Tampilkan postingan dengan label Kehamilan - HIV. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kehamilan - HIV. Tampilkan semua postingan

Odha Perempuan hamil bertahan hidup tanpa perkembangan penyakit

Oleh: Reuters Health

Untuk perempuan terinfeksi HIV yang hamil dan memakai terapi antiretroviral (ART), prognosis jangka menengah pascakelahiran adalah baik. Hal ini menurut laporan di Journal of Acquired Immune Deficiency Syndromes 1 Oktober 2006.

Para peneliti mengatakan, “Hasil kelompok pasien kami, yang mencerminkan kebiasaan yang terus berkembang dalam rangkaian klinis umum, memberi bukti pada dokter bahwa ibu dapat bertahan hidup sampai enam tahun pasca kehamilan”.

Beberapa penelitian sebelumnya pernah mengamati dampak kehamilan pada perempuan HIV, penulis menjelaskan, tetapi sedikit yang meneliti dampaknya untuk jangka waktu lebih panjang setelah menangani infeksi HIV selama kehamilan.

Dr. Fabiola Martin dari St. Mary’s NHS Trust, London, Inggris dan rekan melaporkan hasil penelitian prospektif yang terus berlanjut di berbagai pusat penelitian tentang hasil klinis dan tanggapan terhadap terapi pascakelahiran pada 311 perempuan terinfeksi HIV yang hamil dan melahirkan 343 bayi.

Tergantung pada jumlah CD4, perempuan tersebut menerima monoterapi AZT selama kehamilan, ART jangka pendek hanya selama kehamilan, atau ART selama dan setelah kehamilan.

Pemantauan diteruskan rata-rata 33 bulan kemudian. Secara keseluruhan, tim melaporkan bahwa peserta mengalami peningkatan jumlah rata-rata CD4 secara bermakna serta penurunan jumlah rata-rata viral load, dan 98 persen ibu bertahan hidup sampai dengan kunjungan terakhir, tanpa kejadian pengembangan menjadi AIDS.

Hasil penelitian menemukan, tiga dari 85 peserta memakai monoterapi AZT selama kehamilan, dua dari 154 melanjutkan ART setelah melahirkan, dan satu dari 71 yang menerima ART jangka pendek hingga persalinan berkembang menjadi CDC kategori C.

Menurut laporan, seorang ibu meninggal dunia (akibat toksisitas obat), dan enam mengembangkan penyakit yang mendefinisi AIDS (sama dengan 1 kasus per 141 orang-tahun), dengan tidak ada perbedaan secara bermakna di antara ketiga kelompok tersebut.

Kebanyakan peserta dari ketiga kelompok yang tetap memakai ART pada pemantauan terakhir mempunyai jumlah CD4 di atas 200 dan viral load tidak terdeteksi, menurut laporan penulis.

“Data ini dapat mendorong peningkatan keyakinan para perempuan terinfeksi HIV yang ingin mempunyai atau menambah jumlah anak, bahwa angka penularan HIV dari ibu ke bayi di bawah 1 persen dapat tercapai, dan bahwa dengan pemakaian ART jarang terjadi perkembangan menjadi AIDS terlepas dari jenis terapi yang diberikan selama kehamilan,” penulis menyimpulkan.

Kotrimoksazol Meningkatkan Hasil Kehamilan pada Perempuan HIV-positif dengan Jumlah CD4 Rendah

Oleh: Reuters Health

Kotrimoksazol (kotri) sebelum melahirkan meningkatkan hasil kehamilan pada perempuan terinfeksi HIV dengan jumlah CD4 di bawah 200. Hal ini menurut laporan pada The Journal of Infectious Diseases terbitan 1 Desember 2006.

“Data kami memberi kesan bahwa selain manfaat pada kesehatan pada ibu, penggunaan kotri selama kehamilan mungkin juga memberi dampak baik pada bayi, dengan mengurangi berat badan rendah saat lahir, persalinan dini, dan kematian bayi,” Dr. Louise Kuhn dari Columbia University, New York, AS mengatakan pada Reuters Health.

Dr. Kuhn dan rekan menyelidiki apakah penggunaan kotri yang dimulai selama kehamilan akan mempengaruhi hasil kelahiran pada 255 perempuan terinfeksi HIV dengan jumlah CD4 yang rendah, yang sebelumnya pernah melahirkan anak tunggal yang tetap bertahan hidup. Hasil dari kehamilan sebelumnya ini dibandingkan dengan kehamilan berikut yang disertai dengan penggunaan profilaksis kotri.

Para penulis melaporkan bahwa profilaksis kotri berhubungan dengan penurunan yang bermakna dalam persentase persalinan dini, klorioamnionitis klinis, dan kematian bayi setelah kelahiran, serta kecenderungan adanya peningkatan 115g pada berat badan rata-rata saat lahir.

