Tampilkan postingan dengan label Meraih Kehamilan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Meraih Kehamilan. Tampilkan semua postingan

Ide Meraih Kehamilan

Setiap pasangan yang telah menikah pasti mendambakan seorang anak sebagai penerus generasinya. Tapi, tidak semua pasangan bisa mendapatkan momongan dengan cepat. Ada yang beberapa bulan menikah sudah hamil, namun ada juga yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk hamil.

Banyak faktor yang mempengaruhi kapan seseorang bisa hamil, mulai dari faktor psikologis seperti stres atau banyak pikiran dan juga faktor fisik seperti pola makan yang tidak sehat atau kurangnya olahraga.

Seperti dikutip dari Womenshealth,  ada 7 cara yang bisa dilakukan agar cepat hamil:

1. Cari tahu masa subur. Hal pertama yang harus dilakukan ketika sudah siap untuk memiliki anak adalah mengetahui tentang kesuburan masing-masing pasangan dan bagaimana siklus kesuburan sang perempuan. Setiap perempuan memiliki siklus kesuburan yang berbeda-beda, ada yang masa suburnya 12 hari setelah hari pertama menstruasi namun ada juga yang 16 hari sesudahnya.

2. Cari tahu Basal Body Temperature (BBT). Biasakan untuk mencatat suhu pertama setiap pagi dan mencari tahu perubahannya, banyak perempuan yang BBT nya sedikit menukik sekitar satu-dua hari sebelum ovulasi, hal ini menandakan bahwa masa ovulasi sudah dekat dan dapat meningkatkan kemungkinan untuk hamil. Dengan begitu bisa melihat kapan masa ovulasi, jika hari pertama ovulasi belum hamil masih ada kemungkinan akan hamil 1 atau 2 hari berikutnya.

3. Memeriksa lendir mulut rahim atau cervical mucous (CM). Pada hari pertama setelah periode haid CM akan cenderung kering dan rapuh, jika masa ovulasi akan datang CM akan lebih lengket dan basah yang menandakan awal masa subur. CM yang terasa seperti putih telur mentah menandakan ovulasi yang sangat dekat bisa terjadi dalam waktu beberapa jam saja, dan ini merupakan waktu yang paling subur.

4. Mengonsumsi makanan yang sehat. Atur pola makan sehat setiap hari yang akan memberikan kesempatan bisa hamil lebih cepat dibandingkan dengan perokok, peminum alkohol, atau pengkonsumsi obat-obatan. Dan tetap berolahraga untuk menjaga tubuh tetap fit dan berenergi.

5. Optimis dan berpikiran positif. Menghindari perasaan depresi atau stres ketika belum dikarunia kehamilan. Teruslah memotivasi diri sendiri dan terus mencoba. Komunikasi yang baik denga pasangan akan sangat membantu mewujudkan impian bersama.

6. Ikuti beberapa posisi bercinta sederhana yang bisa memberikan kehamilan yang cepat. Setiap posisi yang berbeda sebaiknya tetap berada di tempat tidur selama 14 menit setelah melakukan hubungan.

7. Konsultasikan dengan dokter. Jika merasa tubuh sudah fit setiap hari dan segala cara sudah dicoba tapi belum hamil juga, saatnya untuk konsultasikan dengan dokter. Dokter mungkin akan memberikan vitamin yang tepat untuk dikonsumsi seperti asam folat sebagai vitamin sebelum hamil.

Selain tujuh trik tersebut, jangan lupa untuk tetap berdoa dan berusaha agar cepat diberi momongan. Semoga sukses.ver/det

Ketika Kehamilan Tak Dikehendaki


Biasanya pasangan akan merasa sangat bahagia bila istri dipastikan hamil, apalagi bagi yang sangat mendambakan kehadiran buah hati. Apakah hal ini berlaku bagi semua wanita yang mendapatkan kabar gembira tersebut? Ternyata tidak.

Kenyataan menunjukkan bahwa kadang kehamilan tak ubahnya mimpi buruk yang menjadi kenyataan, berujung pada fakta yang dirasakan bagai sebuah tragedi. Suatu realitas kehidupan yang tidak hanya menyangkut diri wanita, tetapi juga keluarga bahkan masyarakat sekitarnya.

Unwanted Pregnancy (UWP) atau kehamilan tak diinginkan merupakan terminologi yang biasa dipakai di kalangan medis untuk memberi istilah adanya kehamilan yang tidak dikehendaki oleh wanita bersangkutan maupun lingkungannya.

Umumnya UWP berkisar pada terjadinya kehamilan di luar nikah, sehingga bukan kebahagiaan yang diperoleh, tetapi sebuah penolakan akan kenyataan yang sedang dialaminya. Apakah hanya pada kondisi demikian latar belakang UWP?

Ternyata tidak. Ada beberapa kejadian yang biasanya mendahului UWP, meskipun kehamilan didapatkan dalam pernikahan. Antara lain jumlah anak sudah cukup banyak, merasa umur terlalu tua untuk hamil, riwayat kehamilan atau persalinan sebelumnya yang penuh penyulit dan komplikasi, alasan ekonomi, merasa telanjur mengonsumsi obat atau menderita kelainan yang dikhawatirkan membuat cacat pada anak, riwayat melahirkan anak cacat (mungkin lebih dari satu kali), pasangan suami-istri di ambang perpecahan, dan kegagalan penggunaan alat KB atau kontrasepsi.

Hal lain yang lebih menyedihkan adalah kehamilan hasil perkosaan atau kehamilan pada ibu cacat mental. Hasil hubungan sesama anggota keluarga sedarah (incest) kadang juga dijumpai.

