13 Rahasia Hamil Bebas Stres
Kehamilan adalah masa yang indah yang seharusnya Anda nikmati sepenuh jiwa raga. Bila Anda happy saat hamil, si janin pun akan memperoleh pengaruh positifnya.
Bila berbagai perasaan negatif seperti cemas, takut dan rasa tak menentu mengganggu Anda dalam masa hamil, Anda perlu tahu bagaimana cara mengatasinya. Kemampuan Anda mengatasi stres saat hamil akan memberi dampak positif bagi bayi yang akan dilahirkan. Bila Anda termasuk calon ibu yang kurang bisa menikmati kehamilan Anda, cobalah kiat-kiat berikut ini.
1. Curhat dengan teman
Berbagi rasa dengan teman-teman dekat, khususnya yang sudah memiliki anak, bisa jadi salah satu cara yang cukup ampuh dalam menghalau rasa tidak nyaman. Bisa juga Anda sharing atau curhat dengan anggota keluarga dan kerabat dekat. Semua saran dan nasihat bisa jadi tambahan “perbekalan” ilmu yang pasti bermanfaat bagi Anda. Walau begitu, orang yang paling tepat dan paling banyak dapat membantu meringankan beban perasaan Anda sebenarnya adalah pasangan Anda!
2. Tutup kuping pada cerita seram
Hindari orang-orang yang punya pengalaman melahirkan yang “mengerikan”, seperti pedihnya sayatan episiotomi (perobekan bagian antara lubang vagina dan anus-red.) atau luka sayatan operasi caesar. Terus terang , kaum wanita biasanya senang bercerita tentang itu. Jadi, bila lawan bicara Anda melakukan hal tersebut, segera cut si pencerita dengan sopan. Cerita-cerita seperti itu hanya akan menambah rasa takut, khawatir, dan cemas Anda. Bahkan, bukan tidak mungkin Anda malah jadi stres berkepanjangan selama hamil.
3. Libatkan pasangan
Jangan segan mengajak serta pasangan untuk terlibat langsung dalam berbagai persiapan menyambut kedatangan si kecil. Misalnya, mengantarkan Anda ke dokter kandungan untuk pemeriksaan rutin. Dengan cara ini, kedekatan emosi antara Anda pasangan, dan juga si kecil bisa terjalin. Kekompakan Anda dan pasangan sebagai suatu tim yang solid akan mempermudah proses persalinan Anda kelak.
4. Belajar dan berlatih teknik relaksasi
Menurut Alice D. Domar, Ph.D, Direktur Mind/Body Center for Women’s Health di Beth Israel Deaconess Medical Center, Boston, Amerika Serikat, hormon stres yang dikeluarkan oleh tubuh ibu hamil yang tegang, cemas, dan khawatir berlebihan dapat masuk ke dalam plasenta. Akibatnya, bayi bisa ikut-ikutan merasakannya. Ketenangan hati dan pikiran selama masa kehamilan memang perlu, bahkan dapat membantu kelancaran proses persalinan nantinya.
Cobalah belajar dan berlatih teknik-teknik relaksasi. Salah satu caranya adalah, dengan menarik napas panjang secara perlahan-lahan dan dalam. Tahan sebentar, lalu hembuskan lagi. Jangan lupa, berusahalah untuk tetap rileks!
5. Rutin berolahraga
Melakukan olahraga secara rutin (sesuai dengan kondisi tubuh) dapat membantu mengurangi stres. Apalagi, ada nilai plusnya bila Anda rajin berolahraga. Tubuh jadi sehat dan bugar.
Bila sebelum hamil Anda sudah terbiasa berolahraga secara rutin, teruskan kebiasaan baik tersebut. Lakukan sesuai kondisi tubuh dan kehamilan Anda. Namun, kalau sebelumnya Anda jarang atau tidak biasa berolahraga, mulailah dengan porsi yang ringan dulu. Secara bertahap, barulah ditambah porsi dan juga frekuensi latihannya. Ada baiknya, Anda berkonsultasi dulu dengan dokter Anda, sehingga ditentukan jenis olahraga, porsi dan frekuensi latihan yang paling pas untuk Anda.
6. Pelajari “ilmu” perawatan bayi
Mulailah belajar dan memperkaya wawasan Anda seputar seluk-beluk perawatan bayi baru lahir. Informasi tersebut bisa dengan mudah diperoleh dari TV, radio, buku, majalah, internet, maupun VCD. Belilah sedikitnya 1 atau 2 buku tentang dasar-dasar perawatan bayi, yang menguraikan berbagai persiapan sebelum persalinan, perawatan bayi di rumah sakit, hingga perawatan selanjutnya di rumah.
7. Pahami hak cuti hamil dan melahirkan
Bagi ibu hamil yang bekerja, sisihkan waktu untuk mempelajari hak cuti hamil dan melahirkan yang berlaku di tempat kerja. Bila perlu, buatlah janji dengan Kepala Bagian Personalia untuk membicarakan hak Anda ini. Sebaiknya, persiapan ini dimulai sejak trimester ke-1 atau ke-2.
8. Siapkan budget
Sejak dinyatakan positif hamil, sebaiknya Anda mulai merencanakan dan mengatur keuangan untuk biaya persalinan serta berbagai keperluan lain dalam menyambut kedatangan si kecil. Bahkan, tak ada salahnya bila Anda dan pasangan menyiapkan dana ekstra untuk mengantisipasi kondisi dan pengeluaran tak terduga. Misalnya, semula Anda berencana untuk menjalani persalinan normal. Namun, karena sungsang, mungkin saja bayi Anda harus dilahirkan via operasi Caesar, yang tentu memerlukan biaya yang jauh lebih besar.
