Tampilkan postingan dengan label Libido - Seks. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Libido - Seks. Tampilkan semua postingan

Seks aman semasa hamil

Selain perubahan fisik, wanita yang sedang hamil biasanya memiliki perubahan kebutuhan akan perhatian dan keintiman dalam hubungan dengan pasangannya. Dari sisi emosianal, wanita hamil lebih sensitif, dan keintiman sudah bisa mereka rasakan lewat sentuhan atau sekedar bicara berdua dengan pasangan di tempat tidur sambil berpegangan tangan, meski begitu hubungan seks sama sekali tidak dilarang selama masa kehamilan.

Berikut rambu-rambu yang perlu Anda ketahui untuk melakukan seks yang aman ketika hamil : - Posisi woman on top atau menyamping adalah posisi yang nyaman untuk wanita hamil.

- Sebelum melakukan penetrasi yang dalam, yang harus diutamakan adalah kenyamanan dan kebebasan ibu hamil.

- Penggunaan benda asing di sekitar vagina atau alat bantu seks, sebisa mungkin dihindari.

- Rasa pengertian, empati, kreatifitas dan humor adalah aspek yang sebaiknya ada ketika melakukan hubungan seksual pada saat kehamilan.

- Kapan pun, ibu hamil berhak mengatakan ’Tidak’

- Jika kehamilannya memiliki resiko tinggi, penetrasi dan orgasme sebaiknya dihindari sampai dokter menyatakan aman. Rangsangan melalui puting juga harus dihindari pada kondisi kehamilan seperti ini.

- Hindari penetrasi jika air ketuban bocor atau pecah.

- Kontak seksual dalam bentuk apa pun harus dihindari jika ibu hamil atau pasangannya telah terkontaminasi atau terkena virus HIV. Gunakan kondom jika memang tetap ingin melakukan aktivitas seksual. (An)

Hamil dan Libido Tinggi


Jika Anda hamil ada dua kemungkinan berkaitan dengan gairah seksual Anda, meningkat atau justru menurun dengan drastis. Keduanya dipengaruhi hormon estrogen, namun penjelasan mengapa wanita yang satu bisa meningkat sedang yang lainnya menurun sangatlah psikologis dan individual sifatnya. Keharmonisan keluarga, latar belakang psikologis dan beberapa hal lainnya bisa saja menjadi sebab.

Namun bukan hal itu yang akan dibahas melainkan apakah wajar jika Anda hamil namun gairah dan keinginan untuk berhubungan intim semakin gencar, padahal banyak pendapat yang menyatakan bahwa itu bisa saja membahayakan janin.
Menurut seorang dokter kandungan, penurunan atau peningkatan gairah seksual itu adalah hal normal. Jika Anda mengalami peningkatan gairah seksual kala hamil, menurut dokter bisa dikarenakan kondisi hubungan Anda sehat dan saling memuaskan. Terlebih lagi jika trimester pertama yang menyebalkan sudah Anda lewati, tak heran jika hubungan seks justru semakin hot karena kemungkinan Anda untuk mencapai orgasme lebih mudah.

Namun terkadang masalah muncul karena pria atau pasangan Anda tidak memiliki hasrat yang sama. Kadang pria beranggapan hubungan intim akan melukai dan menekan janin, mereka jadi ekstra hati-hati dan menahan diri. Kenyataan ini tentunya tidak nyaman untuk Anda.

Anda tidak perlu risau dan stres jika menghadapi masalah ini, karena masturbasi pada prinsipnya tidak dilarang dan yang penting tidak akan menyakiti Anda atau bayi Anda. Jika Anda suka ingin menggunakan vibrator, itu sah saja selama tidak Anda ditempatkan pada vagina. Pelumas seperti jelly atau astroglide juga baik. Kecuali jika Anda memiliki kecenderungan kelahiran prematur, Anda harus menghentikan sementara berbagai hal yang memancing orgasme termasuk masturbasi dan hubungan intim.

sumber:
http://www.satuwanita.com/index.html/kesehatan/0,23933,0/

Sanggama Nikmat, Bayi Selamat



Kehamilan bukan penghalang aktivitas seksual. Konon, wanita hamil lebih mudah mencapai orgasme multipel.