Masih sederet lagi alasan yang dianggap sebagai penyebab UWP bisa kita dapatkan di klinik sehari-hari, malahan kadang latar belakangnya sederhana, seperti malu dilihat tetangga karena anak bungsunya masih kecil kok sudah hamil lagi.

Berbagai Sikap Penerimaan
Sepertinya sebuah fenomena yang mengada-ada, tetapi data dari badan terpercaya seperti UNFPA (United Nations Populations Fund) mengungkap, 75 juta atau sepertiga kehamilan dari sekitar 200 juta kehamilan setiap tahun di seluruh dunia adalah kehamilan yang tidak diinginkan.

Jelas angka kejadian tersebut membuat kita terperanjat dan bisa menempatkan seberapa penting masalah tersebut untuk dipahami dan dikaji untuk dicari pendekatan pemecahannya yang terbaik.

Bagaimana sikap wanita yang mengalami UWP? Ada tiga sikap penerimaan, yaitu (1) segera menerima dan meneruskan kehamilan sampai melahirkan dengan wajar saja, (2) mulanya menolak, tetapi kemudian menerimanya dengan beban psikologis yang mengganggu kehamilan dan proses persalinan, dan (3) tetap menolak dan berupaya untuk tidak meneruskan kehamilan.

Penyelesaian pertama adalah yang terbaik, tidak ada risiko menyalahi etika atau melanggar norma yang ada. Pasangan yang segera bisa menerima kehamilannya, tak akan banyak menghadapi masalah. Agar bisa menerima kehamilan segera, dituntut konsep pemikiran yang dewasa dan bijaksana, sedangkan dari pihak tenaga kesehatan dibutuhkan kemampuan melakukan konseling secara baik.

Pengaruh Faktor Psikis
Bagi yang menerima dengan berat hati harus diperhitungkan dampak psikologis yang timbul, agar dapat dicarikan penyelesaian dan upaya mengantisipasi selama berlangsungnya kehamilan dan proses persalinan.

Selain upaya medis, harus tetap diusahakan pendekatan yang bersifat memperbaiki goncangan psikologis karena sangat berarti dalam penanganan kasus seperti ini. Tentu diharapkan wanita yang hamil tersebut dapat menerima dengan baik, dan menjalani kehamilannya secara wajar.

Pada wanita hamil dengan beban psikologis, gejala-gejala tidak mengenakkan yang sering didapatkan di masa kehamilan akan dirasakan lebih berat. Contohnya, muntah-muntah di kehamilan awal bisa dialami sangat berlebihan sampai menimbulkan komplikasi yang mengganggu kesehatan umum.

Motivasi untuk mengonsumsi nutrisi yang baik pun bisa terganggu. Kadang perhatian yang kurang terhadap kehamilan dan janin dimanifestasikan sebagai keengganan kontrol secara teratur, bahkan malas minum suplemen yang diberikan. Kualitas kesehatan janin bisa jadi tidak akan sebaik yang diharapkan.

Di akhir kehamilan gangguan emosional bisa lebih meningkat karena bertambah dengan kecemasan menjelang persalinan. Gejala depresif dan gangguan tidur dapat dialami. Kontraksi rahim bisa dirasakan berlebihan. Faktor psikologis merupakan faktor dominan yang memengaruhi berlangsungnya persalinan. Perlangsungan dan kemajuan persalinan dapat terganggu dan risiko bedah cesar meningkat.

Pasca persalinan juga bisa terpengaruh. Keengganan merawat dan memberikan air susu kepada bayinya sering ditemui. Produksi air susu juga bisa menurun. Kesemuanya akan berdampak pada kualitas kesehatan bayi.

Abortus Provokatus
Bagi yang sama sekali tidak menerima kehamilannya, mereka akan berusaha atau memikirkan alternatif penghentian kehamilan. Menurut laporan WHO, tiap tahun terjadi 50 juta pengguguran kandungan di seluruh dunia, 20 juta di antaranya berkategori unsafe (tidak aman) dan 95 persen dilakukan di negara berkembang.

Diperkirakan 200 orang meninggal setiap hari akibat proses dan komplikasi pengguguran kandungan (abortus provokatus) di seluruh dunia. Beberapa kasus dapat disimak di bawah ini.

Nany tergolek di kamar ICU dalam keadaan tidak sadar. Kadang terjadi serangan kejang. Dari hari ke hari kondisinya menurun akibat infeksi tetanus. Heru, pacarnya, hanya bisa menunggu di samping tempat tidurnya dengan pilu.

Nany dan Heru bukan orang tak berpendidikan dan miskin. Keduanya mahasiswa tahun terakhir. Nany anak dokter kepala rumah sakit, sedangkan Heru anak pejabat tinggi lembaga hukum. Mereka memilih aborsi setelah tahu Nany hamil 2 bulan.

Seorang dukun didatanginya. Menurut pengakuan Heru, sang dukun berhasil melakukan pengguguran dengan memasukkan sesuatu ke vagina Nany lalu memberinya jamu. Sebulan Nany terkapar di ICU, tetapi dokter tak berhasil mempertahankan hidupnya. Nany mengembuskan napas terakhir di depan ayah dan ibunya.

Wanti, mahasiswi perguruan tinggi swasta, datang ke unit gawat darurat dalam keadaan pucat pasi kehabisan darah. Perdarahan masih mengalir dari vagina. Menurut pengakuan teman kosnya, siangnya Wanti mendatangi perawat kesehatan untuk menggugurkan kandungan. Perawat itu memasukkan sebuah alat dan memberinya obat yang kemudian menimbulkan rasa sakit perut hebat.