9. Pilih-pilih tempat bersalin
Sejak trimester ke-1, mulailah “belanja” informasi tentang rumah sakit bersalin. Misalnya, dari teman, kerabat, brosur, dan lain-lain. Dalam proses memilah-milih ini, selalu libatkan pasangan.
Sebaiknya, pilih tempat bersalin yang dapat memberikan fasilitas pelayanan sesuai keinginan dan harapan Anda berdua. Tentu saja, sesuai kocek Anda juga! Pertimbangkan pula untuk memilih tempat bersalin yang menyediakan fasilitas rooming in. Bukankah Anda sudah tak sabar untuk berdekatan dengan si buah hati?
Setelah menentukan pilihan, segera daftarkan diri. Jangan menunda-nunda hingga akhirnya terlalu dekat dengan hari-H. Bisa-bisa Anda tidak mendapat tempat yang paling oke!
10. Belilah berbagai keperluan bayi
Persiapan yang satu ini memang sangat mengasyikkan. Bahkan, akan membuat Anda berdua melupakan sejenak rasa khawatir maupun cemas. Jadi, nikmatilah saat-saat berbelanja berdua saja dengan pasangan.
Sebaiknya, buatlah daftar barang-barang keperluan pokok yang harus dibeli, seperti popok, baju, selimut, boks, baby tafel, serta stroller. Daftar ini akan membuat “acara” belanja Anda jadi efektif dan efisien. Sebab, Anda hanya membeli barang-barang yang benar-benar dibutuhkan. Kok begitu? Begitu masuk ke dalam toko perlengkapan bayi, seringkali Anda langsung “panik”, sebab ingin membeli semua barang yang ada. Akibatnya, pengeluaran jadi berlipat ganda.
11. Cari informasi tentang dokter anak
Setelah si kecil hadir, Anda berdua akan dihadapkan dengan sederet masalah baru yang menantang. Bukan hanya tetek bengek seputar perawatan bayi, tapi juga masalah seputar kesehatannya. Si kecil memang masih sangat rentan terhadap serangan berbagai jenis penyakit. Karena itu, mulailah cari informasi tentang dokter anak yang berpredikat “baik” dalam memberi fasilitas pelayanan. Ini termasuk juga “baik” dalam berkomunikasi dengan pasien ketika menjelaskan kesehatan bayi.
Dokter anak pilihan Anda ini nantinya akan memberikan paket imunisasi dan vaksinasi yang wajib diberikan pada si kecil agar terhindar dari serangan penyakit selama tahun-tahun pertamanya. Juga, dialah yang akan membantu Anda dalam menangani masalah kesehatan si kecil kelak. Jadi, jangan sampai salah pilih!
12. Isi lemari es sebelum hari-H
Selama hari-hari pertama dan juga bulan-bulan pertama bersama si kecil, besar kemungkinan Anda tidak punya waktu dan juga kesempatan untuk belanja keperluan sehari-hari dengan leluasa. Hari-hari Anda hanya akan dipenuhi dengan segala macam urusan perawatan si kecil. Jadi, lebih baik Anda sudah mengisi lemari es dengan persediaan makanan maupun minuman sejak jauh-jauh. Begitu ingin sesuatu, Anda tinggal buka lemari es. Praktis, bukan?
13. Siapkan koper Anda!
Memasuki trimester ke-3, Anda sudah bisa mulai menyiapkan tas atau koper untuk dibawa ke rumah sakit. Siapkan barang keperluan untuk bayi, Anda sendiri, dan jangan lupa pasangan! Sebab, pasangan akan terus menerus mendampingi Anda menjelang, selama, dan usai persalinan. Jadi, dia juga butuh perlengkapan untuk bermalam.
Dengan persiapan dan rencana yang sangat matang, sebenarnya tak ada alasan lagi bagi Anda untuk cemas, takut, maupun khawatir berlebihan. So, just enjoy your pregnancy!
5 Momok Selama Hamil
Rasa khawatir memang begitu akrab dengan ibu hamil. Tapi, jangan sampai kekhawatiran itu berubah jadi paranoia.
Ketidaktahuan mengenai apa yang akan terjadi pada minggu-minggu mendatang selama kehamilan memang memicu rasa takut dalam diri Anda. Begitu takutnya, bisa jadi Anda tiba-tiba saja jadi super rajin menemani suami menonton tayangan langsung pertandingan sepakbola. Atau, mata Anda tak kunjung terpejam meski jam menunjukkan pukul 03.00 dini hari.
Berikut lima ketakutan yang paling sering dialami ibu selama hamil. Dengan mengenali simptomnya, solusinya pun jadi lebih mudah.
1. Takut menghadapi persalinan
Rasa takut yang satu ini ternyata menduduki peringkat teratas. Bukan cuma ibu yang baru pertama kali melahirkan saja, tetapi juga mereka yang sudah berpengalaman.
Tak perlu lari dari kenyataan. Anda ‘kan bukan burung kasuari yang punya hobi mengubur dalam-dalam kepala di lubang tanah. Sebaliknya, cari tahu dan pelajari mekanisme proses persalinan. Caranya:
* Banyak-banyaklah membaca buku.
* Ikuti kelas prenatal di rumah sakit bersalin pilihan Anda.
* Biar tambah mantap, boleh juga Anda melakukan tour keliling rumah sakit. Hitung-hitung Anda belajar mengenali suasana tempat bersalin kelak.