“Berbahaya nggak ya, buat kehamilanku?” Itu memang kekhawatiran kebanyakan wanita hamil untuk melakukan hubungan seks. Tenang saja. Anda tetap boleh melakukannya selama kehamilan Anda sehat.

Asal tahu saja, tidak sedikit wanita hamil yang justru merasakan kenikmatan dan kepuasan luar biasa, dibanding semasa tidak hamil. Bahkan, sebagian wanita hamil mengaku dapat mencapai orgasme multipel dengan mudah.

Pengakuan mereka masuk akal. Sebab ketika hamil, berbagai hormon wanita dan hormon kehamilan mengalami peningkatan. Ini menyebabkan perubahan pada sejumlah organ tubuh antara lain, payudara dan organ reproduksi, termasuk vagina jadi lebih sensitif dan responsif.

Libido turun naik

Libido (hasrat seksual) dan keinginan untuk menikmati hubungan intim selama masa kehamilan sangat bervariasi. Umumnya, dorongan seksual agak menurun di trimester pertama. Maklumlah perubahan hormon yang menimbulkan mual-mual membuat Anda enggan berhubungan intim.
Tapi memasuki trimester kedua, dorongan seksual wanita hamil akan kembali meningkat, sejalan dengan hilangnya keluhan mual. Libido ini turun kembali di trimester ke-3 akibat ukuran dan berat janin yang semakin membesar.

Asal tahu saja, pengaruh perubahan hormon selama kehamilan terhadap libido itu sangat besar. Peningkatan kadar hormon estrogen, misalnya, akan meningkatkan aliran darah, khususnya di daerah sekitar panggul, termasuk alat kelamin. Ini membuat vagina beserta bibir luar (labia major), bibir dalam (labia minor), serta klitoris membesar, sehingga ujung-ujung saraf di dalamnya menjadi sangat sensitif. Pada keadaan biasa alias sedang tidak hamil, bagian-bagian tersebut hanya akan membesar dan menjadi lebih sensitif pada saat menjelang orgasme.

Selain di daerah panggul, payudara dan daerah di sekitarnya juga membesar dan menjadi jauh lebih sensitif, termasuk daerah di sekeliling puting payudara Anda. Kondisi inilah yang memungkinkan Anda lebih cepat dan mudah mencapai orgasme. Satu lagi, aliran darah yang meningkat di sekitar vagina juga menyebabkan cairan vagina menjadi lebih cepat dan lebih mudah ke luar. Kondisi ini akan membuat penetrasi jadi lebih mudah terjadi.

Kapan saat yang tepat?

Tidak ada batasan waktu kapan saat tepat untuk bersanggama selama hamil. Asalkan kehamilan Anda dinyatakan tidak memiliki risiko apa pun, lakukanlah make love kapan pun Anda menginginkannya, bahkan sampai menjelang persalinan. Dengan tetap menikmati aktivitas yang satu ini bersama suami, Anda berdua bisa saling berbagi rasa takut maupun kekhawatiran, serta stres yang mungkin muncul selama masa kehamilan.

Bagi Anda yang hamilnya berisiko, misalnya letak plasenta tidak pada posisi yang seharusnya (plasenta previa), lebih baik berkonsultasi dulu dengan dokter. Begitu juga apabila Anda mengalami perdarahan ringan, seperti keluarnya flek-flek pada kehamilan trimester pertama, tunda dulu keinginan untuk make love.

Andaikan dokter mengizinkan hubungan seksual, terimalah hal itu sebagai hadiah bagi si kecil. Anda dan suami tentu menginginkan si kecil tumbuh dan berkembang optimal hingga tiba saat kelahiran, bukan?

Jangan aneh-aneh

Hubungan seksual selama hamil bukan hanya sebuah aktivitas yang mengasyikkan, tapi di balik itu juga bermanfaat sebagai persiapan bagi otot-otot panggul Anda untuk menghadapi proses persalinan kelak. Yakni, di saat terjadi kontraksi otot-otot di daerah panggul dan organ kelamin sewaktu Anda hampir mencapai orgasme. Tapi dengan catatan, Anda tidak melakukannya dengan gaya yang ‘aneh-aneh’ dengan dalih bereksperimen untuk menambah variasi.