Malam itu juga Wanti menjalani operasi. Saat pembedahan dokter menemukan robekan pada rahim yang terus berdarah. Setelah operasi lebih dari 2 jam, dokter berhasil menjahit dan menghentikan perdarahan, meski Wanti akhirnya meninggal di ICU akibat komplikasi infeksi yang meluas ke seluruh tubuhnya.

Solusi Sembarangan
Sangat banyak dijumpai wanita yang mengalami UWP minum jamu atau obat secara membabi-buta dan sembarangan, seperti kasus Prapto dan Prapti ini. Mereka suami istri yang sedang giat membangun industri kecil sebagai bentuk perjuangan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih layak.

Mereka belum menginginkan anak meski sudah empat tahun berumah tangga, dan menganggap kehadiran anak akan mengganggu pekerjaannya. Dua kali kehamilan digagalkan dengan cara minum obat pelancar haid. Saat dijumpai, Prapto sedang memandangi bayi laki-laki hasil kehamilan Prapti yang ketiga.

Bayi mungil itu begitu tampannya, tak kalah dengan pelakon sinetron. Sayangnya ia tak punya tangan dan kaki. Prapto mengaku, dia memang membeli obat pelancar haid berbentuk bulat kehitaman kecil 12 biji untuk menggagalkan kehamilan istrinya. Ternyata upayanya tidak berhasil, kehamilan berlangsung terus.

Sering terjadi mereka yang melakukan aborsi lantas menyesalinya. Seperti dialami Faisal dan Betty. Sebelum menikah Betty pernah hamil dan aborsi. Setelah 6 tahun menikah, buah hati yang diharapkan tak kunjung datang karena adanya kerusakan akibat infeksi, yang diduga diperoleh saat pengguguran.

Bisa jadi orang yang mengalami UWP mencari tangan yang lebih aman, meski kenyataannya kadang lain. Ade meninggal di meja operasi saat aborsi karena ada masalah dalam teknik pelaksanaannya. Sejatinya bagi dokter kandungan tindakan abortus provokatus bukan operasi besar, tetapi jatuhnya korban meninggal atau komplikasi yang memilukan cukup sering dijumpai.

Dari sisi norma apa pun, termasuk hukum dan agama, pengguguran kandungan tidak dibenarkan. Jalan pintas yang diambil saat menghadapi masalah UWP jelas bukan sikap yang baik.

Pendekatan Menghadapinya
Apa yang sebaiknya dilakukan untuk menghindari UWP? Pendidikan seks yang bijak di lingkup keluarga, sekolah, dan masyarakat mutlak diperlukan. Penyebaran pengetahuan dan menggiatkan penggunaan kontrasepsi harus ditanamkan kepada pasangan yang belum menghendaki kehamilan.

Upaya konseling yang bermutu dan pembekalan metode serta materi konseling kepada petugas kesehatan dan tokoh masyarakat sangat dibutuhkan agar dapat dipilih sikap yang terbaik bila berhadapan dengan kasus UWP.

Kalangan yang terkait kebijakan di bidang kesehatan harus menaruh perhatian pada besarnya masalah UWP dengan melakukan upaya nyata untuk menghindari kekerasan seksual terhadap wanita, mengetahui secara komprehensif dan mampu melakukan pengendalian status dan masalah reproduksi di masyarakat.

Penulis : Dr Bharoto/kmps

Cara untuk hamil


Jika seorang wanita sedang mencoba untuk hamil, mungkin perawatan kesuburan akan direkomendasikan, dan dalam semua kemungkinan perawatannya akan dimulai dengan Clomid, yang paling populer dan berhasil kesuburan obat tersedia. Jika gagal obat ini terdapat sejumlah obat kesuburan yang lain mungkin bisa dipertimbangkan, termasuk Gonadotropin. Ini adalah perawatan kesuburan ditentukan oleh spesialis kesuburan. Hal ini penting bagi perempuan yang mencari perawatan kesuburan untuk menceritakan riwayat medisnya dokter, termasuk insiden penyakit jantung atau ginjal, kanker, asma, kelainan kejang, dll

Mari kita lihat lebih dekat sejumlah perawatan ini:

Ini dijual di bawah nama generik, clomiphene, dan di bawah nama merek seperti Serophene, digunakan untuk mengobati infertilitas wanita karena anovulasi. Ini dapat digunakan bagi perempuan yang memiliki siklus haid tidak teratur, dan wanita yang tidak mempunyai periode, dan yang tidak berovulasi.

Clomid memblokir reseptor estrogen dalam otak Anda, dan trik otak Anda berpikir bahwa Anda kadar estrogen lebih rendah daripada mereka. Otak balasan dengan mengirimkan sinyal ke tubuh yang diperlukan untuk memproduksi lebih GnRH. Tingkat Peningkatan GnRH merangsang produksi FSH, yang menyebabkan ovarium untuk tumbuh lebih besar dan matang telur. Jadi, pada dasarnya Clomid memicu produksi hormon tertentu yang merangsang indung telur ke dalam memproduksi dan melepaskan telur matang. Telur ini diharapkan bisa dibuahi selama hubungan seksual. Clomid membantu memprediksi ketika telur akan dilepaskan dari ovarium, sehingga meningkatkan kesempatan seorang wanita dari waktu hubungan seksual ketika dia subur.

Perawatan ini melibatkan mengambil satu pil setiap hari selama 5 hari berturut-turut setiap bulan. Sering kali, perempuan akan diminta untuk merekam dan suhu tubuhnya ke waktu hubungan seksual untuk hasil terbaik.