* Tutup kuping rapat-rapat terhadap pengalaman persalinan teman atau famili yang seram-seram.
2. “Sehatkah janinku? Atau, cacat?”
Jangan khawatir, ketakutan itu akan hilang dengan sendirinya setelah si kecil lahir. Anda ‘kan sudah melihat wujud aslinya, menghitung sendiri jumlah jari tangan dan kakinya, serta mendapat pernyataan dari dokter kalau bayi Anda sehat dan normal.
Untuk menenangkan perasaan Anda sekarang, sekaligus supaya Anda tidak ketakutan terus-menerus, lebih baik minta saja saran dokter kandungan tentang hal-hal yang perlu Anda lakukan sesuai kondisi si kecil. Misalnya saja, makanan apa saja yang sebaiknya Anda konsumsi, olahraga apa yang boleh dan tidak boleh Anda lakukan, dan sebagainya. Dengan begitu, Anda jadi makin percaya diri.
3. Takut tak mampu jadi ibu yang baik
Ketakutan ini sebenarnya sah-sah saja, karena Anda memang belum punya pengalaman jadi ibu. Atau, mungkin Anda merasa tidak bahagia sebagai anak lantaran ayah Anda galak, misalnya. Bisa jadi, latar belakang keluarga Anda kebetulan berakhir dengan perceraian dan Anda tidak merasa nyaman denagn hal itu. Jadi, wajar-wajar saja kalau terselip rasa was-was bahwa “sejarah” akan terulang kembali.
Nah, mumpung saat ini Anda punya kesempatan untuk belajar jadi ibu, galilah semua potensi yang ada di dalam diri Anda. Dengan begitu, Anda bisa jadi ibu yang apa adanya. Maksudnya, jadi ibu yang sesuai dengan kemampuan Anda.
Percayalah, secara alami perkembangan si kecil akan berproses sejalan dengan bertambahnya kemampuan Anda dalam mengajari berbagai hal, sesuai tahap usianya. Alam memang sudah merancang kalau setiap wanita pasti mampu menjadi ibu yang paling pas bagi anaknya. Sambil terus belajar, jalani dan nikmati saja peran Anda sebagai ibu dengan bekal naluri keibuan yang sudah Anda miliki sebelumnya.
4. Takut terhadap bayi
Ini bukan ketakutan yang mengada-ada, karena memang ada sebagian ibu yang belum-belum sudah takut terhadap bayinya. Coba periksa diri Anda lagi. Apa sumber masalah yang sebenarnya? Jangan-jangan ini karena Anda ketakutan akan kehilangan waktu untuk diri sendiri karena harus merawat bayi.
Jangan-jangan nanti nggak bisa gaul dengan teman-teman lagi? Jangan-jangan nanti kecapekan, karena bayi bangun terus waktu malam? Serta masih banyak “jangan-jangan“ lainnya, yang menggambarkan kekhawatiran Anda membagi waktu dan perhatian antara mengurus bayi dan waktu untuk diri sendiri.
Solusinya mudah. Buat prioritas sesuai kebutuhan Anda. Tak bisa dihindari, pasti sebagian besar waktu Anda bakal tersita untuk bayi. Tapi, sejalan dengan bertambahnya usia bayi, ia makin tak tergantung pada Anda. Artinya, Anda bisa gaul lagi. Yang penting, nikmati saja setiap waktu bersama si kecil, karena hal ini hanya “sebentar“ dan tak akan terulang lagi.
5. Takut tidak adil mencintai
Ini dialami oleh ibu hamil yang sedang menanti-nantikan kehadiran anak kedua. Tak usah buang-buang waktu untuk memikirkan apakah Anda bisa mencintainya sama seperti anak pertama. Ingat, cinta itu buta!
Memang, pada awalnya si kakak mungkin saja akan lebih banyak menyedot perhatian ketika Anda sedang asyik-asyiknya menyusui bayi baru Anda. Tapi, percayalah. Lama-kelamaan Anda akan jatuh cinta juga pada si kecil. Apalagi, Anda ‘kan sudah menatap mata mungilnya begitu lahir.
Berilah pengertian dan contoh pada si sulung tentang beberapa hal utama yang akan terjadi ketika sang adik lahir. Khususnya, pada bulan-bulan pertama. Misalnya, adik hanya bisa makan dan minum susu pada Anda saja. Kalaupun ingin membantu, biarkan kakak yang kebagian tugas untuk mengambil bantal penyangga tubuh adiknya ketika disusui.
Nah, selamat menjalani kehamilan dengan nyaman dan tenang!
Sri Lestariningsih
Kekhawatiran Saat Hamil
Saat kehamilan datang dalam kehidupan anda, timbul perasaan bahagia yang tiada terduga, tetapi terkadang kebahagiaan yang anda rasakan itu "terganggu" oleh beberapa perasaan khawatir. Akibatnya, kondisi emosi kita ikut-ikutan terpengaruh. Berikut beberapa hal yang sering dikhawatiran oleh ibu hamil.
- Khawatir menyakiti janin. Anda sering merasa takut dan ragu dalam melakukan beberapa hal yang sebelumnya merupakan kegiatan rutin. Misalnya berolahraga atau berhubungan intim. Juga, anda khawatir dan cemas kalu berbagai keluan dapat menyebabkan keguguran, seperti nyeri pada perut atau daerah panggul.
