu hamil melahirkan melalui operasi saja hanya karena tidak tahan sakit,permintaan suami, atau demi hari baik, sering diluluskan oleh dokter kebidanan. Padahal sebelum seseorang setuju atau meminta dilakukannya suatu operasi, sebaiknya pasien mengetahui untung-rugi,risiko, dan komplikasi yang mungkin terjadi saat dan pascaoperasi.

OPERASI caesar atau sering disebut seksio sesarea itu adalah melahirkan janin melalui sayatan dinding perut (abdomen) dan dinding rahim (uterus). Terminologi asli seksio sesarea sudah diperdebatkan sejak 200 tahun lalu. Salah satunya dikemukakan Rousset 1581 pada buku tentang persalinan dengan bedah caesar berjudul Trainte, Nouveau Day Lhysterotomotokie ou LEnfantement Cesarien. Ini diikuti Jacques Guillimeau yang menyebut tipe melahir-kan itu sections pada 1598. Kombinasi dari kedua istilah itulah yang kini dikenal sebagai cesarean section.

Seksio sesarea (operasi caesar) berkembang sejak akhir abad 19 sampai tiga dekade terakhir abad 20. Selama periode itu sudah terjadi penurunan angka kematian ibu dari 100 persen menjadi 2 persen. Selain itu ada tiga perkembangan penting dari tehnik operasi.

Pertama, perkembangan metode penjahitan rahim dengan benang untuk menghentikan perdarahan. Kedua,perkembangan dari cara tindakan yang aseptik dan ketiga perubahan dari insisi/sayatan pada rahim dari cara klasik menjadi sayatan melintang pada segmen bawah rahim (uterus).

Pada beberapa penelitian terlihat bahwa sebenarnya angka kesakitan dan kematian ibu pada tindakan operasi caesar lebih tinggi dibandingkan dengan persalinan per vaginam. Ini berdasar definisi kematian maternal/kematian ibu: kematian seorang ibu selama kehamilan dan atau dalam 42 hari setelah persalinan yang diakibatkan langsung atau tidak langsung oleh kehamilannya.

Angka kesakitan ibu/morbiditas adalah jumlah ibu yang menderita gangguan fungsi yang berhubungan langsung atau tidak langsung dengan kehamilannya atau persalinannya. Hal ini dapat dilihat pada data yang diambil dari beberapa penulis mengenai risiko mortalitas dan letalitas pada persalinan dengan operasi caesar dan persalinan per vaginam.

MENURUT Bensons dan Pernolls, angka kematian pada operasi caesar adalah 40-80 tiap 100.000 kelahiran hidup. Angka ini menunjukkan risiko 25 kali lebih besar dibanding persalinan per vaginam. Malahan untuk kasus karena infeksi mempunyai angka 80 kali lebih tinggi dibandingkan dengan persalinan per vaginam. Komplikasi tindakan anestesi sekitar 10 persen dari seluruh angka kematian ibu. Komplikasi lain yang dapat terjadi saat tindakan operasi caesar dengan frekuensi di atas 11 persen antara lain: cedera kandung kemih, cedera pada rahim, cedera pada pembuluh darah, cedera pada usus dan dapat pula cedera pada bayi.

Pada operasi caesar yang direncanakan angka komplikasinya kurang lebih 4,2 persen. Operasi caesar darurat berangka kurang lebih 19 persen.

Setiap tindakan operasi caesar punya tingkat kesulitan berbeda-beda. Pada operasi kasus persalinan macet dengan kedudukan kepala janin pada akhir jalan lahir misalnya, sering terjadi cedera pada rahim bagian bawah atau cedera pada kandung kemih (robek). Dapat juga pada kasus bekas operasi sebelumnya-dimana dapat ditemukan perlekatan organ dalam panggul-sering menyulitkan saat mengeluarkan bayi dan dapat pula menyebabkan cedera pada kandung kemih dan usus. Cedera ini tak jarang cukup berat.