Memang, di masa trimester pertama, Anda masih punya banyak pilihan posisi bercinta. Namun, beberapa bulan kemudian pilihan posisi itu semakin terbatas. Posisi misionaris, wanita di bawah dan pria di atas, misalnya, menjadi tidak nikmat lagi.

Itu sebabnya, posisi sanggama selama hamil, adalah variasi dari posisi menyamping, sehingga perut Anda terbebas dari tindihan. Beberapa posisi yang bisa Anda pilih adalah:

* Wanita di atas, pria di bawah

Dengan posisi ini, Anda bisa mencegah terjadinya tekanan yang terlalu banyak pada bagian perut dan payudara. Keuntungan lainnya, Anda dapat mengatur kedalaman penetrasi penis pasangan Anda, dan juga kecepatan serta irama bercinta Anda.

• Posisi sendok

Posisi ini dilakukan dengan tubuh berbaring menyamping. Pasangan Anda berada di belakang Anda, sehingga penetrasi dapat dilakukan dari belakang. Posisi ini juga sesuai untuk dilakukan pada saat perut Anda sudah besar, atau saat Anda tidak dapat berperan aktif lagi selama bercinta.

• Posisi duduk

Posisi ini dapat menjadi pilihan di akhir trimester ke-2 atau di awal trimester ke-3. Posisi ini cukup nyaman, baik untuk Anda maupun pasangan, sekali pun tidak memberikan Anda berdua kesempatan untuk banyak melakukan gerakan aktif saat pemanasan (foreplay). Sayangnya, posisi duduk ini hanya nyaman dilakukan bagi berat tubuh Anda tergolong normal. Sebab, pada posisi ini pasangan Anda harus menopang berat tubuh Anda pada pangkuannya.

Posisi manapun yang Anda pilih, nikmatilah aktivitas seksual itu bersama suami dengan tetap memperhatikan kondisi kehamilan Anda.

Sri Lestariningsih ( ayahbunda-online.com)

Hamil Bukan Halangan Untuk Melakukan Seks

Ketika hamil, seorang wanita kerap merasa enggan dan takut untuk melakukan hubungan seksual dengan pasangannya. Padahal menurut Dr. Sarsanto W. Sarwono SpOG., hubungan seksual dapat dilakukan, terutama saat memasuki trisemester kedua.

“Wanita hamil bukan halangan untuk berhubungan intim, asal dilakukan sebelum usia kehamilan berusia tiga bulan dan setelah tiga bulan,” terang Sekertaris Umum Yayasan Aids Indonesia (YAI) ini.

Menurutnya, memasuki trisemester kedua, libido ibu hamil kembali meningkat sebab tubuh telah menerima dan terbiasa dengan kondisi kehamilan. Sedang di usia kehamilan tiga bulan, umumnya gairah seks menurun akibat morning sickness yang biasa dialami ibu hamil.

Sebagian wanita bahkan mengaku seks saat hamil lebih nikmat dari sebelum hamil, akibat meningkatnya cairan vagina dan perubahan di area genital yang bisa membuat wanita mengalami orgasme.

Namun sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter kandungan Anda, sebab pada kondisi kehamilan tertentu, dokter akan melarang melakukan hubungan seksual. Beberapa wanita yang harus hati-hati melakukan seks saat hamil adalah:

1. Pernah melahirkan secara prematur.
2. Mengalami plasenta previa, yaitu kondisi plasenta menutupi sebagian atau seluruh mulut rahim.
3. Air ketuban sudah pecah.
4. Mengalami pendarahan.
5. Anda atau pasangan mempunyai penyakit seks menular.

Dr. Sarsanto pun tak menyarankan ibu hamil untuk terus melakukan hubungan seks, apabila terjadi pendarahan. “Bila terjadi pendarahan, sebaiknya jangan berhubungan dulu sampai mendapatkan pencegahan,” tukasnya.