- Khawatir menghadapi persalinan. Walaupun persalinan adalah seuah proses alami yang sekaligus menakjubkan dan sudah menjadi kodrat bagi seorang wanita untuk menjalaninya, tetapi sering ibu hamil tidak dapat menghilangkan rasa hawatir dan takut dalam menghadapi proses persalinan tersebut. Percayalah bahwa anda benar-benar yakin akan semua ini, maka perlahan-lahan akan tumbuh keberanian dalam diri anda.
- Khawatir tidak mampu berlaku adil. Tidak sedikit ibu yang merasa khawatir tidak mampu berlaku adil terhadap si sulung setelah adiknya lahir. Bahkan banyak juga yang tidak mampu berbagi perhatian dan waktu pada pasangannya.
Semua kekhawatiran ini sebenarnya mampu Anda atasi, asal Anda memiliki tekad yang kuat untuk mengendalikan emosi Anda dan tidak larut secara berkepanjangan. Karena apapun yang anda alami selama masa kehamilan merupakan sesuatu yang wajar dan dialami pula oleh ibu hamil lainnya.
sumber: Ayahbunda Nomor 26 / 31 Desember - 16 Januari 2004, Hal. 63.
Depresi Ibu Berefek Buruk pada Anak
Depresi pada ibu yang sedang mengandung disebabkan banyak hal. Pertama, adanya perubahan hormon yang menpengaruhi mood ibu secara keseluruhan sehingga si ibu sering merasa kesal, jenuh, atau sedih. Penyebab lainnya adalah, keadaan fisik yang berubah saat hamil. Menjelang usia kehamilan tertentu, ibu mengalami sulit tidur. Ini tentu menyebabkan si ibu keesokan harinya akan merasa amat letih, ada lingkaran hitan di mata, dan kulit muka menjadi kusam. Adanya masalah-masalah pada kandungan seperti kandungan lemah, sering muntah pada awal kandungan, adan masalah-masalah lain juga bisa menyebabkan depresi. Ibu akan terus-menerus mengkhawatirkan keadaan anak dan ini akan membuat dia merasa tertekan. Depresi dapat juga dialami stelah sang ibu melahirkan bayinya. Di Amerika Serikat, sekitar 30 persen dari ibu yang baru saja melahirkan diduga mengalami depresi pascamelahirkan.
Anak Menjadi Agresif
Mengapa amat penting menjaga sampai si ibu yang sedang mengandung mengalami depresi? Tiffani Field, Ph. D dari Universitas of Miami Medical School menjawab pertanyaan ini berdasarkan penelitian yang sudah ia lakukan selama 20 tahun. Ia menemukan anak yang dilahirkan oleh ibu yang mengalami depresi berat selama kehamilan akan memiliki kadar hormon stres tinggi, aktivitas otak yang peka terhadap depresi, menunjukkan sedikit ekspresi, dan mengalami gejala depresi lain, seperti sulit makan dan tidur.
Yang berbahaya bila gejala depresi pada bayi baru lahir tidak segera ditangai, anak berkembang menjadi anak yang tidak bahagia. Mereka sulit belajar berjalan, berta badan kurang, dan tidak responsif terhadap orang lain. Bila keadaan ini tetap tidak tertanggulangi, anak akan tumbuh menjadi balita yang depresi. Saat mulai sekolah mereka mengalami masalah tingkah laku, seperti agresif dan mudah stres.
Tindakan Pertolongan
Ibu dan anak mengalami depresi harus mendapatkan pertolongan para profesional. Berkonsultasilah dengan dokter anak dan psikolog anak. Makin cepat pertolongan diberikan makin besar kemungkinan anak akan tumbuh normal. Terapi lainnya, seperti pijat, juga terbukti baik untuk mengatasi depresi, baik bagi anak maupun ibu. Tapi, ini pun harus dengan pengawasan dari dokter.
Yang penting, upaya penyembuhan ini harus dilakukan pada ibu dan bayi. Jangan hanya bayi yang diterapi, sementara ibu dibiarkan makin terpuruk dalam depresi atau sebaliknya. Ibu dan bayi harus bekerja sama untuk mengatasi depresinya. Ayah juga harus berperan aktif dalam membantu penyembuhan orang-orang terdekat ini.
Itulah sebabnya, saat ini, peran suami terhadap ibu yang sedang mengandung dan setelah melahirkan amat besar. Ibu hamil harus mendapatkan dukungan yang sebesar-besarnya dari suami. Dukungan suami ini bisa ditunjukkan dengan berbagai cara, seperti memberi ketenangan kepada istri, membantu sebagian pekerjaan istri atau bahkan sekadar memberi pijatan ringan bila istri merasa pegal. Diharapkan, dengan dukungan total dari suami, istri dapat melewati masa keamilannya dengan perasaan senang dan jauh dari depresi.
Pada saat bayi yang ditunggu sudah lahir, peran suami yang sekarang telah menjadi seorang ayah tentu diharapkan menjadi semakin aktif. Ayah dan ibu harus berbagi tugas dalam mengasuh dan merawat si kecil. Jangan sampai semua perawatan bayi diserahkan ke ibu. Ini bisa membuat ibu depresi karena fisiknya belum pulih setelah melahirkan ditambah kelelahan baru merawat bayi.
sumber: Majalah Lisa - Nomor 36/Tahun II/10 - 16 September 2001, halaman 33
Tenang dengan Autohipnosis
Ciptakan ketenangan dan keharmonisan antara hati, pikiran, dan
tubuh dengan menyugesti diri sendiri.