Walau pun jarang tetapi fatal adalah komplikasi emboli air ketuban yang dapat terjadi selama tindakan operasi, yaitu masuknya cairan ketuban ke dalam pembuluh darah terbuka yang disebut sebagai embolus. Jika embolus mencapai pembuluh darah pada jantung, timbul gangguan pada jantung dan paru-paru dimana dapat terjadi henti jantung dan henti nafas secara tiba-tiba. Akibat-nya adalah kematian mendadak pada ibu.

Komplikasi lain yang dapat terjadi sesaat setelah operasi caesar adalah infeksi yang banyak disebut sebagai morbiditas pascaoperasi. Kurang lebih 90% dari morbiditas pascaoperasi disebabkan oleh infeksi (infeksi pada rahim/endometritis, alat-alat berkemih, usus, dan luka operasi).

Tanda-tanda infeksi antara lain demam tinggi, perut nyeri, kadang-kadang disertai lokia berbau, nyeri bila buang air kecil, luka operasi bernanah, luka operasi terbuka dan sepsis (infeksi yang sangat berat). Bila mencapai keadaan sepsis, risiko kematian ibu akan tinggi sekali.

Hal-hal yang memudahkan terjadinya (faktor predisposisi) komplikasi antara lain persalinan dengan ketuban pecah lama, ibu menderita anemia, hipertensi, sangat gemuk, gizi buruk, sudah menderita infeksi saat persalinan, dan dapat juga disebabkan oleh penyakit lain pada ibu seperti ibu penderita diabetes mellitus (sakit gula). Antibiotik profilaksis dapat menurunkan terjadinya risiko infeksi pada operasi.

FRIGOLETTO dkk 1980 melaporkan, di Boston Hospital for Women angka kematian ibunya nol pada 10.231 kasus. Tetapi mereka juga mengemukakan bahwa angka kematian dan kesakitan lebih tinggi pada persalinan dengan operasi caesar dibanding persalinan per vaginam, karena ada peningkatan risiko yang berhubungan dengan proses persalinan sampai pada keputusan dilakukan operasi caesar. Misalnya pada ibu yang dioperasi caesar karena eklampsia (keracunan kehamilan yang mengakibatkan kejang), risiko kematian akan tinggi karena risikonya meningkat, baik akibat kejang ataupun operasinya sendiri.

Kematian ibu akibat risiko operasi caesar itu sendiri menunjukkan angka 1 per 1.000 persalinan. Di Amerika Serikat pada tahun 1965 sampai dengan 1978 dilaporkan bahwa angka kematian ibu terjadi satu di antara 1.635 operasi (Petitti 1983), dan ditegaskan bahwa hanya setengah dari kematian tersebut benar-benar disebabkan langsung dari operasi caesar.

Sebagai contoh tahun 1988 Sachs melaporkan, penyebab langsung hanya 7 dari 27 kematian pada lebih dari 121.000 kasus operasi caesar yang dilakukan di Massachusetts tahun 1976-1984. Meskipun ada yang menyebutkan angka kematian ibu adalah 22 per 100.000 untuk seluruh kasus operasi caesar, untuk kematian langsung akibat operasi ini hanya 5,8 per 100.000 kasus.

Meskipun angka ini rendah, jika terjadi pada perempuan hamil yang sehat dan sebetulnya tidak memerlukan tindakan operasi akan menjadi hal yang ironis.

KEMATIAN atau kesakitan yang terjadi pada bayi baru lahir pada operasi Caesar, bergantung dari faktor-faktor yang mendasari alasan tindakan operasi. Memang pada beberapa daerah di Amerika Serikat terjadi penurunan angka kematian bayi akibat meningkatnya tindakan operasi di beberapa rumah sakit. Namun O‘Driscoll dan Foley (1983) menyebutkan, di Dublin terjadi penurunan angka kematian bayi baru lahir tanpa adanya kenaikan angka operasi Caesar. Memang ada pendapat bahwa trauma lahir jauh lebih kecil pada operasi caesar dibanding persalinan per vaginam, akan tetapi tetap harus diingat bahwa operasi caesar berisiko pada ibunya.