Posisi hubungan seks sendiri, ada beberapa yang dapat dilakukan saat hamil, yaitu:

1. Wanita di atas.
Posisi ini paling nyaman untuk ibu hamil, karena dapat mengontrol kedalaman penetrasi.

2. Posisi duduk.
Lebih banyak dilakukan saat trisemester kedua akhir dan awal trisemester ketiga, karena tidak memerlukan banyak gerakan. Mintalah suami untuk duduk dan Anda duduk di atasnya dengan posisi berhadapan atau membelakangi bila perut sudah sangat besar. Posisi ini juga memungkinkan Anda mengontrol kedalaman penetrasi.

3. Posisi laki-laki di atas, tapi separuh tubuh di baringkan atau miring.

4. Posisi berlutut atau berdiri.

Menurut Dr. Sarsanto, posisi miring atau wanita di atas adalah yang terbaik karena dinding perut ibu tidak tertekan. Sepanjang kondisi kehamilan baik-baik saja, Anda dapat melakukan hubungan seks tanpa batasan. Yang penting segera konsultasikan ke dokter kandungan bila ada keluhan.

Oleh : Rahmi
halohalo.co.id

Seks dan Kehamilan

Bahasan ini tidak hanya khusus ibu-ibu, apalagi ibu hamil.... para bapak juga perlu tahu. Sedikit peringatan awal; kata-kata dalam tulisan ini akan cenderung vulgar. Apa yang anda harapkan? Saya sedang berbicara tentang seks! Dan, tidak, saya tidak menyediakan ilustrasi pendukung.

Mengapa topik dan kata-kata vulgar?

Ngapain ngomongin ginian? Sebagian perempuan yang merasa nyaman dengan teman perempuan lainnya (yang sudah menikah), dapat bertanya dengan leluasa. Atau bertanya pada ibunya. Tapi akan tetap banyak perempuan yang memilih untuk mencari tahu (sebagai tambahan atas percakapan tersebut atau sebagai pilihan utama) dari artikel di internet atau buku bacaan. Bahkan jika mereka termasuk yang tidak terhalang rasa malu untuk bertanya pada yang ‘lebih berpengalaman’.

Saya hanya menyediakan alternatif yang nyaman. Berselancar di internet, jika anda tahu caranya, dapat bersifat privat dan rahasia. Anda tak harus bertanya sambil malu-malu dengan pipi memerah sementara yang ditanya malah tersenyum-senyum geli.

Nah, mari kita hentikan basa-basi penjelasannya.

Perempuan (dan laki-laki) merasa khawatir

Ketika saya sedang memikirkan rancangan tulisan ini (baru dipikirkan, belum menulis apapun), bahasan ini diturunkan dalam majalah Parentsguide edisi Maret 2007. Seks selama kehamilan: Don't worry be happy dan Ketika Hubungan Intim Tak Lagi Bebas, dengan foto penunjang yang… ehm (kata suami, "Ya gak papa lah, itu kan majalah orangtua"). Karena itu majalah edisi tersebut juga saya masukkan sebagai referensi.

Sebagian perempuan merasa takut melakukan hubungan seksual saat hamil. Beberapa merasa gairah seksualnya menurun, karena tubuhnya melakukan banyak penyesuaian terhadap bentuk kehidupan baru yang berkembang di rahim.

Sementara di saat yang sama, gairah yang timbul ternyata meningkat. Lho? Iya, karena sudah terbebas dari pikiran tentang 'bakalan hamil gak ya?' (sudah hamil tidak bisa lebih-hamil lagi, kan?) atau 'kapan hamilnya, ya?'. Tenang, ini bukan kelainan seksual. Memang ada masanya ketika ibu hamil mengalami peningkatan gairah seksual. Ketika kondisi kesehatan tidak bermasalah, mengapa tidak? Suami juga pasti senang-senang saja

Minat menurun: trimester pertama

Pada trimester (3 bulan) pertama, biasanya gairah seks menurun. Jangankan kepingin, bangun tidur saja sudah didera mual. Morning sickness, muntah, lemas, malas, apapun yang bertolak belakang dengan semangat dan libido. Fluktuasi hormon, kelelahan, dan eneg dapat menghisap semua keinginan 'berkegiatan'.