Obat ini tidak boleh digunakan selama kehamilan. Seorang wanita yang menyusui perlu berkonsultasi ke dokter, karena tidak diketahui apakah obat masuk ke dalam air susu ibu. Efek samping termasuk mual, pusing atau sakit kepala ringan, sakit kepala, sakit perut atau kembung. Penggunaan obat ini dapat menyebabkan kelahiran kembar (misalnya, kembar, kembar tiga).

Jika gagal ada sejumlah obat kesuburan lain yang dapat dipertimbangkan, misalnya Gonadotropin.

Gonadotropin dapat membantu infertilitas wanita karena mereka merangsang atau memberitahu ovarium untuk memproduksi beberapa telur dalam ovarium. Jenis pengobatan ini bisa datang dalam bentuk Human Menopausal Gonadotropin (HMG). HMG adalah hormon protein yang disekresi oleh sel-sel gonadotropin dari kelenjar hipofisis. HMG terdiri dari follicle stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH).

Perawatan ini disuntikkan selama 7 sampai 12 hari. Kemudian, suntikan Human chorionic Gonadotropin (hCG) akan membantu melepaskan telur ovarium menuju saluran tuba. Obat ini diberikan melalui suntikan ke dalam otot oleh ahli kesehatan. Efek samping dapat termasuk: sakit kepala, perubahan mood / gelisah / mudah tersinggung, sakit perut, atau kelelahan. Sekali lagi tidak diketahui apakah obat ini masuk ke dalam ASI. Penggunaan obat ini dapat menyebabkan kelahiran kembar (misalnya, kembar, kembar tiga).

by Isti

Gagal Hamil | Sperma Kurang Cerdas


Karena ingin segera punya anak, pasangan pengantin baru ini berhubungan seks setiap hari. Sayang, hasilnya masih nihil, bahkan sang istri tidak pernah orgasme. Apakah karena sperma keluar kembali? Betulkah berhubungan seks tiap hari justru tidak tepat?
“Saya pria berumur 30 tahun, istri berusia 27 tahun. Kami menikah lima bulan yang lalu. Kami sepakat segera mempunyai anak, tetapi sampai sekarang istri belum hamil. Padahal, hubungan seks cukup sering kami lakukan, bahkan hampir setiap hari. Sayangnya, istri tidak pernah merasakan kenikmatan.

Setiap selesai berhubungan suami istri, cairan sperma keluar kembali dari kelamin istri saya. Apakah karena ini istri belum hamil? Bagaimana mengatasinya? Apakah kalau sering melakukan hubungan seks sperma bisa habis?

Apakah hubungan seks yang kami lakukan tidak benar, sehingga sperma keluar kembali? Mengapa istri saya tidak merasakan kenikmatan walaupun kami pernah melakukan hubungan dalam waktu yang cukup lama?”
K.B., Bandung

Inilah jawaban dari Prof. Dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And, seksolog dan androlog dari Universitas Udayana

Kejadian Wajar
Sperma memang pasti keluar kembali dari vagina setelah hubungan seksual selesai dilakukan. Kalau tidak keluar kembali, ke mana perginya cairan yang cukup banyak itu? Jadi itu wajar dan normal terjadi, sehingga tidak dapat dihindari. Juga tidak ada kaitan dengan hubungan seksual yang tidak benar.

Untuk terjadinya kehamilan diperlukan sel spermatozoa yang terkandung di dalam cairan sperma. Sel spermatozoalah yang membuahi sel telur wanita, sehingga menyebabkan kehamilan.
Kalau kesuburan Anda dan istri baik, dan hubungan seksual dilakukan tepat pada masa subur, kehamilan mungkin terjadi. Namun, kalau Anda atau istri mengalami gangguan kesuburan atau hubungan seksual tidak dilakukan pada saat subur istri, kehamilan terhambat atau tidak mungkin terjadi.
Untuk mengetahui keadaan kesuburan, tentu diperlukan pemeriksaan, baik Anda maupun istri. Andaikata kesuburan Anda atau istri terganggu, diperlukan pengobatan agar menjadi normal atau mendekati normal.

Kualitas Berkurang
Hubungan seksual yang terlampau sering sebenarnya tidak efektif bagi terjadinya kehamilan. Kalau ejakulasi sering terjadi, kuantitas dan kualitas spermatozoa tidak baik, sehingga ketika tiba masa subur, sel spermatozoa tidak mampu membuahi.

Ejakulasi yang sering tidak akan mengakibatkan sperma habis karena sperma terus diproduksi. Syaratnya, tidak ada penyakit atau gangguan yang menghambat proses pembentukan sperma.
Sebaliknya, hubungan seksual yang terlalu jarang juga tidak efektif bagi terjadinya kehamilan karena kualitas spermatozoa menjadi terganggu ketika tiba pada masa subur istri.

Penyebab Gagal Orgasme
Mengenai istri yang tidak dapat mencapai orgasme, ada beberapa faktor yang dapat menjadi penyebabnya. Pertama, komunikasi seksual yang kurang baik. Kedua, hambatan psikis.

Ketiga, posisi hubungan seksual yang tidak efektif bagi wanita. Keempat, fungsi seksual Anda mungkin tidak optimal, khususnya fungsi ereksi dan kontrol ejakulasi. Kalau ada salah satu atau lebih faktor di atas, istri mengalami hambatan orgasme.