Dampak baik profilaksis kotri tetap bertahan setelah disesuaikan untuk tingkat Hb, kemiskinan berat, pendidikan ibu, dan usia kehamilan saat terlibat, menurut model multiple logistic regression,

Para peneliti mencatat bahwa hasil kelahiran di antara perempuan dengan jumlah CD4 lebih tinggi tidak berubah secara konsisten setelah profilkasis kotri dimulai. Namun ada kecenderungan yang tidak bermakna pada pengurangan kematian ibu dan jumlah yang dirawat inap.

“Perempuan terinfeksi HIV dengan jumlah CD4 yang rendah berisiko tinggi melahirkan bayi dengan berat badan rendah, persalinan dini, dan mengalami angka kematian bayi yang tinggi,” demikian dikatakan Dr. Kuhn. “Dengan demikian, bayi dari perempuan terinfeksi HIV mengalami risiko ganda – baik infeksi HIV maupun risiko tinggi lain yang berujung pada kematian. Kotri diusulkan untuk semua orang terinfeksi HIV dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah karena manfaat profilkasis yang dibuktikan terhadap angka kesakitan dan kematian.”

“Hasil ini menggairahkan, karena intervensi yang diketahui bermanfaat untuk kesehatan ibu tampaknya juga bermanfaat untuk bayi,” ditulis Dr. D. Heather Watts dan Dr. Lynne M. Mofenson dari National Institute of Child Health and Human Development, Bethesda, Maryland, AS dalam komentar terkait.

“Hanya dengan pendekatan yang menggabungkan terapi antiretroviral (ART) dan profikasis untuk infeksi oportunistik, serta terapi terus-menerus tersedia untuk perempuan pascakelahiran, kita dapat memperoleh manfaat maksimal terhadap kelangsungan hidup ibu, dan akhirnya terhadap kelangsungan hidup bayi,” tajuk rencana menyimpulkan. “Hingga pencegahan infeksi HIV pada perempuan dapat tercapai, segala upaya harus diperkuat untuk mengenal dan mengobati secara optimal perempuan terinfeksi HIV dan keluarganya.”

“Kami merasa bahwa penyelidikan tentang dampak baik kotri pada bayi juga dialami oleh perempuan hamil terinfeksi HIV yang mulai ART waktu hamil akan bermanfaat,” tambah Dr. Kuhn. “Kami juga merasa mungkin berguna untuk menyelidiki apakah dampak manfaat juga dapat dialami oleh perempuan dengan jumlah CD4 lebih tinggi dan bahkan pada perempuan tidak terinfeksi HIV dalam komunitas berisiko tinggi terhadap kelangsungan hidup bayi.”

Penelitian meneliti dampak menyusui terhadap viral load HIV

Oleh: The Kaiser Daily HIV/AIDS Report

“Pengembangan penyakit HIV pada ibu menyusui dan tidak menyusui (memilih susu formula untuk bayinya): Perbandingan prospektif T-Cell subsets selama dua tahun, Tingkat RNA HIV dan Angka kematian.” Jurnal Penyakit Infeksi: Phelgona Otieno dari Pusat Penelitian Klinis di Kenya Medical Research Institute mengamati 296 ibu hamil yang HIV-positif di Nairobi, Kenya sejak Oktober 2000 hingga Juni 2005. Seluruh perempuan ini menerima penogbatan antiretroviral AZT jangka pendek dan perawatan standar pralahir untuk mengurangi risiko penularan HIV ibu-ke-bayi. Para peneliti mengukur berat badan, lingkar lengan atas serta jumlah CD4 dan viral load pada bulan ke satu, tiga, enam, sembilan, 12, 18, dan 24 setelah melahirkan.

Sembilan puluh delapan perempuan memilih memberi susu formula dan 198 memilih menyusui bayi mereka. Berdasarkan penelitian ini, indeks massa tubuh (BMI) menurun lebih cepat pada ibu menyusui dibandingkan dengan yang memberi susu formula. Para peneliti menambahkan bahwa viral load HIV dan angka kematian tidak berbeda secara bermakna antara kedua kelompok perempuan tersebut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa menyusui terkait dengan sedikit penurunan jumlah CD4 dan BMI pada perempuan. Viral load HIV dan angka kematian pada ibu menyusui tidak lebih tinggi di antara ibu yang menyusui, “yang memberi kesan bahwa sedikit dampak buruk pada ibu menyusui yang menerima perawatan lanjutan untuk infeksi HIV,” menurut para peneliti (Otieno dan rekan, Journal of Infectious Diseases, Januari 2007).

Pengembangan penyakit HIV pada ibu menyusui

Oleh: hivandhepatitis.com

Penelitian hingga saat ini mempunyai bukti yang bertolak belakang sehubungan dengan dampak menyusui pada kematian ibu dengan HIV.