Minat meningkat (kembali): trimester kedua

Memasuki trimester kedua, umumnya libido timbul kembali. Tubuh telah dapat menerima dan terbiasa dengan kondisi kehamilan, sehingga ibu dapat menikmati aktivitas dengan lebih leluasa ketimbang pada trimester pertama. Dan kehamilan juga belum terlalu besar dan memberatkan seperti pada trimester ketiga.

Mual-muntah dan segala rasa tidak enak biasanya sudah jauh berkurang, dan tubuh terasa lebih nyaman. Demikian pula untuk urusan ranjang. Ini akibat meningkatnya pengaliran darah ke organ-organ seksual dan payudara.

Minat menurun lagi: trimester ketiga

Libido dapat turun kembali ketika kehamilan memasuki trimester ketiga, rasa nyaman yang sudah jauh berkurang. Pegal di punggung dan pinggul, tubuh bertambah berat dengan cepat, nafas lebih sesak (karena besarnya janin mendesak dada dan lambung), dan kembali merasa mual hanyalah beberapa penyebab yang dapat 'disalahkan' atas minat seksual yang menurun.

Tapi jika anda termasuk yang tidak mengalami penurunan libido di trimester ketiga, jangan keburu merasa tidak waras. Normal saja kok. Apalagi jika anda termasuk yang menikmati masa kehamilan, dan termasuk beruntung karena tidak tersiksa oleh kaki membengkak, sakit kepala, atau keharusan beristirahat total.

Selain hal fisik, turunnya libido juga berkaitan dengan kecemasan dan kekhawatiran yang meningkat menjelang persalinan. Pertanyaan yang paling umum adalah apakah berhubungan seksual dapat membahayakan janin.

Secara medis tidak ada sesuatu yang perlu dirisaukan jika kehamilan tidak disertai faktor penyulit, artinya kondisinya sehat-sehat saja. Di antara faktor penyulit tersebut adalah ancaman keguguran, hipertensi, muntah-muntah yang berlebihan, atau kondisi kesehatan tertentu lainnya.

Kekhawatiran akan dampak seks terhadap kehamilan

  • Keguguran
    Banyak pasangan yang merasa khawatir bahwa seks selama kehamilan dapat menyebabkan keguguran. Tapi sesungguhnya masalah sebenarnya bukan pada aktivitas seksual itu sendiri. Keguguran (early miscarriage) biasanya berhubungan dengan ketidaknormalan kromosom atau masalah lain yang dialami janin yang sedang berkembang. Bukan pada apa yang anda lakukan atau tidak lakukan.
  • Menyakiti janin
    Kontak seksual tidak akan menjangkau atau mengganggu janin, yang terlindung oleh selaput dan cairan ketuban. Cairan ketuban adalah peredam kejut yang sangat baik, sehingga gerakan saat senggama maupun kontraksi rahim saat orgasme akan teredam dan tidak mengganggu janin.

    Ejakulasi yang terjadi juga tidak akan membuat sperma menjangkau janin karena selaput ketuban yang melindungi. Penis pasangan anda juga tidak akan menyentuh bayi. Tapi jika kenyamanan adalah masalahnya, tentu ada baiknya anda bicarakan dengan pasangan mengenai posisi pilihan.

  • Orgasme memicu kelahiran prematur
    Orgasme dapat memicu kontraksi rahim. Namun kontraksi ini berbeda dengan kontraksi yang dirasakan menjelang saat melahirkan. Penelitian mengindikasikan bahwa jika anda menjalani kehamilan yang normal, orgasme -dengan atau tanpa hubungan intim (yang berarti para lelaki tidak perlu melakukan penetrasi penis, cukup 'lainnya')- tidak memicu kelahiran prematur.
  • Khawatir saja.
    Jika anda memiliki sindrom pra-menstruasi, besar kemungkinannya anda akan mengalami mood swing yang lebih parah saat hamil. Ini tidak saja berpengaruh terhadap hasrat seksual, tapi juga kekhawatiran yang cenderung berlebih pada dampaknya.