Kalau sebelum menikah Anda dan istri tidak cukup mengenal satu sama lain, mungkin saja komunikasi kurang baik, khususnya komunikasi seksual. Selain itu, hambatan psikis mungkin juga muncul lalu menghambat reaksi seksual istri, sehingga gagal mencapai orgasme. Untuk mengatasi hambatan orgasme, penyebab yang ada harus diatasi dulu.

Meski demikian, tidak ada hubungan antara tidak dapat mencapai orgasme dengan belum terjadi kehamilan. Artinya, kehamilan dapat saja terjadi walaupun istri tidak dapat mencapai orgasme.
Namun, membiarkan istri tetap tidak dapat mencapai orgasme, bukanlah sikap yang benar. Anda harus membantu agar istri juga dapat mencapai orgasme, sehingga kehidupan seksual menjadi harmonis, apalagi kalau penyebabnya terletak di pihak Anda.


Prof. DR.Dr. Wimpie Pangkahila Sp. And

Tips Mencapai Kehamilan


Untuk mencapai kehamilan memang susah-susah gampang atau gampang-gampang susah...? Gampang berbuatnya tapi susah jadinya atau dapat juga susah buatnya tapi kok jadi....?! Tapi yang jelas semua itu ada kiatnya dan sudah tentu ada hitungan tersendiri. Yang terpenting adalah ,tepat waktu ,tepat laku ,tepat posisi dan tepat sehat.

Yang dimaksudkan dengan semua ini adalah ,
dilakukan pada waktu yang tepat , kemudian melakukannya dengan tepat pada posisi yang tepat dan harus SEHAT.

Yang dimaksud dengan tepat waktu,
untuk mencapai kehamilan diperlukan waktu yang tepat ,yaitu waktunya indung telur mengeluarkan telur setiap bulannya ini yang harus diketahui darisisi Wanita. Dan pada pria adalah saat sperma sedang dalam jumlah yang optimal kira-kira adalah 3 hari sesudah pengeluaran yang terakhir sehingga pada waktu itu pertemuan sel telur dengan sperma sangat besar kemungkinannya.

Yang dimaksud dengan tepat laku,
melakukan hubungan intim (ML) harus dengan cara yang baik tidak sampai melukai pasangan kita sehingga terhindar dari akibat luka sehingga akan menimbulkan infeksi dan pada akhir nya akan mengurangi kesempatan akan terjadinya kehamilan. Dan akhirilah di kedalaman yang paling dalam sehingga sperma akan berada tepat di mulut rahim dan sperma yang sehat akan segera bergerak memasuki rahim lewat mulut rahim.

Tepat posisi ,
ini khususnya untuk Wanita , pada akhir dari ML wanita diharus kan pada posisi terlentang ,dengan maksud agar sperma tetap tertampung dan tidak mengalir keluar vagina. Sangat dianjurkan untuk menaruh bantal dibawah bokong sehingga posisi mulut rahim dan vagina lebih condong atau mengarah ke atas (ini dimaksudkan agar sperma tidak tumpah ke luar vagina). Setelah itu tunggulah dengan posisi seperti itu sampai minimal setengah jam sampai satu jam agar memberikan kesempatan untuk sperma bergerak masuk kedalam rahim.


sumber: http://nusaindah.tripod.com/tipsmencapaikehamilan.htm

Hamil di Usia 20, 30, atau 40-an



Sadari Konsekuensinya

Ingin punya anak adalah hak setiap orang, namun perlu dipikirkan risikonya jika menjalani kehamilan pertama di usia “lanjut”.

Wanita masa kini merdeka memilih jalan hidup dan kehidupannya. Apa yang jadi prioritas hidupnya, itulah yang diutamakan. Tentu saja situasi ini berpengaruh pada rencana kehidupan berumah tangga serta keputusan menjalani kehamilan dan punya anak.

Berbagai alasan melatarbelakangi keputusan menjalani kehamilan dan punya anak. Yang pasti, saat ini tidak sedikit wanita meyakini, bahwa menjalani kehamilan dan punya anak harus siap fisik dan mental. Masalahnya, tak jarang wanita malah seperti keterusan menunda kehamilannya dan, tak terasa, usia terus bertambah.

Padahal menurut para ahli, usia dan fisik wanita berpengaruh terhadap proses kehamilan pertama, pada kesehatan janin dan proses persalinan. World Health Organisation (WHO) memberikan rekomendasi sebagaimana disampaikan dr. J.M. Seno Adjie, SpOG., ahli kebidanan dan kandungan dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, “Sampai sekarang, rekomendasi WHO untuk usia yang dianggap paling aman menjalani kehamilan dan persalinan adalah 20 hingga 30 tahun. Tapi mengingat kemajuan teknologi saat ini, sampai usia 35 tahun masih bolehlah untuk hamil.”

Beda usia, beda kondisi fisik

Apa pengaruh usia dan fisik wanita pada kehamilan pertama dan proses persalinan? “Kehamilan di usia kurang dari 20 tahun bisa menimbulkan masalah, karena kondisi fisik belum 100% siap. Kehamilan dan persalinan di usia tersebut, meningkatkan angka kematian ibu dan janin 4-6 kali lipat dibanding wanita yang hamil dan bersalin di usia 20-30 tahun,” jelas dr. Seno.

Beberapa risiko yang bisa terjadi pada kehamilan di usia kurang dari 20 tahun adalah kecenderungan naiknya tekanan darah dan pertumbuhan janin terhambat. “Bisa jadi secara mental pun si wanita belum siap. Ini menyebabkan kesadaran untuk memeriksakan diri dan kandungannya rendah. Di luar urusan kehamilan dan persalinan, risiko kanker leher rahim pun meningkat akibat hubungan seks dan melahirkan sebelum usia 20 tahun ini,” tambah dr. Seno.