Dalam sebuah penelitian yang dilaporkan dalam Journal of Infectious Diseases edisi 15 Januari 2007, perempuan HIV-positif di Afrika dilibatkan ketika hamil dan menerima AZT jangka pendek untuk mencegah penularan virus dari ibu ke bayi. Viral load dan jumlah CD4 diukur pada awal dan pada bulan ke 1, 3, 6, 12, 18, dan 24 setelah kelahiran; hasilnya dibandingkan antara ibu yang menyusui bayinya dan ibu yang memberi susu formula.

Hasil

  • Dari 296 perempuan yang terlibat, 198 ibu menyusui dan 98 memberi susu formula.
  • Pada awal, ibu yang memberi susu formula berpendidikan lebih tinggi dan mempunyai prevalensi penyakit terkait HIV yang lebih tinggi dibandingkan ibu yang menyusui.
  • Kelompok ini tidak berbeda dibandingkan jumlah CD4 atau viral load HIV pada awal.
  • Antara 1 dan 24 bulan setelah melahirkan, jumlah CD4 menurun sebanyak 3,9 per bulan (P <>
  • Viral load meningkat sebanyak 0,005 log per bulan (P = 0,03).
  • Index massa tubuh (BMI) menurun sebanyak 0,03 kg/m2 per bulan (P <>
  • CD4 menurun lebih cepat di antara ibu menyusui dibandingkan dengan ibu yang belum pernah menyusui (7 banding 4 per bulan).
  • BMI menurun lebih cepat pada ibu menyusui (P = 0,04).
  • Viral load dan mortalitas tidak berbeda secara bermakna antara ibu yang menyusui bayinya dan ibu yang memberi susu formula.

Kesimpulan

“Menyusui dikaitkan dengan penurunan jumlah CD4 dan BMI secara bermakna,” para penulis menyimpulkan. “ Viral load dan mortalitas tidak meningkat, yang memberi kesan bahwa dampak buruk akibat menyusui adalah terbatas pada yang menerima perawatan lanjutan untuk infeksi HIV.”

Menyusui tidak dikaitkan dengan perkembangan HIV pada ibu

Oleh: David Douglas, Reuters Health

Sebuah perbandingan antara ibu yang memberi susu formula dan yang menyusui menunjukkan bahwa menyusui tidak memperburuk HIV pada perempuan yang memakai terapi jangka lama, menurut pendapat para peneliti AS dan Kenya.

“Dalam penelitian perempuan terinfeksi HIV yang terlibat dalam program perawatan HIV, kami menemukan bahwa menyusui tidak berisiko pada kesehatan ibu,” peneliti senior Dr. Grace C. John-Stewart mengatakan pada Reuters Health. “Kami tidak menemukan bukti adanya viral load atau angka kematian yang lebih tinggi di antara ibu menyusui dibandingkan ibu yang tidak menyusui.”

Dalam Journal of Infectious Diseases edisi 15 Januari 2007, Dr. John-Stewart dari University of Washington, Seattle, AS dan rekannya melaporkan tentang penelitian mereka terhadap 296 perempuan yang dilibatkan selama hamil dan diberi AZT jangka pendek. Secara keseluruhan, 198 perempuan memutuskan untuk menyusui dan sisanya memberikan susu formula.

Tindak lanjut selama dua tahun menunjukkan bahwa terjadi penurunan CD4 yang lebih besar pada ibu menyusui dibandingkan ibu yang tidak menyusui (7,2 banding 4,0 per bulan). Indeks massa tubuh (BMI) juga menurun lebih cepat pada ibu menyusui.

Tetapi, tidak ada perbedaan yang bermakna dalam viral load HIV atau tingkat kematian di antara kedua kelompok. Para peneliti mengatakan bahwa penemuan ini menunjukkan “dampak buruk yang terbatas pada ibu menyusui yang diberi pengobatan HIV jangka panjang.”

Dalam tajuk rencana bersama, Dr. Catherine M. Wilfert dari Duke University Medical Center, Durham, North Carolina, AS dan Dr. Mary Glenn Fowler dari Makerere University, Kampala, Uganda mencatat bahwa walaupun ada beberapa tanda pada awal yang bertentangan, namun kebanyakan bukti dari penelitian ini dan penelitian lain “menunjukkan bahwa menyusui tidak berbahaya bagi ibu yang terinfeksi HIV.”

Menyusui jangka pendek dan susu formula sama amannya untuk ibu HIV-positif


Oleh: Liz Highleyman, hivandhepatitis.com

Diketahui bahwa HIV dapat ditularkan dari ibu-ke-bayi melalui air susu ibu. Di negara maju, ibu HIV-positif disarankan untuk tidak menyusui, tetapi di rangkaian terbatas sumber daya, menyusui mungkin lebih aman apabila air bersih tidak tersedia.