Berbagai perubahan yang terjadi selama kehamilan umumnya menimbulkan sederet keluhan. Nah, latihan autohipnosis membantu Anda “melihat” seluruh proses kehamilan dan kelahiran bayi sebagai sebuah anugerah yang patut disyukuri.
Kuncinya, rileks dan tenang
Dalam buku “HypnoBirthing, A Celebration of Life” karangan Marie F. Morgan, M. Ed., M.Hy. disebutkan bahwa Bapak Kedokteran, Hippocrates dan Aristoteles telah mengungkapkan sejak jaman dahulu, pentingnya ketenangan hati dan pikiran seorang ibu di saat menjalani kehamilan serta persalinan. Tujuannya, agar lingkungan dapat bekerja dengan baik dalam membantu seluruh proses hingga selesai.
Pada kenyataannya, untuk mencapai kondisi tenang, tidaklah semudah yang dibayangkan. Semua memang terpulang kepada pribadi masing-masing. Nah, salah satu cara atau teknik yang dapat membantu Anda untuk mencapai ketenangan adalah dengan autohipnosis atau sugesti terhadap diri sendiri. Ketenangan pikiran dan hati, pada akhirnya akan menumbuhkan sikap “menerima” segala sesuatu yang sedang berlangsung dengan lapang dada, alias mampu berdamai dengan diri sendiri.
Yuk, latihan
Cara paling mudah untuk mulai berlatih autohipnosis adalah dengan membiasakan diri melihat hal-hal yang “indah” saja. Maksudnya, berusahalah untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang positif. Kemudian, tingkatkan dengan menggunakan sarana atau alat bantu untuk mencapai kondisi tenang, yaitu:
• Kenakan pakaian yang nyaman.
• Duduklah di ruangan yang tenang, nyaman, bersuhu sejuk, dengan pencahayaan yang temaram. Anda dapat duduk bersila di lantai beralas karpet atau duduk di atas bantal.
• Putarlah musik atau lagu kesayangan Anda yang memiliki nada atau irama berulang-ulang, tenang, serta lembut.
• Cobalah memusatkan pikiran pada alunan suara musik atau pada benda yang Anda tatap terus-menerus selama kurang lebih 3-5 menit. Pada awalnya mungkin tidak mudah. Tapi, dengan tekun berlatih, Anda akan mampu mencapai kondisi tenang.
Setelah kondisi tenang berhasil Anda capai, mulailah untuk memasukkan sugesti atau afirmasi, yang bisa disesuaikan dengan usia kehamilan Anda.
• Trimester pertama: nyatakan bahwa mulai saat ini Anda akan selalu tenang menghadapi berbagai perubahan yang terjadi, terutama perubahan hormonal.
• Trimester ke-2: nyatakan bahwa Anda dan janin Anda akan tumbuh dengan sehat hingga mencapai usia kehamilan yang cukup untuk bersalin.
• Trimester ke-3: mengingat seringnya muncul kekhawatiran tentang kondisi kesehatan janin serta ketakutan terhadap persalinan, maka nyatakan bahwa Anda dan janin Anda akan selalu dalam keadaan tenang dan sehat.
Autohipnosis dapat Anda latih setiap hari. Kapan saat yang tepat, tergantung pada Anda. Bisa pagi, siang, atau malam hari. Cukup lakukan selama 10-15 menit.
Autohipnosis bisa dilakukan sambil menyentuhkan telapak tangan dengan lembut ke perut. Jadi, setelah Anda mencapai kondisi tenang, sentuhlah seluruh permukaan perut dengan kedua telapak tangan, sambil meniatkan bahwa melalui sentuhan tangan ini seluruh hormon endorphin akan terkumpul pada dinding rahim Anda.
Sugesti tersebut sebaiknya dilakukan saat usia kehamilan Anda mencapai akhir trimester ke-3 hingga tiba saat bersalin. Melalui sugesti dengan sentuhan ini, rasa sakit luar biasa dari kontraksi yang terjadi menjelang persalinan, bisa tidak terasa sama sekali atau sangat jauh berkurang.
Sri Lestariningsih
Konsultasi ilmiah: Lanny P.S. Kuswandi, bidan dan fasilitator program stress management di Klinik Spesialis & Keluarga “ProRevital”, Jakarta.
Refresh Energi di Spa
Masa mual-mual telah berlalu, kini saatnya Anda manjakan diri dengan mengisi energi baru di spa.
Spa ketika hamil? Mengapa tidak! Apalagi selewat masa trimester pertama yang penuh gejolak mual-mual, kini Anda memasuki trimester kedua yang lebih menyenangkan.
Biasanya, beda tempat spa beda pula paket yang ditawarkan. Namun, jenis dan caranya sudah dirancang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi ibu hamil.
Nyaman dan relaks
Sebelum diterapi, biasanya Anda diajak bermeditasi. Kegiatan ini sangat penting karena dapat membantu menurunkan stres. Banyak penelitian membuktikan, stres berkepanjangan selama hamil dapat mengacaukan pengeluaran hormon-hormon di dalam tubuh. Kondisi ini bisa menimbulkan gangguan proses pertumbuhan janin, keguguran atau persalinan prematur. Bahkan, stres yang dialami ibu hamil dikhawatirkan juga dialami oleh janinnya.
Nah, meditasi akan membantu Anda untuk mengenal diri sendiri, dan merasakan hubungan antara Anda dengan janin yang ada dalam rahim. Dengan bermeditasi, diharapkan bukan stres yang Anda alami saja yang berkurang, tetapi juga ‘stres’ yang dirasakan janin. Coba deh, ikuti langkah-langkahnya.