Jumlah operasi caesar telah meningkat tajam 20 tahun terakhir. Operasi ini kadang-kadang terlalu sering dilakukan sehingga para kritikus menyebutnya sebagai panacea (obat mujarab) praktek kebidanan.

Kembali yang perlu diingat adalah apakah risiko pada ibu dan bayi dengan operasi caesar sebanding dengan hasil yang didapat? Karena itu tantangan utama dari tindakan kebidanan adalah menjawab pertanyaan Williams ini. “Dapat-kah penurunan angka operasi caesar secara signifikan tercapai tanpa menaikkan angka kematian ibu dan bayi?”

Sumber :
Kompas
dr JM Seno Adjie SpOG
Staf Pengajar Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia RS Dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta

Hindari Cesar, Melahirkan Sebaiknya Dilakukan Alamiah

Sekarang seorang ibu bisa menentukan kelahiran bayinya. Misalnya memilih 17 Agustus, dengan catatan usia kehamilannya memenuhi syarat untuk melahirkan. Meski demikian para ahli tetap menganjurkan melahirkan itu sebaiknya secara alamiah.

Ibu-ibu muda sekarang banyak yang menyangka, dengan melahirkan melalui operasi cesar, kecantikan mereka akan terawat, lukanya akan cepat sembuh sehingga ia bisa cepat bergaul lagi dengan suaminya, dan tidak ada darah nifas yang keluar selama 40 hari. Padahal, dengan melalui operasi cesar, risiko yang dihadapinya lebih tinggi ketimbang melahirkan secara alamiah.

Demikian dikemukakan Dr Peunoh Dally, Guru Besar Hukum Islam di Fakultas Syariah IAIN (sekarang Universitas Islam Negeri) Jakarta. Walaupun tidak ada darah nifas, dan lukanya sembuh dalam waktu dua minggu, sebenarnya luka di bagian dalam itu belum sembuh benar. Nah, ini memerlukan waktu penyembuhan dua-tiga bulan. Luka luarnya mungkin cepat sembuh, dan ini bisa membuat suami ingin cepat menggauli, akibatnya, karena luka bagian dalam belum sembuh, si ibu bisa terkena infeksi.

Dalam waktu dua bulan pun guratan-guratan bekas jahitan operasi tidak bisa cepat hilang. Bekas-bekasnya masih akan tetap ada. Dilain pihak, waktu dua bulan menunggu kesembuhan juga bisa mendorong suaminya untuk mencari wanita lain guna menyalurkan kebutuhan biologis sang suami. Ini, tambah dosen hukum Islam di Pasca-sarjana UI itu, akhirnya menjerumuskan suami pada perbuatan yang dilarang agama.

Perlu diingat pula, dia yang melahirkan secara operasi, rahimnya diangkat. Dengan demikian, mereka akan sulit mendapatkan keturunan yang selanjutnya. Ini berarti, dia melawan kodrat Allah swt, karena mengubah bentuk ciptaannya.

Dalam agama, orang yang mencari-cari kesulitan bagi dirinya sendiri termasuk orang yang menganiaya diri dan ini dilarang oleh agama, hukumnya dosa walaupun tidak termasuk dosa besar. Operasi cesar yang dilakukan bukan karena untuk mencari keselamatan kesehatan, tapi semata-mata karena kecantikan, bila yang bersangkutan meninggal dalam proses operasi itu, maka hukumnya ia termasuk orang yang bunuh diri.

Operasi cesar dalam agama boleh-boleh saja sejauh itu karena pertimbangan medis. Barangkali jika melahirkan secara alamiah bisa membahayakan keselamatan ibu dan anaknya. Mungkin sang ibu tenaganya tidak kuat untuk menekan supaya anak keluar, atau karena sang bayi ukurannya terlalu besar. Jadi, operasi itu dilakukan sebagai jalan keluar dari bahaya.