Berdasarkan laporan PLoS Medicine 16 Januari 2007 edisi internet, para peneliti bersama tim peneliti ANRS 1201/1202 Ditrame Plus menilai keamanan menyusui di Abidjan, Pantai Gading, Afrika. Pada periode 2001-2005, perempuan HIV-positif yang hamil dan memakai profilaksis antiretroviral menjelang persalinan diberi dua pilihan pemberian susu pada bayi: memberi susu formula atau menyusui secara ekslusif hingga empat bulan. Konseling gizi dan manajemen klinis diberikan hingga dua tahun, dan susu formula disediakan secara gratis.

Para peneliti mengumpulkan data tentang munculnya dampak buruk pada kesehatan bayi (diare, infeksi pernapasan akut, kurang gizi), rawat inap di rumah sakit atau kematian. Tingkat kematian pada bulan ke-18 juga dibandingkan dengan bayi yang diamati dalam uji coba Ditrame yang terdahulu dilakukan di tempat yang sama pada 1995-1998. Pada saat itu para ibu menyusui jangka panjang dalam keadaan tidak ada intervensi pemberian susu tertentu.

Hasil

  • Dari 557 bayi yang lahir dan hidup, 262 (47%) diberi susu ibu rata-rata selama empat bulan, dan 295 diberi susu formula.
  • Perempuan yang memilih memberi susu formula lebih terpelajar, jarang yang hidup dalam satu rumah bersama dengan orang lain, dan cenderung lebih mempunyai akses air bersih di rumahnya dibandingkan ibu yang menyusui.
  • Selama dua tahun masa tindak lanjut, 37% bayi yang diberi susu formula dan 34% bayi yang disusui dalam jangka pendek tetap bebas dari dampak buruk pada kesehatan (setelah disesuaikan HR 1,10; P = 0,43).
  • Bayi yang diberi susu formula cenderung lebih banyak mengalami diare dan infeksi pernapasan akut, dan bayi yang disusui oleh ibu cenderung lebih banyak mengalami kekurangan gizi.
  • Tingkat kemungkinan dirawat di rumah sakit atau kematian dalam dua tahun adalah sama di antara anak yang diberi susu formula (14%) dan disusui dalam jangka pendek (15%) (setelah disesuaikan HR 1,19; P = 0,44).
  • Tingkat kemungkinan ketahanan hidup secara keseluruan selama 18 bulan adalah 96% di antara kedua kelompok anak yang tidak terinfeksi HIV yang disusui dalam jangka pendek dan diberi susu formula, serupa dengan yang diamati dalam uji coba Ditrame yaitu 95%.

Kesimpulan

“Dampak buruk pada kesehatan dalam dua tahun serupa di antara anak yang disusui dalam jangka pendek dan diberi susu formula,” para penulis menyimpulkan. “Tingkat mortalitas tidak berbeda secara bermakna di antara kedua kelompok ini, dan setelah disesuaikan terhadap status HIV anak, serupa dengan anak yang diamati dalam kelompok anak yang disusui dalam jangka panjang.”

Para peneliti menambahkan bahwa, “Dengan konseling gizi dan perawatan yang tepat, akses ke air bersih, dan persediaan pengganti ASI, alternatif pemberian susu ibu yang diperpanjang dapat menjadi intervensi yang aman untuk mencegah penularan ibu-ke-bayi di rangkaian perkotaan di Afrika.”

Dalam artikel perspektif pada edisi yang sama, Grace John-Stewart dari University of Washington di Seattle membahas pendapat yang ada saat ini mengenai keamanan dari berbagai cara alternatif pemberian makanan pada bayi.

Walaupun di dalam penelitian ini, memberi susu formula tampak sama amannya dengan menyusui dalam jangka pendek – dan dapat dibandingkan dengan diberi ASI dalam jangka panjang pada penelitian Ditrame yang terdahulu – dia mencatat bahwa temuan ini tidak dapat diterapkan di daerah lain di Afrika sub-Sahara, atau di rangkaian “dunia nyata” tanpa dipantau secara ketat, susu formula disediakan gratis, dan dukungan diberikan pada peserta uji coba.

PI tidak mempengaruhi toleransi glukosa selama kehamilan

Oleh: Reuters Health

Protease inhibitor (PI) tidak dikaitkan dengan peningkatan toleransi glukosa atau resistansi insulin dalam penelitian terhadap perempuan HIV-positif yang hamil dan menerima terapi antiretroviral (ART) yang mengandung PI selama kehamilan.

Tim peneliti AIDS Clinical Trial Group (ACTG) 5084, dipimpin oleh Dr. Jane E. Hitti dari Universitas Washington, Seattle, AS melakukan pemantauan prospektif terhadap 149 perempuan HIV selama masa kehamilannya. Tujuh puluh enam perempuan memakai PI dan 73 lainnya tidak.