Pertama-tama, pejamkan mata Anda. Buat seluruh tubuh Anda relaks, lalu bernapaslah perlahan melalui hidung (hirup udara perlahan-lahan, konsentrasikan pada aliran udara melalui hidung). Bebaskanlah pikiran Anda sejenak dari kegiatan sehari-hari. Bayangkan seolah-olah Anda sedang bersantai di tempat yang nyaman, aman dan Anda merasa bahagia. Misalnya, di tepi pantai, di gunung, atau sekadar di ruang yang tenang. Setelah tubuh merasa relaks, Anda dapat melakukan kegiatan selanjutnya.
Kulit bersih & sehat
Kegiatan berikutnya bisa berupa scrubbing dan massage. Scrubbing adalah kegiatan menggosok kulit, yang bertujuan mengangkat jaringan kulit yang mati agar kulit Anda selalu bersih dan bercahaya.
Setelah scrubbing, Anda akan di-massage. Kegiatan pijat ibu hamil diharapkan melancarkan aliran darah, serta aliran di kelenjar getah bening. Penelitian Dr. Tiffany Field dari Fakultas Kedokteran Universitas Miami di Amerika Serikat, menunjukkan bahwa pijat ibu hamil, dapat menurunkan hormon penyebab stres dalam tubuh. Sentuhan itu sendiri, sangat penting bukan saja terhadap fisik, tetapi juga untuk emosi ibu hamil.
Penting diingat, pijat ibu hamil tidak boleh ada penekanan, karena dikhawatirkan membahayakan kehamilan. Jadi, massage biasanya hanya dilakukan dalam bentuk pengusapan (efflurage) saja.
Selain itu, perhatikan juga posisi ibu hamil ketika dilakukan pemijatan. Mengingat perut ibu hamil sudah cukup besar, dan agar perut tidak tertekan tubuh. Posisi yang aman adalah duduk dengan kepala dan badan bagian atas disandarkan ke sandaran kursi. Atau, boleh saja jika Anda ingin berbaring, lakukan dengan posisi miring.
Hmm... sungguh nyaman!
Setelah dipijat, Anda akan dipersilakan membersihkan diri dengan cara mandi. Selanjutnya, tubuh Anda akan dilumuri masker dan dibiarkan sampai mengering, lalu dibersihkan. Tujuan kegiatan ini untuk mengencangkan kulit.
Sudah selesai? Belum. Anda bisa memanjakan diri dengan berendam dalam bak berisi air suam-suam kuku (bisa juga mandi bunga dengan ditaburi kelopak bunga mawar) selama 10-15 menit. Setelah itu, tubuh dikeringkan dan diolesi lotion untuk melembapkan kulit. Selain itu, segelas minuman segar telah menanti Anda.
Semua rangkaian kegiatan ini tentu akan berdampak positif terhadap fisik dan emosi Anda. Bagaimana tidak. Perasaan fresh, tenang, nyaman dan damai setelah menjalani kegiatan ini tentu membuat Anda semakin bahagia menjalani kehamilan dan menyambut sang buah hati.
Segudang Manfaat Massage
Sekalipun hanya dalam bentuk pengusapan, namun manfaat massage pada kehamilan sangat banyak.
* Meningkatkan sirkulasi darah, sehingga membantu penghantaran oksigen dan zat-zat makanan ke sel-sel tubuh ibu hamil dan janinnya. Ini berarti meningkatkan vitalitas dan mengurangi rasa lelah yang dialami ibu serta memberikan nutrisi yang lebih baik kepada janinnya.
* Mengurangi tekanan pada jantung, karena membantu sirkulasi darah.
* Membantu mengurangi asam laktat dan sisa metabolisme tubuh lainnya yang jika bertumpuk akan menyebabkan otot cepat merasa lelah. Selain itu, otot-otot yang terasa tegang, kejang, atau kaku, juga bisa lebih relaks. Kelenturan otot ini berguna ketika proses persalinan berlangsung kelak.
* Membantu mengurangi banyak gangguan kehamilan, seperti sakit punggung, kaki yang kaku, sakit kepala, serta bengkak di pergelangan kaki dan sekitar jari.
* Menstimulasi sekresi (pengeluaran) kelenjar, yang membantu menstabilisasikan kadar hormon dalam tubuh.
* Memulihkan depresi atau kekhawatiran yang disebabkan perubahan hormon tubuh ibu hamil.
* Membantu mengendurkan ketegangan saraf, sehingga membantu ibu hamil mudah tertidur dan tidak mengalami insomnia. Bahkan, diharapkan si ibu dapat tidur dengan nyenyak.
Kapan Tak Boleh?
Tunda dulu keinginan ke spa kalau Anda mengalami hal berikut.
* Perdarahan.
* Demam.
* Mengeluarkan banyak cairan, misalnya keputihan.
* Sakit menular.
* Muntah-muntah.
* Pre-eklampsia (gejala keracunan kehamilan).
* Tekanan darah tinggi.
* Diare.
* Sakit di perut.
Retno Wahab Supriyadi (ayahbunda-online.com )
Ibu Stres, Janin Tak Berkembang
Perempuan hamil yang menderita depresi klinis atau serangan stres yang ekstrim membutuhkan perawatan medis ekstra. Sebab, kondisi psikologis ibu hamil sangat mempengaruhi perkembangan janinnya. Demikian ungkap Dr. Miguel A. Diego, seorang peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Miami, Amerika Serikat.