Tapi kalau tidak ada alasan darurat, sebaiknya melahirkan itu melalui cara alamiah, karena di balik segala kesusahan mengandung, melahirkan dan menyusui itu, Allah swt akan memberi hikmah kepada sang ibu. Mungkin sang ibu akan menjadi lebih sungguh-sungguh dalam mendidik anaknya, karena merasakan susahnya melahirkan.

Di balik itu, Allah swt juga menjanjikan pahala yang besar bagi para ibu yang berjuang dalam melahirkan. Jika ia meninggal dalam proses melahirkan itu, maka nilai sama dengan jihad. Setara dengan ibu-ibu yang meninggal saat menunaikan ibadah haji.

Menggantungkan teknologi
Lain lagi dengan pendapat Dra Joy Ramedhan dari salah satu biro konsultasi. Ibu-ibu sekarang, katanya, banyak yang cenderung memilih melahirkan dengan operasi cesar ketimbang secara alamiah.

Alasannya karena ibu-ibu sekarang lebih punya perhatian kepada penampilan diri mereka. Sementara ibu-ibu dulu, perhatiannya lebih banyak dicurahkan untuk mengurusi suami dan anak, sedangkan kondisi daya tarik tubuh mereka sendiri tidak dijaga. Untuk kepentingan menjaga keindahan tubuh, operasi cesar memang memiliki beberapa keuntungan.

Operasi cesar bisa menjaga kemudaan ibu-ibu yang telah melahirkan dan keindahan tubuh mereka. Luka melahirkan melalui operasi cesar bisa lebih cepat sembuh ketimbang melahirkan secara alamiah. Dan mereka tidak terlalu mengalami kesakitan saat melahirkan.

Selain itu, di jaman modern ini, peralatan kedokteran telah serba canggih, banyak ibu-ibu yang bekerja di kantor ingin suatu kepraktisan. Dengan memanfaatkan alat-alat canggih itu, sang ibu tidak perlu menantikan saat kelahiran secara bertele-tele dengan waktu yang belum menentu.

Sang ibu dengan operasi cesar bisa menentukan waktu yang diinginkan, sehingga ia mempunyai persiapan mental dan fisik sebelumnya. Dengan waktu yang telah tentu itu, memungkinkan sang ibu didampingi oleh suaminya dan dokter ahli saat melahirkan. Sementara jika dia melahirkan secara alamiah, belum tentu saat dia melahirkan, suaminya berada di rumah atau dokter ahlinya pas tugas di rumah sakit itu.

Selain itu kondisi fisik ibu-ibu sekarang berbeda dengan kondisi ibu-ibu dulu. Kegiatan fisik ibu-ibu sekarang sangat minim. Mereka sehari-harian hanya duduk di belakang meja. Sehingga hal ini dapat membuat kesulitan saat melahirkan. Kemampuan kontraksi ibu-ibu sekarang sering kurang kuat dalam melahirkan anak. Sehingga proses kelahiran sering kurang lancar.

Mereka juga sering stres ketika menghadapi proses kelahiran. Sementara itu, ibu-ibu jaman sekarang juga banyak yang melahirkan pada usia yang cukup tua, yaitu antara 25-35. Ibu-ibu dulu melahirkan diusia 18-24. Jadi melalui operasi cesar bisa mengurangi risiko yang mungkin ditimbulkan dari keadaan tersebut.

Kepentingan karir juga merupakan pendorong ibu-ibu itu memilih opersi cesar. Oleh kantornya mereka dituntut tidak terlalu lama cuti, bisa menjaga kesegaran tubuhnya dan tidak merasa rendah diri jika berkomunikasi dengan orang lain.

Operasi cesar bukan merupakan krisis identitas, sebaliknya justru memperluas identitas. Karena jika identitas para ibu itu hanya sebagai ibu rumah tangga atau istri saja, pada umur-umur tertentu dia akan mengalami kejenuhan. Apalagi pada saat anak-anaknya telah mandiri. Sehingga banyak ibu-ibu yang ketika mencapai usia lanjut, mereka mencari aktivitas di luar rumah untuk mengembangkan potensinya.