Glukosa setelah puasa, insulin dan tingkat peptid-C diukur satu jam setelah mengkonsumsi 50 gram glukosa. Intoleransi glukosa, resistansi insulin, fungsi sel beta pankreas dan dampak pada kehamilan dinilai.

Para peneliti melaporkan, dalam American Journal of Obstetrics and Gynecology versi internet edisi April, bahwa 57 di antara 149 perempuan (38%) mempunyai intoleransi glukosa. Kejadian diabetes selama kehamilan adalah delapan persen di antara perempuan yang memakai PI dan sepuluh persen yang tidak memakai PI.

Angka ini “adalah lebih tinggi dari normal yaitu 20-25% dan 2-5% pada populasi kehamilan secara umum,” tim Dr. Hitti menekankan.

Faktor risiko untuk intoleransi glukosa adalah indeks massa tubuh (BMI), etnis Hispanik dan usia ibu hamil. Tetapi, penggunaan PI tidak dikaitkan dengan intoleransi glukosa, resistansi insulin, kelainan fungsi sel beta pankreas atau dampak buruk pada kehamilan.

Para peneliti berpikir bahwa “resistansi insulin yang disalurkan melalui plasenta yang biasa terjadi selama kehamilan melampaui segala dampak PI yang mungkin terjadi pada resistansi insulin selama kehamilan.”

“Kemungkinan peningkatan diabetes selama kehamilan yang diamati dalam populasi penelitian ini memprihatikan, walaupun hal ini mungkin terkait dengan ciri-ciri populasi seperti BMI yang tinggi dan ras/ etnis,” para peneliti ACTG menunjukkan.

“Bila hasil serupa dilihat dalam kelompok perempuan HIV yang hamil lainnya, diperlukan penelitian lebih lanjut tentang hubungan antara HIV, ART, BMI dan diabetes selama kehamilan.”

ART meningkatkan kelahiran hidup pada ibu HIV-positif

Oleh: Martha Kerr, Reuters Health

Dibandingkan dengan tingkat kelahiran hidup pada ibu yang terinfeksi HIV sebelum terapi antiretroviral (ART) ditemukan tingkat kelahiran hidup di era ART meningkat sebanyak 150 persen. Hal ini dilaporkan oleh para peneliti Women’s Interagency HIV Study dalam American Journal of Obstetrics dan Gynecology edisi Juni 2007.

Pendaftaran untuk penelitian ini dimulai pada 1994-1995, sebelum era ART. Pendaftaran kedua dilakukan antara 2001 dan 2002, dalam era ART.

Ada 569 perempuan HIV-negatif dan 2.012 perempuan HIV-positif yang terlibat pada penelitian fase pertama, dan 405 perempuan HIV-negatif dan 476 perempuan HIV-positif terlibat pada era ART. Usia rata-rata pada kelompok pertama adalah 29 tahun dan usia rata-rata pada kelompok kedua adalah 33 tahun.

Tingkat kelahiran hidup pada era sebelum ART berkisar mulai 42,4 per 1.000 orang-tahun pada perempuan dengan jumlah CD4 di bawah 200 pada saat pendaftaran, hingga 70,2 per 1.000 orang-tahun pada perempuan dengan jumlah CD4 cell di atas 350.

Tingkat kelahiran hidup pada era ART adalah 198,5 per 1.000 orang-tahun for perempuan dengan jumlah CD4 di bawah 200, dan 142,6 per 1.000 orang-tahun pada perempuan dengan jumlah CD4 cell di atas 350.

“Kami menemukan bahwa tingkat kelahiran hidup pada perempuan yang tidak terinfeksi HIV relatif tetap konstan,” mulai 101,6 hingga 106,7 kelahiran hidup per 1.000 orang-tahun, pemimpin penelitian Dr. Anjali Sharma dari State University of New York Downstate Medical Center di Brooklyn, AS berkomentar pada saat wawancara dengan Reuters Health.

“Sulit untuk menentukan secara pasti alasan peningkatan jumlah kelahiran hidup ini” setelah era ART, Dr. Sharma melanjutkan. “Mungkin karena kesehatan ibu yang lebih baik, yang mengarah pada kesuburan yang membaik.”

“Atau mungkin pengetahuan perempuan tentang pengobatan yang tersedia untuk mencegah penularan HIV pada janin menjadikan kehamilan sebagai pilihan yang paling sering dilakukan, karena perempuan yang berhasil memakai rejimen ART cenderung tidak akan menularkan HIV ke janin,” para peneliti menduga, dengan catatan bahwa tingkat penularan HIV dari ibu-ke-bayi serendah 1%-2% kini dapat dicapai.

“Tambahan lagi, kelangsungan hidup ibu secara keseluruhan yang lebih baik mungkin adalah kunci utama,” Dr. Sharma menambahkan, “karena perempuan dengan HIV dapat berharap hidup untuk merawat anak-anaknya di era ART.”