Berbeda dengan wanita usia 20–30 tahun yang dianggap ideal untuk menjalani kehamilan dan persalinan. “Di rentang usia ini kondisi fisik wanita dalam keadaan prima. Rahim sudah mampu memberi perlindungan atau kondisi yang maksimal untuk kehamilan. Umumnya secara mental pun siap, yang berdampak pada perilaku merawat dan menjaga kehamilannya secara hati-hati,” jelas dr. Seno

Sedangkan usia 30-35 tahun sebenarnya merupakan masa transisi “Kehamilan pada usia ini masih bisa diterima asal kondisi tubuh dan kesehatan wanita yang bersangkutan, termasuk gizinya, dalam keadaan baik,” ujar dr. Seno

Setelah usia 35 tahun, sebagian wanita digolongkan pada kehamilan berisiko tinggi. “Di kurun usia ini, angka kematian ibu melahirkan dan bayi meningkat. Itu sebabnya, sebenarnya, tidak dianjurkan menjalani kehamilan di atas usia 40 tahun,” ungkap dr. Seno yang juga staf pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.

Siap fisik, siap mental?

Bagaimana dengan proses kematangan secara psikologis? Dra. Agustine Sukarlan Basri, M.Si., staf pengajar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia menjelaskan, bahwa perkembangan masa dewasa bisa dibagi menjadi dewasa muda (usia 21-39 tahun), dewasa madya (usia 40-50 tahun), dan dewasa akhir (lanjut usia/lansia). Masing-masing fase memiliki ciri.

“Masa dewasa muda merupakan masa membina kedekatan dan hubungan yang lebih dalam dengan lawan jenis. Ini bisa berarti masa membina kehidupan berkeluarga. Pada masa ini secara kepribadian seorang wanita sudah siap. Secara kognitif, perkembangan intelegensia dan pola pikirnya sudah matang. Ia mampu mengatasi konflik-konflik emosional,” jelas Agustine.

Dewasa madya merupakan masa ketika secara kepribadian lebih mantap. Kehidupan wanita masa ini umumnya lebih tenang, sudah berkeluarga, dan punya anak. Bagi yang berkarier, kariernya juga sudah ‘jelas’.

Di masa dewasa akhir, umumnya kehidupan wanita lebih tenang karena anak-anak mulai beranjak besar, sehingga lebih memiliki waktu untuk diri sendiri.

Lalu mengapa saat ini tak sedikit wanita usia muda, khususnya usia 20 tahunan malah menunda berkeluarga dan punya anak?

Agustine menjelaskan, “Kalau dilihat dari tahapan perkembangan kematangan tadi, sebenarnya wanita-wanita usia 20 tahun ke atas itu siap punya anak. Mereka sudah sampai pada tahap kematangan kognitif, emosional, maupun aspek-aspek kepribadian lainnya. Tapi memang, secara situasional, saat ini hanya sedikit wanita usia 20 tahunan yang langsung memutuskan menikah dan punya anak.”

Biasanya, masih menurut Agustine, karena wanita-wanita usia 20 tahunan tersebut belum meletakkan prioritas utama hidupnya pada pernikahan. Mungkin mereka masih ingin menyelesaikan kuliah, atau ingin berkarier dahulu. Bisa jadi, keputusan ini juga karena pengaruh lingkungan.

“Kehidupan ‘kan berkembang sehingga dalam benak wanita-wanita 20 tahunan itu terbersit pikiran, ‘Kenapa pada masa ini saya harus mengurus bayi sementara teman-teman saya belum.’ Akibatnya, mereka malah berkarier, meneruskan pendidikan ke jenjang berikut, dan lain-lain. Intinya, mereka lebih memilih mendapatkan kebebasan dan mengembangkan diri seoptimal mungkin dahulu. Padahal, kalau wanita usia 20 tahunan itu memutuskan untuk kuliah namun bersedia menjalankan kehamilan dan punya anak, ya tidak masalah,” papar Agustine

Salah satu wanita itu adalah Runi (26 tahun). Ketika memutuskan menikah, ia masih dalam tahap akhir kuliahnya di Fakultas Kedokteran. Bahkan saat hamil, Runi bertugas sebagai co ass di rumah sakit yang jauh dari tempat tinggalnya.

Memang dalam perkembangan selanjutnya, wanita-wanita yang menikah dan punya anak di usia 20 tahunan, di masa dewasa madya merasa tenang karena anak sudah besar dan punya waktu untuk diri sendiri. Kepuasan perkawinan bagi mereka meningkat tatkala masuk usia dewasa madya (40-an).

“Bagi wanita yang menunda pernikahan dan keinginan punya anaknya, kelak di masa usia dewasa madya malah sibuk mengurus bayi. Akibatnya, kepuasan di masa ini pun menurun. Apalagi, meski secara mendasar di usia dewasa madya wanita lebih matang, tetapi secara fisik ia berisiko tinggi menjalani kehamilan dan persalinan. Ini bisa mendatangkan kecemasan,” jelas Agustine.

Usia lanjut, rawan risiko

Mau tidak mau, suka atau tidak suka, proses kehamilan dan persalinan berkaitan dengan kondisi dan fungsi organ-organ wanita. Artinya, sejalan dengan bertambahnya usia, tidak sedikit fungsi organ yang menurun.

“Semakin bertambah usia, semakin sulit hamil karena sel telur yang siap dibuahi semakin sedikit. Selain itu, kualitas sel telur juga semakin menurun. Itu sebabnya, pada kehamilan pertama di usia lanjut, risiko perkembangan janin tidak normal dan timbulnya penyakit kelainan bawaan juga tinggi, terutama sindroma Down,” jelas dr. Seno.