Dulu ibu-ibu bekerja di luar adalah hal yang tidak biasa, tapi sekarang, banyak anak-anak yang lebih menyukai jika ibunya bekerja di luar rumah, karena mereka menganggap, jika ibunya ada di rumah, terlalu rewel dalam mengatur mereka.

Oleh karena itulah, operasi cesar malah dapat mempertahankan identitas mereka sebagai perempuan. Karena sebagai wanita karir mereka memiliki kesempatan yang luas untuk mengembangkan diri.

Mereka memilih operasi cesar, saya rasa bukan karena kurang percaya diri. Tapi karena kondisi fisik dan tuntutan lingkungan yang mereka hadapi sekarang. Tapi, jika disuruh pilih, melahirkan secara alamiah lebih baik ketimbang operasi cesar.

Sementara itu, spesialis obstetri dan ginekologi Boyke Dian Nugraha berpendapat keputusan untuk melakukan operasi cesar tidak bisa sembarangan. Maksudnya, harus dilakukan serangkaian pemeriksaan terhadap ibu hamil sekaligus mengajukan berbagai pertanyaan untuk mengetahui situasi yang sebelumnya dialami pasien sebelum tiba di sarana pelayanan kesehatan. “Jadi, diputuskan dari perjalanan kehamilan selama ini sampai ketika akan melahirkan,” lanjutnya seraya mengemukakan berbagai keadaan ibu maupun bayi dalam kandungan bisa menjadi alasan ditempuhnya pembedahan pada persalinan tersebut. Ia menuturkan di antara beberapa kondisi itu misalnya panggul ibu yang sempit, ari-ari tidak keluar sehingga di bawah timbul perdarahan, atau akibat penyakit ibu seperti mengalami kejang dan tekanan darah tinggi (eklampsia).

Pada bayi, Boyke mengungkapkan letak atau posisi kepalanya kemungkinan tidak mengarah ke jalan lahir, atau terjadi situasi gawat antara lain jantungnya lemah karena denyutnya lambat. Tapi, konsultan seksologi ini menjelaskan keadaan itu tidak bisa diketahui oleh dokter umum, termasuk untuk mengeluarkan keputusan perlu tidaknya operasi cesar dilaksanakan. “Dengan demikian, harus dikonsultasikan dulu kepada ahli kandungan,” katanya.

Nah, bagaimana ibu-ibu, silakan berpikir matang sebelum memutuskan. Atau gampangnya jangan salah pilih sebelum membeli. (Anspek/MI/O-1)

Sumber : Media Indonesia

Morbiditas dan mortalitas tinggi pada Odha perempuan yang setelah bedah sesar

Oleh: Martha Kerr, Reuters Health

Secara keseluruhan tingkat komplikasi adalah 60% lebih tinggi di antara perempuan yang terinfeksi HIV yang menjalani bedah sesar dibandingkan dengan sebayanya yang tidak yang terinfeksi HIV. Hal ini berdasarkan temuan dari sebuah penelitian oleh National Institutes of Health.

Peneliti utama Dr. Judette Louis dari Universitas Case Western Reserve di Cleveland, Ohio, AS dan rekan dari National Institutes of Child Health dan Human Development (NICHD) Maternal-Fetal Medicine Units Network, membandingkan dampak bedah sesar pada 378 perempuan yang terinfeksi HIV dan 54.281 perempuan tidak yang terinfeksi HIV.

“Pasien yang terinfeksi HIV lebih cenderung mengalami endometritis pascakelahiran (11,6% dibandingkan dengan 5,8%), membutuhkan transfusi darah pascakelahiran (4,0% dibandingkan dengan 2,0%), mengembangkan sepsis (1,1% dibandingkan dengan 0,2%), diobati terhadap pneumonia (1,3% dibandingkan dengan 0,3%), dan meninggal saat melahirkan (0,8% dibandingkan dengan 0,1%),” Dr. Louis dan rekan melaporkan dalam jurnal Obstetrics and Gynecology edisi Agustus 2007.