Penatalaksanaan kehamilan dengan HIV pada ibu suku Aborigin berhasil

Oleh: Blackwell Publishing

Intervensi untuk mengurangi penularan HIV dari ibu-ke-bayi selama dan setelah kelahiran memiliki tingkat keberhasilan yang setara terhadap kehamilan di antara suku Aborigin dan bukan Aborigin. Hal ini dilaporkan dalam artikel Australian & New Zealand Journal of Obstetrics & Gynaecology.

Artikel “Penularan HIV dan hasil kehamilan pada perempuan suku asli (Aborigin) di Western Australia/ Perinatal HIV Transmission and Pregnancy Outcomes in Indigenous Women in Western Australia” menunjukkan bahwa mengandalkan tim multidisipliner dalam penatalaksanaan kehamilan pada ibu HIV-positif menghasilkan kelahiran sangat baik.

Pemimpin penulis, Dr. Marisa Gilles (dari Combined Universities Centre for Rural Health, Geraldton, WA, Australia) mengatakan “Di antara 48 kehamilan pada 36 ibu HIV-positif yang ditatalaksanakan oleh tim peneliti ini, hanya satu bayi yang HIV-positif. Sebaliknya, lima bayi dari delapan kehamilan yang tidak ditatalaksanakan terinfeksi HIV.”

Tidak ada bukti perbedaan pengobatan selain kenyataan bahwa hasil perawatan kesehatan pada suku Aborigin sering lebih buruk daripada orang bukan Aborigin. Di antara semua perempuan Aborigin yang menerima perhatian dari tim multidisipliner, tidak ada yang menularkan penyakit pada anaknya.

Untuk mengurangi risiko penularan, intervensi tertentu misalnya pengobatan ibu dan bayi, pemantauan status HIV ibu secara cermat dan tidak menyusui bayinya.

“Adalah mungkin untuk mencapai hasil yang serupa dalam penatalaksanaan kehamilan pada perempuan HIV-positif Aborigin dan bukan Aborigin, melalui perawatan secara intensif, tepat budaya dan berbagai jenis keahlian serta tanpa bedah sesar pilihan.” Penelitian kami mendukung pandangan bahwa sumber daya, bukan etnisitas, menentukan hasil dan apabila asas keadilan sungguh diterapkan maka hasil serupa adalah mungkin”, dikatakan Dr. Gilles.

Kelahiran prematur terkait dengan memulai ART selama kehamilan

Oleh: Will Boggs, MD, Reuters Health

Di antara ibu yang terinfeksi HIV, memulai terapi antiretroviral (ART) selama kehamilan dikaitkan dengan peningkatan angka kelahiran prematur. Hal ini berdasarkan laporan singkat yang diterbitkan dalam Journal of Infectious Diseases edisi 15 Agustus 2007.

“Kami berharap para dokter memperhatikan data peningkatan kelahiran prematur dengan ART dan paling tidak mempertimbangkan faktor ini ketika membahas pilihan terbaik bagi ibu hamil dan bayinya,” Dr. Graham P. Taylor dari Imperial College, London, Inggris mengatakan.

Dr. Taylor dan rekan membandingkan angka kelahiran prematur pada ibu yang merencanakan hamil ketika menerima ART dan tetap memakainya selama kehamilan (pcART), ibu yang memulai ART selama kehamilan ketika mereka mengembangkan jumlah CD4 rendah dan viral load tinggi (ncART), ibu yang memulai ART jangka pendek untuk pencegahan penularan ibu-ke-bayi hingga saat kelahiran (START), dan ibu yang menerima AZT dan melahirkan dengan bedah sesar sebelum sakit kelahiran dan pecah ketuban (AZTm).

Kelahiran prematur terjadi pada 14,2% di antara 211 kelahiran, paling umum pada ibu dengan jumlah CD4 rendah pada kunjungan kehamilan pertama dan pada ibu dengan ART selama kehamilan, penulis melaporkan.

Dalam analisis multivariat, memulai ART selama kehamilan adalah satu-satunya prediktor yang bermakna terhadap kelahiran prematur.

Ibu dalam kelompok AZTm mempunyai odds terendah terhadap kelahiran prematur, laporan menunjukkan, diikuti oleh mereka dari kelompok pcART, START, dan ncART.

Pilihan ibu untuk cara kelahiran mempengaruhi keputusan terapeutik, Dr. Taylor menjelaskan.

“Apabila ibu menginginkan persalinan spontan melalui vagina maka terapi paling aman untuk mengurangi penularan ibu-ke-bayi adalah ART,” dia menunjukkan.