Perhatikan beberapa hal ini

  • Jika anda memilih seks oral, pastikan pasangan tidak meniupkan udara ke dalam vagina. Walaupun jarang, tapi masuknya udara ke dalam pembuluh darah (emboli) dapat berakibat fatal bagi anda dan janin. Jadi sebaiknya dihindari sebisa mungkin.
  • Hindari berbaring telentang selama berhubungan intim. Jika rahim (dan janin) menekan pembuluh darah utama di bagian belakang perut, anda dapat merasa pusing (lightheaded) atau mual. (tapi jika anda tidak bermasalah dengan posisi ini, lakukan saja)
  • Jika anda memang tidak ingin melakukan hubungan seksual, katakan apa adanya pada pasangan anda. Cemas, tak nyaman, tidak tertarik sama sekali (no desire), atau tidak memungkinkan (harus menghindari), adalah beberapa alasan yang umum.

    Cinta tak hanya sekitar selangkangan, kok. Pelukan yang hangat, ciuman mesra, atau pijatan yang nikmat juga merupakan bentuk perhatian seksual. Dan pasangan anda adalah orang yang paling wajib untuk mengerti segala ketidaknyamanan yang sedang anda rasakan.

  • Paparan pada penyakit menular seksual (PMS) selama kehamilan meningkatkan risiko infeksi yang dapat mempengaruhi kesehatan kehamilan dan janin. Jika anda berganti pasangan seksual selama kehamilan, gunakan kondom saat berhubungan intim.
  • Berkaitan dengan penyakit menular seksual: Safe sex is no sex. Keamanan 100% adalah ketika tidak berhubungan seksual. Ini tidak berarti suami-istri sebaiknya tidak berhubungan intim. Namun jika anda termasuk yang sering berganti-ganti pasangan seksual, camkan hal tersebut baik-baik. Anda mungkin tidak akan pernah tahu hingga saatnya menyesal.

Pilihan posisi nyaman dan aman

Beberapa posisi yang nyaman untuk dicoba adalah:

  • Perempuan di atas. Posisi ini memungkinkan perempuan untuk memegang lebih banyak kendali atas gerakann. Anda dapat membuatnya lambat atau cepat, sambil mengontrol kedalaman penetrasi.
  • Posisi menyamping berhadapan dengan pasangan. Tarik satu kaki untuk memberi ruang pada pasangan untuk melakukan penetrasi.
  • Posisi menyamping namun tidak berhadapan. Pria dapat melakukan penetrasi dari belakang (tetap vaginal), yang tidak menyebabkan tekanan pada perut dan penetrasi yang tidak terlalu dalam. Posisi ini cukup nyaman dilakukan sepanjang masa kehamilan
  • Perempuan bersangga pada lutut dan tangan. Yes, doggie style. Posisi ini memungkinkan tidak terjadi tekanan langsung pada perut, meski jika kehamilan membesar, perut dapat menyentuh alas.
  • Perempuan duduk di pangkuan pasangan. Ketika hamil belum terlalu besar, posisi berhadapan dapat dilakukan. Tapi ketika perut semakin membesar, posisi tidak berhadapan dapat dipilih

Di luar pilihan posisi tersebut, anda bisa saja tetap memilih posisi perempuan di bawah, jika itu yang dirasa paling nyaman. Tentu laki-laki harus menyesuaikan, dengan tidak menimpakan berat badan seluruhnya melainkan bersangga dengan tangan atau lutut.

Ketika sebaiknya tidak berhubungan seks

  • Placenta previa
    Ini adalah keadaan ketika plasenta (sebagian atau seluruhnya) berada di bagian bawah rahim, menutupi mulut/jalan keluar janin. Plasenta sebagai pemasok makanan, normalnya terletak di atas rahim. Jika penetrasi menekan mulut rahim, dikhawatirkan akan terjadi perdarahan.
  • Kelahiran prematur
    Ibu hamil dapat diduga mengalami kelahiran prematur jika mulai mengalami kontraksi reguler sebelum usia kehamilan 37 minggu, yang menyebabkan mulut rahim mulai membuka. Orgasme dikhawatirkan akan memicu kontraksi.