Bahkan setelah menyesuaikan terhadap kemungkinan pembaur, termasuk tipe anestesis, jumlah kelahiran sesar sebelumnya, dan masa pecah ketuban, “pasien dengan infeksi HIV lebih cenderung mengalami satu atau lebih morbiditas pascakelahiran,” dengan rasio odds 1,6, para peneliti mengatakan.

“Walau kami juga menemukan peningkatan risiko kematian, tampaknya terkait dengan penyakitnya dan bukan semata-mata karena kelahiran sesar itu sendiri,” Dr. Louis berkomentar pada Reuters Health.

Ukuran kelompok dan rancangan berbagai pusat adalah kekuatan penelitian ini, tetapi “ketiadaan data sehubungan dengan terapi antiretroviral (ART) dan status kekebalan di antara perempuan yang terinfeksi HIV adalah kelemahan yang membatasi kemampuan generalisasi hasil penelitian kami ini,” Dr. Louis dan rekan mengingatkan.

“Namun demikian,” mereka mengatakan, “temuan kami adalah bermakna dan sesuai dengan penelitian yang diterbitkan di negara lain yang menunjukkan peningkatan angka kematian saat melahirkan dan risiko pascabedah terkait dengan kelahiran sesar pada pasien yang terinfeksi HIV.”

Para peneliti mencatat bahwa risiko morbiditas dan mortalitas dapat diminimalisasi dengan intervensi misalnya “menghindari kelahiran dengan bedah sesar pada pasien dengan viral load tidak terdeteksi, terapi antibiotik profilaktik secara lebih luas, atau menentukan dan memberi profilaksis pada individu dengan risiko lebih tinggi terhadap morbiditas infeksi.”

Pencegahan yang paling efektif, Dr. Louis mengatakan, “mungkin adalah penekanan virus secara optimal selama kehamilan dengan rejimen antiretroviral (ARV) yang tepat. Hal ini akan mencegah kebutuhan akan bedah sesar yang hanya berdasarkan viral load yang tinggi.”

“Tindakan tambahan lain adalah dengan memastikan bahwa pasien tersebut menerima dosis antibiotik profilaktik pada saat bedah sesar. Hal ini adalah satu tindakan yang selama ini terbukti menurunkan risiko morbiditas karena infeksi.”

Komplikasi bedah sesar lebih tinggi pada perempuan HIV-positif

Oleh: POZ

Angka masalah kesehatan yang disebabkan oleh bedah sesar adalah 60 persen lebih tinggi di antara perempuan yang terinfeksi HIV dibandingkan dengan yang tidak terinfeksi. Hal ini berdasarkan penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Obstetrics and Gynecology edisi Agustus 2007.

Setelah menjalani kehaliran bedah sesar, Judette Louis, MD, dari Universitas Case Western Reserve di Cleveland, Ohio, AS dan rekannya melaporkan, perempuan HIV-positif cenderung lebih mengalami pembengkakan dinding rahim (endometritis), memerlukan transfusi darah, mengembangkan sepsis, dan diobati untuk pneumonia, serta juga risiko kematian yang sedikit lebih tinggi. Penelitian ini yang dilakukan sejak 1999 hingga 2002, melibatkan 378 perempuan HIV-positif dan 54.281 perempuan yang tidak terinfeksi.

Para peneliti berpendapat bahwa terapi antiretroviral (ART) saja mengurangi risiko penularan dari ibu-ke-bayi secara bermakna, berarti bahwa pada kebanyakan kasus bedah sesar tidak diperlukan. Pendoman pengobatan perinatal, yang diatur oleh Departemen Kesehatan dan Layanan Masyarakat AS menyetujuinya.