“Apabila ibu mempunyai jumlah CD4 yang baik (>200) dan viral load rendah (<10,000)>

HIV dan malaria kronis pada kehamilan meningkatkan risiko tetanus pada ibu dan bayi

Oleh: C. Vidyashankar, MD, Reuters Health

Infeksi HIV dan malaria kronis selama kehamilan mengakibatkan penurunan antibodi antitetanus pada ibu dan janin. Akibatnya adalah peningkatan risiko tetanus. Hal ini berdasarkan hasil penelitian dari Kenya.

Dr. Felicity Cutts di London School of Hygiene dan Tropical Medicine dan tim dari Inggris dan Kenya menganalisis titer antibodi antibody memakai tes ELISA pada 704 ibu dan serta pada darah di tali plasenta bayi yang baru dilahirkan.

Riwayat vaksinasi tetanus sebelumnya dan status HIV ibu ditentukan, dan biopsi plasenta terhadap malaria juga dilakukan.

Infeksi HIV terdeteksi pada 12 persen perempuan, malaria plasenta pada 44 persen, dan 7 persen adalah positif terhadap keduanya, para peneliti melaporkan. Empat puluh empat (6 persen) perempuan belum pernah divaksinasi terhadap tetanus selama kehamilan.

Di antara pasangan ibu-bayi, 5,3 persen ibu dan 7,8 persen bayi yang baru lahir adalah seronegatif terhadap tetanus, para peneliti melaporkan dalam Journal of Infectious Diseases edisi 15Agustus 2007. Tidak divaksinasi tetanus, infeksi HIV, malaria plasenta, malnutrisi, usia yang lebih muda dan parity (jumlah kali ibu melahirkan janin dengan usia 24 minggu atau lebih) yang lebih rendah dikaitkan dengan peningkatan odds secara bermakna terhadap status tetanus negatif dalam darah ibu, para peneliti menemukan.

Titer antibodi tetanus rata-rata yang disesuaikan secara geometri adalah kira-kira 50 persen lebih rendah di antara bayi yang dilahirkan dari ibu yang HIV-positif dan di antara bayi yang ibunya mempunyai malaria plasenta aktif-kronis atau pernah, para peneliti melaporkan. Bayi yang lahir dari ibu yang tidak divaksinasi dan yang terlahir prematur juga mempunyai tingkat antibodi tetanus yang lebih rendah, para peneliti menambahkan.

Sementara infeksi HIV mengakibatkan penekanan kekebalan dan tingkat antibodi yang lebih rendah, malaria plasenta menurunkan penyebaran antibodi pelindung melalui plasenta, para peneliti menduga.

Skrining terhadap antibodi tetanus secara rutin pada ibu yang HIV-positif atau ibu dengan malaria kronis tidak disarankan, Dr. William Moss dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health dan penulis tajuk rencana terkait mengatakan pada Reuters Health.

“Sumber daya lebih baik diberikan untuk memastikan bahwa semua ibu dalam usia subur divaksinasi secara tepat melalui pemberian toksoid tetanus secara rutin sebanyak lima kali untuk seumur hidup dan melalui kampanye vaksinasi secara massal,” Dr. Moss menyarankan.

Perempuan HIV-positif yang hamil kurang mungkin mengembangkan atau meninggal karena AIDS

Oleh: The Kaiser Daily HIV/AIDS Repor

Perempuan HIV-positif yang menjadi hamil kurang mungkin mengembangkan AIDS atau meninggal karena masalah terkait AIDS dibandingkan perempuan HIV-positif yang tidak menjadi hamil. Hal ini berdasarkan penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Infectious Diseases edisi 1 Oktober 2007.

Untuk penelitian ini, Timothy Sterling dari Universitas Vanderbilt dan rekan menilai perempuan 759 HIV-positif mulai 1997 hingga 2004 untuk menentukan bagaimana kehamilan berdampak pada pengembangan HIV. Di antara 759 perempuan, 540 menerima terapi antiretroviral (ART), dan 139 menjadi hamil sedikitnya satu kali selama penelitian. Para peneliti menemukan bahwa perempuan yang menjadi hamil berisiko lebih rendah terhadap pengembangan HIV sebelum dan sesudah kehamilan.

Sterling mengatakan bahwa belum jelas mengapa perempuan yang menjadi hamil kurang mungkin mengembangkan AIDS, tetapi menambahkan bahwa secara keseluruhan mereka lebih sehat dibandingkan perempuan yang tidak menjadi hamil. Perempuan yang menjadi hamil mempunyai viral load HIV yang lebih rendah, lebih muda dan lebih mungkin menerima pengobatan dibandingkan yang tidak menjadi hamil, Sterling mengatakan. Para peneliti menyesuaikan untuk faktor serupa itu dan menemukan bahwa “perempuan yang menjadi hamil masih kurang mungkin mengembangkan AIDS atau meninggal,” dia mengatakan. Penelitian sebelumnya menemukan risiko yang sedikit meningkat atau tidak ada risiko pengembangan HIV di antara perempuan HIV-positif yang menjadi hamil.