Lebih lanjut dr. Seno menjelaskan, meningkatnya usia juga membuat kondisi dan fungsi rahim menurun. Salah satu akibatnya adalah jaringan rahim tak lagi subur. Padahal, dinding rahim tempat menempelnya plasenta. Kondisi ini memunculkan kecenderungan terjadinya plasenta previa atau plasenta tidak menempel di tempat semestinya.

Selain itu, jaringan rongga panggul dan otot-ototnya pun melemah sejalan pertambahan usia. Hal ini membuat rongga panggul tidak mudah lagi menghadapi dan mengatasi komplikasi yang berat, seperti perdarahan. Pada keadaan tertentu, kondisi hormonalnya tidak seoptimal usia sebelumnya. Itu sebabnya, risiko keguguran, kematian janin, dan komplikasi lainnya juga meningkat.

Silakan hamil, asal…

Bagaimana bila seorang wanita baru menikah setelah usia 35 tahun, apakah mereka tidak diizinkan punya anak? Tentu saja tidak!. Hamil dan punya anak adalah hak asasi setiap wanita. Silakan jalani. “Tapi, selayaknya wanita yang bersangkutan memahami segala konsekuensi kehamilan di usia tua, bahwa ia memasuki kehamilan dengan risiko. Jadi, pada dasarnya, tidak penting apakah seorang wanita menunda kehamilannya sehingga baru memutuskan hamil di usia lanjut atau karena memang menikahnya di usia lanjut, yang penting wanita itu menyadari betul usia berapa ia pertama kali hamil, dan sadar risikonya,” jelas dr. Seno.

Menguatkan anjuran dr. Seno, Agustine menegaskan, “Semua terpulang pada individu yang bersangkutan. Standar ideal orang itu berbeda-beda. Hamil itu ‘ kan artinya siap jadi ibu. Banyak orang yang mau punya anak tapi masih sulit melihat bahwa mereka harus siap berkorban. Mereka harus siap memikirkan orang lain, terutama janinnya. Memang idealnya, menikah dan punya anak di masa usia prima, yaitu di bawah 30 tahun. Pada masa ini perkembangan kepribadian seorang wanita sudah siap. Maksudnya, sekolah sudah selesai dan sudah berkarier.”

Seandainya belum memungkinkan hamil dan melahirkan di usia prima, dr. Seno berpesan, “Periksakan diri secara teratur ke dokter. Dengan memperhatikan risiko, wanita bersangkutan harus lebih memperhatikan kondisi atau asupan gizinya. Krena, penurunan fungsi metabolisme tubuh dan nutrisi calon ibu sangat menentukan kondisi kehamilan dan persalinannya. Komplikasi yang mungkin muncul bisa ditekan bila kondisi keduanya baik.”

Satu hal yang patut diingat adalah tak perlu terlalu takut seandainya baru bisa hamil pertama di usia lewat dari 35 tahun. Tidak semua wanita hamil mengalami risiko itu. Ini dialami Satyorini (37 tahun). Kondisi kesehatan membuatnya terpaksa baru bisa menjalani kehamilan di usia ‘batas aman’. “Tetapi saya selalu berpikir positif dan tentu saja menjalani semua anjuran dokter,” katanya.

“Ya, konsultasi yang teratur memperkecil segala komplikasi,” tegas dr. Seno. Menyadari dan memahami risiko yang bisa terjadi, wanita bersangkutan tentu perlu memiliki kesadaran tinggi untuk menjaga dan memantau kondisi kesehatan tubuh dan janinnya, seperti memeriksakan diri dan janin secara teratur ke dokter kandungan.

Nia L. Tobing
Bahan: Laila Andaryani Hadis, NLT

Ingin Cepat Punya Momongan? Ikuti Cara Ini…

Mencoba untuk punya momongan namun belum juga berhasil? Wah, mungkin ada yang salah.

Mungkin anda pernah mendengar banyak rumor yang beredar tentang kapan saat terbaik melakukan hubungan seks sesuai siklus wanita, berapa kali hubungan seksual dilakukan, posisi dan cara seksual dilakukan dan lain sebagainya hal-hal yang meningkatkan kemungkinan untuk dapat hamil. Benarkah?

Sebaiknya Anda belajar tips berikut agar impian Anda punya anak bisa segera terlaksana ya:

1. Waktu terbaik untuk konsepsi
Penting untuk mengetahui kapan saat terbaik untuk terjadinya pembuahan pada seorang wanita. Waktu terbaik untuk konsepsi atau pembuahan adalah saat masa subur atau ovulasi dari seorang wanita. Yang perlu diperhatikan bahwa telur yang matang hanya hidup 24 jam sedangkan sperma hidup 48-72 jam dalam tubuh wanita. Oleh karenanya, melakukan hubungan seks sebelum saat ovulasi lebih baik untuk meningkatkan kehamilan daripada sehari atau dua hari sesudahnya.

2. Frekuensi hubungan seksual
Frekuensi atau seberapa sering untuk melakukan hubungan seksual, ini semua tergantung dari setiap pasangan. Tidak ada angka khusus yang dapat memastikan berapa kali seseorang harus melakukan seks untuk dapat hamil. Ada wanita yang hamil hanya dengan satu kali saja tapi yang lain memerlukan waktu yang lebih lama. Yang terpenting “seberapa sering” anda melakukan hubungan seksual pada ” waktu yang terbaik untuk konsepsi”.