“Hasil penelitian yang muat dalam Psychosomatic Medicine Journal ini mengungkapkan bahwa ukuran bayi yang dilahirkan seorang ibu yang sedang stres atau depresi cenderung lebih kecil, baik berat badan maupun panjang tubuhnya dibandingkan bayi yang dilahirkan dari ibu yang tidak mengalami stres,” demikian tulis reuters.com.
Dr. Miguel A. Diego dan timnya menemukan bahwa hormon kortisol yang dihasilkan kelenjar adrenalin saat stres menjadi faktor penyebabnya. Dr. Miguel A. Diego menggunakan alat ukur ultrasonografi (USG) untuk melihat perkembangan janin dalam kandungan 98 perempuan pada usia kehamilan 16 hingga 29 minggu. Mereka mengukur level hormon dan melakukan evaluasi keseluruhan untuk mengukur tingkat stres ibu. Semakin berat tekanan yang dialami ibu hamil, semakin kecil kemungkinan bayi untuk berkembang. Analisa statistik menunjukkan bahwa kadar hormon kortisol yang tinggi sebanding dengan stres yang dialami dan berat tubuh yang turun.
Untuk mengatasi stres pada ibu hamil, dibutuhkan terapi psikologi atau dukungan sosial yang baik. Sebab pengaruh penggunaan obat-obatan antistres untuk perempuan hamil juga masih menimbulkan pro dan kontra di kalangan ahli kesehatan. “Selain Janin tidak berkembang, stres pada perempuan hamil dapat memicu kelahiran prematur,” ujar Dr. Miguel A. Diego.
Sumber : Connectique
Usai Melahirkan kok Sedih…
Di antara sekian ibu yang berbahagia setelah berhasil melahirkan bayi mereka dengan selamat dan sukses, ada yang malah berduka. Mungkin hal ini agak sulit dipercaya, tapi nyatanya ini memang benar-benar terjadi.
Sebagian besar dari mereka yang pernah merasakan gangguan ini menggambarkan perasaan yang mereka alami sebagai perasaan agak sedih, kecewa maupun mudah menangis. Namun, perasaan seperti ini bukanlah sesuatu yang aneh. Beberapa ahli bahkan menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa.
Hingga saat ini, apa yang menjadi penyebab di balik gangguan ini masih belum berhasil diketahui dengan pasti. Namun ada beberapa faktor yang telah dicurigai menjadi pemicunya. Faktor-faktor itu dibagi menjadi faktor emosi dan fisik.
Faktor-faktor emosi diantaranya, mencemaskan perawatan terhadap bayi yang baru dilahirkan atau kekecewaan setelah melalui proses persalinan. Sedangkan faktor-faktor fisik diantaranya, perubahan kadar hormon dalam tubuh yang terjadi secara cepat atau kurang tidur dan kelelahan setelah merawat bayi yang baru dilahirkan.
Perasaan duka yang tidak menyenangkan itu umumnya hanya berlangsung sekitar tiga - lima hari dan akan hilang dengan sendirinya. Namun bila perasaan-perasaan tersebut tidak reda atau malah makin buruk dan berlangsung terus hingga lebih dari satu atau dua minggu, maka telah muncul apa yang disebut sebagai depresi pasca persalinan (postpartum depression, PPD).
Depresi yang konon mendera sekitar satu dari 10 wanita baru melahirkan ini, dapat membuat para penderitanya merasa tidak enak (badan), lesu, susah berkonsentrasi, susah tidur, tidak nafsu makan, mudah tersinggung, mudah menangis, kurang bergairah, dan putus asa. Gejala-gejala ini dapat timbul dalam berbagai derajat, mulai dari yang ringan hingga berat.
Walau tidak semua wanita penderita depresi pasca persalinan menunjukkan gejala-gejala yang mirip, setiap gejala yang dialami dapat menimbulkan perasaan bersalah, tertekan, malu, dan terasing. Para wanita yang baru pertama kali melahirkan, kurang mendapat dukungan dari suami dan keluarga, memiliki kehamilan yang tak diinginkan, pernah mengalami keguguran, dan memiliki riwayat depresi, memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk terkena.
Para ibu diharapkan untuk lebih waspada terhadap kemungkinan timbulnya depresi pasca persalinan. Mengapa? Karena selain dapat ditangani dengan obat-obatan dan psikoterapi, gangguan ini juga dapat melenyapkan kebahagiaan seorang ibu dan berdampak buruk terhadap hubungan yang tengah berkembang antara ibu dan bayi. Sebagai tambahan, gangguan ini juga dapat mempengaruhi hubungan suami-istri. Nah lho!
Sumber : Satumed
Apakah Anda Mengalami Baby Blues Syndrome?
Sebagai seorang ibu baru anda juga perlu memberi perhatian terhadap apa yang anda “rasakan atau perasaan anda” sehingga apa yang disebut sebagai “baby Blues” / depresi pasca persalinan tidak timbul perlahan dan mengenai anda secara tiba-tiba…….apakah itu Baby Blues Syndrome?
Sebagai seorang ibu baru anda juga perlu memberi perhatian terhadap apa yang anda “rasakan atau perasaan anda” sehingga apa yang disebut sebagai “baby Blues” / depresi pasca persalinan tidak timbul perlahan dan mengenai anda secara tiba-tiba .
Adalah normal bila anda mempunyai perasaan tak mampu dan sedih dalam beberapa hari setelah melahirkan.
“Baby blue” adalah kondisi yang sering terjadi dan mengenai hampir pada 50 % ibu baru.