    Selain itu paparan terhadap hormon prostaglandin di dalam semen (cairan sperma) juga dapat memicu kontraksi, yang -walaupun tidak berbahaya bagi kehamilan normal- harus diwaspadai jika anda memiliki risiko melahirkan (janin) prematur. Jika tetap memilih berhubungan seks, keluarkan sperma di luar.

  • Perdarahan (flek/vaginal bleeding)
    Perdarahan dapat dikaitkan dengan tanda-tanda keguguran. Maka sebaiknya hubungan seksual dihindari. Kecuali jika dokter anda menyatakan bahwa flek yang anda alami adalah gejala normal yang kadang terjadi, tergantung usia kehamilan, kondisi janin, volume dan rupa flek, dan kondisi anda sendiri.
  • Mulut rahim (cervix) lemah
    Jika mulut rahim mulai membuka secara prematur, seks dapat meningkatkan risiko infeksi.
  • Janin kembar
    Jika anda mengandung janin kembar, dokter/bidan mungkin menganjurkan untuk menghindari berhubungan intim saat kehamilan memasuki trimester tiga, walaupun hingga saat ini belum ditemukan ada hubungannya antara seks dengan kelahiran kembar prematur.

Seberapa sering?

Tidak ada patokan yang ketat tentang batas seberapa sering hubungan seksual dapat dilakukan selama kehamilan. Sepanjang kondisi kehamilan anda baik-baik saja, berapakalipun tidak masalah.

Walaupun demikian, ada baiknya anda memperhitungkan dampaknya agar tidak terlalu letih. Anda tentu tidak ingin ‘dipaksa’ istirahat dan merasa tidak senang hanya karena terlalu menikmati kesenangan hingga lupa diri. Sungguh ironi, bukan?

Setelah melahirkan: kapan mulai berhubungan seks lagi?

Tubuh anda memerlukan waktu untuk pulih ke keadaan normal seperti sebelum hamil, entah anda melahirkan melalui vagina atau dengan operasi. Banyak dokter menyarankan untuk menunggu setidaknya 6 minggu sebelum mulai berhubungan intim. Periode ini memberi waktu bagi mulut rahim untuk kembali menutup dan jahitan atau perlukaan untuk sembuh.

Sekadar selingan. Ibu mertua saya pernah bercerita bahwa kenalannya mengaku mulai berhubungan seks kembali tidak lebih dari 30 hari setelah melahirkan. Luar biasa. Yang terpikir oleh saya hanya sakitnya. "Duh, apa ngga nyeri, ya? (sambil mengingat luka episiotomi dan bengkak yang terjadi saat melahirkan anak pertama)", saya membatin sambil meringis.

Apabila anda merasa terlalu sakit atau lelah (melahirkan dan mengurus bayi baru lahir sangat melelahkan, lho!), bahkan sekadar untuk memikirkan seks, pertahankan keintiman dengan cara lain. Telepon atau pesan singkat beberapa kali dalam sehari, berendam, bersantai di spa, atau luluran, adalah beberapa cara yang dapat dicoba.

Ketika anda merasa siap untuk kembali berhubungan intim, mulailah perlahan. Take it slow. Santai saja. Dan gunakan metode yang dapat diandalkan sebagai alat kontrasepsi. Menyusui secara eksklusif (dianjurkan selama 6 bulan) akan memberi anda perlindungan optimal.

Dengarkan tubuh anda

Semua anjuran atau peringatan ini belum tentu berlaku untuk semua orang. Setiap perempuan dan setiap kehamilan adalah unik. Yang berlaku untuk satu perempuan mungkin tak dapat diterapkan oleh perempuan lainnya. Dan antara kehamilan satu dengan lainnya juga mungkin tidak sama.

Yang paling penting; ‘dengarkan’ apa yang dikatakan tubuh anda. Walaupun 6 minggu telah terlewati, tapi jika tubuh anda merasa belum siap, jangan paksakan diri. Lagi-lagi pasangan anda adalah orang yang paling patut untuk mengerti dan berempati atas apa yang sedang anda alami.

source : http://lita.inirumahku.com