3. Nikmati proses hubungan seksual anda
Penelitian menunjukkan bahwa ketika seorang wanita mencapai orgasme, akan membentuk suasana alkaline (basa) pada vagina yang mana sperma sukai dariapda kondisi normal vagina (suasana asam). Jika anda mencapai orgasme pada saat yang bersamaan atau sesaat sesudah pasangan anda ejakulasi maka kesempatan sperma untuk selamat sampai di servik lebih meningkat.

4. Posisi hubungan seksual
Posisi seks yang dianjurkan untuk meningkatkan kemungkinan terjadinya kehamilan adalah pria di atas (man on top).

5. Jangan Banyak Bergerak Setelah Seks?
Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa setelah hubungan seksual dengan tidak bergerak dan tetap dalam posisi tidur dengan kaki atau pinggul lebih tinggi setelah seks akan meningkatkan kesuburan. Karena sebenarnya sperma sudah berada di dalam servik sesaat setelah ejakulasi. Tapi ada ahli yang tetap menganjurkan untuk memberi waktu sejenak untuk sperma berenang ke servik dan menganjal pinggul dengan sebuah bantal selama seks. Yang terpenting juga sewaktu anda membersihkan, hindari mengunakan cairan pembersih vagina sesaat setelah hubungan seksual, karena cairan pembersih vagina dapat bersifat toxic untuk sperma.

Bagaimana untuk para suami?

1. Hindari celana ketat
Menghindari memakai celana yang terlalu ketat atau mandi air hangat boleh dicoba, hal ini akan menurunkan kemungkinan kehamilan karena proses penekanan atau panas di daerah testis (pembentuk sperma).

2. Relaks
Cobalah untuk tetap rileks dalam menghadapi hal ini bersama pasangan karena Stress hanya akan mempersulit terjadinya konsepsi.

3. Jaga kesehatan
Menjaga kesehatan adalah hal dasar yang penting. Pastikan tubuh anda cukup nutrisi. Ingat bahwa wanita yang sehat akan lebih mudah hamil daripada yang mempunyai berat badan yang berlebihan atau kurang.

Ini semua adalah tips untuk membantu anda untuk meningkatkan kemungkinan untuk dapat hamil. Ingatlah kebanyakan, saat sperma masuk ke dalam saluran tuba dan telur yang matang siap untuk dibuahi maka hanya 30% saja yang mempunyai hasil test kehamilan positif dan sisanya 70% walaupun melakukan semuanya dengan benar tapi tetap harus menunggu dan mencoba lagi.

Dan bila anda sudah mencoba melakukan hal ini selama 1 tahun dan belum hamil juga, sebaiknya berkonsultasilah dengan dokter anda untuk mendapatkan penanganan yang terbaik.

sumber : hanyawanita

Do’s dan Don’ts Buat yang Ingin Hamil

Do’s
- Rutin berhubungan seks
Jika Anda secara konsisten berhubungan seks dua atau tiga kali seminggu, hampir pasti Anda akan berhubungan pada masa subur.

- Berhubungan sekali sehari dekat waktu ovulasi
Hubungan seks setiap hari dekat hari ovulasi bakal meningkatkan kemungkinan hamil. Meskipun konsentrasi sperma suami agak drop sedikit setiap kali berhubungan, pengurangan konsentrasi itu bukan masalah buat pria sehat.

- Bergaya hidup sehat
Jaga berat badan sehat, olahraga teratur, makan gizi sehat berimbang, dan menjaga stres agar terkontrol. Kebiasaan sehat yang sama itu juga akan mengawal diri Anda dan bayi dengan baik saat hamil.

- Pertimbangkan perencanaan kehamilan
Dokter akan menilai kesehatan Anda secara umum dan membantu mengidentifikasi perubahan gaya hidup yang mungkin akan meningkatkan kesempatan anda mendapatkan kehamilan sehat. Perencanaan seperti ini khususnya berguna jika Anda atau pasangan punya masalah kesehatan tertentu.

- Minum vitamin
Asam folat (vitamin B9) berperan penting dalam perkembangan bayi. Minumlah suplemen asam folat paling tidak sebulan sebelum kehamilan sampai trimester pertama untuk mengurangi risiko penyakit spina bifida dan cacat tabung saraf lain sampai 70 persen.

Don’ts
- Merokok
Tembakau mengubah lendir di mulut rahim yang mencegah sperma mencapai sel telur. Merokok juga meningkatkan risiko keguguran dan menekan perkembangan bayi karena menahan asupan oksigen dan gizi untuk si bayi. Jika merokok, minta bantuan dokter untuk berhenti sebelum hamil. Untuk kepentingan anak, cobalah berhenti merokok.

- Minum alkohol

- Minum obat tanpa persetujuan dokter
Minum obat-obatan tertentu, apalagi tanpa resep dokter, dapat menyebabkan sulit untuk hamil.

Kapan harus ke dokter?
Berhubungan seks rutin tanpa pelindung, pada sebagian besar pasangan sehat, umumnya akan membuahkan kehamilan dalam waktu satu tahun. Jika Anda masih berusia awal 30 atau lebih muda dan sehat, cobalah sendiri selama setahun sebelum konsultasi dokter. Anda butuh bantuan dokter jika usia Anda di atas 35 tahun dan siklus menstruasi lebih dari 35 hari atau pasangan diduga punya masalah kesuburan. Ketidaksuburan sama-sama memengaruhi pria dan wanita. Jangan khawatir, pengobatannya ada kok, bergantung sumber masalah, ginekolog, dokter urologi, dan dokter Anda. (Gaya Hidup Sehat)