Umumnya terjadi dalam 14 hari pertama setelah melahirkan, dan cenderung lebih buruk sekitar hari ke tiga atau empat setelah persalinan.
“Baby blue” terjadi karena tubuh anda sedang mengadakan perubahan fisikal yang besar setelah anda melahirkan, hormon-hormon dalam tubuh juga akan mengalami perubahan besar dan anda baru saja melalui proses persalinan yang melelahkan. Semua ini akan mempengaruhi perasaan anda. Anda harus sabar dengan diri anda sendiri, mengerti bahwa semua perasaan ini adalah normal, dan dalam beberapa minggu segalanya akan terasa lebih baik untuk anda.
Beberapa hal yang dapat membantu anda untuk mengatasi “baby blues”:
• Ambillah waktu untuk diri anda sendiri, dan berikan kesenangan untuk anda sendiri.
• Bacalah majalah, berbincanglah dengan saudara atau teman dekat anda.
• Beristirahatlah sedapat mungkin. Biarkan pasangan anda atau keluarga membantu anda dengan kegiatan rumah tangga dan mengurus si kecil sementara.
• Batasilah teman-teman yang akan mengunjungi anda untuk menunggu satu atau dua minggu.
Jika anda menemukan bahwa perasaan anda semakin tak menentu, sedih, bingung dan terasa sulit untuk mengurus diri anda sendiri dan keluarga anda, anda sebaiknya mengkonsultasikan dengan dokter anda sehingga dokter anda dapat menentukan apakah anda menderita dari apa yang disebut depresi pasca persalinan sehingga dokter dapat memberikan penanganan dini yang terbaik untuk anda.
Gejala-gejala dari depresi pasca persalinan:
• Dipenuhi oleh perasaan kesedihan dan depresi disertai dengan menangis tanpa sebab.
• Tidak memiliki tenaga atau sedikit saja.
• Perasaan bersalah dan tidak berharga.
• Menjadi tidak tertarik dengan bayi anda atau menjadi terlalu memperhatikan dan kuatir terhadap bayinya.
• Peningkatan berat badan yang disertai dengan makan berlebihan.
• Penurunan berat badan yang disertai tidak mau makan.
• Perasaan takut untuk menyakiti diri sendiri atau bayinya.
• Tidak dapat tidur.
• Tidur berlebihan.
Ingat untuk mencoba konsultasikanlah apa yang anda rasakan dan pikirkan dengan orang terdekat anda dan tak perlu malu untuk membicarakan dengan dokter anda, sehingga bila memang anda memerlukan penanganan lanjut, semuanya akan dilakukan seDINI mungkin.
Sumber : Dr.Suririnah - www.infoibu.com
Kehamilan Bisa Perburuk Daya Ingat
Melalui sebuah riset, para ilmuan mengungkapkan bahwa daya ingat wanita bisa terganggu setidaknya hingga setahun setelah proses melahirkan. Walaupun bagitu, pengaruhnya bersifat minor dan hanya terbatas pada tugas-tugas yang tak lazim.
“Penurunan daya ingat yang banyak dialami wanita selama proses dan pasca kehamilan layaknya penurunan sederhana yang Anda temukan ketika membandingkan kesehatan orang berusia 20 tahun dengan orang berusia 60 tahun,” ungkap salah seorang peneliti, Julie Henry seperti dikutip AFP, Selasa (5/2).
Kesimpulan yang diambil ilmuan Australia ini merupakan hasil analisa dari 14 riset berbeda di seluruh dunia. Riset-riset ini di antaranya pengujian kemampuan daya ingat dari sekitar 1.000 wanita hamil, ibu dan wanita yang tidak hamil. Dari analisa terungkap bahwa wanita hamil secara signifikan mengalami penurunan daya ingat yang buruk pada beberapa aspek yang diuji.
Tes yang paling sulit bagi para wanita adalah yang berkaitan dengan tugas-tugas baru dan sulit. “Tugas-tugas latihan mengingat yang biasa dan teratur seperti mengingat nomor telepon atau anggota keluarga kecenderungannya tidak terpengaruh,” ungkap Peter Rendell, profesor dari Universitas Katolik Australia yang menggelar riset ini bersama Henry.
“Namun begitu, ceritanya akan berbeda ketika Anda harus mengingat nomor telepon baru, nama-nama orang atau menyimpan beberapa bagian informasi penting seperti halnya multi-tasking,” tambah Rendell.Riset yang dipublikasikan dalam Journal of Clinical and Experimental Neuropsychology, ini juga menyatakan bahwa fenomena yang kerap disebut “baby brain” ini masih terlihat setahun setelah melahirkan. Akan tetapi, karena tidak ada partisipan yang diteliti setelah lewat masa tersebut, peneliti tidak dapat menentukan apakah gangguan ini akan bersifat permanen. Para ilmuwan juga merasa heran mengapa daya ingat wanita bisa terganggu pada momen yang penting seperti itu.
“Meskipun kami tidak punya bukti ekperimental untuk itu, dugaan kami adalah gangguan ini berkaitan dengan faktor gaya hidup ,” ungkap Henry, peneliti psikologi dari University of New South Wales.
“Selama hamil, rutinitas normal Anda terganggu dan Anda bisa mengalami gangguan tidur setelah melahirkan. Kami mengetahui dari riset lainnya bahwa salah satu dari dua hal tersebut bisa mempengaruhi kemampuan kognitif,” terang Henry.
AC
Sumber : AFP