Sterling mengatakan lebih banyak penelitian diperlukan untuk menentukan mengapa perempuan yang menjadi hamil kurang mungkin mengembangkan AIDS. Dia menambahkan bahwa perempuan hamil mungkin “sangat bersemangat” untuk menerima pengobatan untuk mencegah penularan HIV dari ibu-ke-bayi. “Barangkali tambahan semangat ini membantu mereka untuk menjadi lebih baik,” Sterling mengatakan, menambahkan bahwa perempuan hamil dalam penelitian ini menerima perawatan yang lebih intensif, lebih sering mengunjungi klinik dan lebih mungkin menerima suplemen makanan.

Pengobatan pencegahan malaria berselang selama kehamilan pada perempuan HIV-positif

Oleh: Keith Alcorn, aidsmap.com

Pengobatan pencegahan berselang setiap bulan selama kehamilan (monthly intermittent preventive treatment during pregnancy/IPTp) dengan sulfadoksin-pirimetamin (SP) adalah sebanding dengan dua dosis SP IPTp sebagai pengobatan pencegahan baku untuk melindungi perempuan HIV-positif terhadap malaria di Zambia. Hal ini berdasarkan temuan penelitian yang diterbitkaan dalam Journal of Infectious Diseases edisi 1 Desember 2007.

Tetapi, IPTp dua dosis berisiko kekurangan dosis pada beberapa perempuan yang hanya menerima dosis tunggal sehingga berdampak buruk pada kehamilan. Hal ini berdasarkan tajuk rencana bersama yang ditulis oleh penulis laporan dalam jurnal yang sama.

Kurang lebih 12 juta perempuan hamil di Afrika sub-Sahara akan terserang malaria pada 2007. Dampak buruk kehamilan yang berpengaruh pada malaria plasenta termasuk anemia, bayi lahir meninggal, keguguran, aborsi, bayi lahir dengan berat badan rendah (low birth weight/LBW), dan kematian ibu. Bayi LBW rentan terhadap banyak penyakit anak.

Masalah kesehatan masyarakat ini bertambah dengan koinfeksi malaria dan HIV yang umum di banyak negara Afrika sub-Sahara. Perempuan hamil yang HIV-positif lebih rentan terserang malaria dibandingkan dengan perempuan hamil yang HIV-negatif. Di sisi lain serangan malaria meningkatkan viral load dan risiko penularan HIV dari ibu-ke-bayi.

IPTp adalah intervensi yang efektif untuk mengurangi infeksi plasenta, anemia pada ibu, dan LBW pada perempuan HIV-negatif. Tetapi, belum ada panduan yang jelas tentang frekuensi dosis SP yang terbaik untuk perempuan hamil yang HIV-positif yang belum memakai profilaksis kotrimoksazol.

Dua penelitian di Kenya dan Malawi sebelumnya menunjukkan bahwa IPTp sebulan sekali lebih efektif dibandingkan dua dosis IPTp pada perempuan hamil yang terinfeksi HIV dan yang HIV-negatif. Temuan ini harus dikonfirmasi dengan rangkaian lain di Afrika dengan malaria tingkat penularan yang berbeda.

Untuk menangani masalah ini, tim peneliti dari Zambia dan AS membandingkan IPTp bulanan dan dua dosis IPTp di wilayah dengan tingkat penularan malaria rendah. Penelitian ini dilakukan antara Januari 2003 dan Oktober 2004 di tiga klinik distrik di Ndola, Zambia. Tingkat kegagalan pengobatan malaria dengan SP meningkat lebih dari 2,5 kali lipat selama periode ini.

Peserta penelitian semuanya adalah perempuan hamil yang HIV-positif dengan usia kehamilan antara 16 dan 28 minggu. Setelah melakukan tes dan konseling secara sukarela (voluntary counseling and testing/VCT), perempuan HIV-positif diberi nevirapine (NVP) dan dilibatkan dalam penelitian. Penelitian ini adalah penelitian IPTp secara acak, double-blind, plasebo terkontrol dan dibandingkan dengan rejimen baku dua dosis SP dengan IPTp bulanan pada perempuan hamil yang HIV-positif di Zambia. Informasi demografi pada awal dikumpulkan dan contoh darah diambil untuk menentukan Hb serta mikroskopi malaria.

Para ibu diobati terhadap cacingan dan diberi suplemen zat besi dan folat setiap bulan. SP IPTp diberikan di bawah pengawasan langsung sampai kandungan berusia 36 minggu. Pada kunjungan tindak lanjut setiap bulan, para ibu mengisi angket dan melakukan peremiksaan kandungan serta tes laboratorium untuk anemia dan malaria.

Pada waktu melahirkan, tingkat Hb ibu dan bayi ditentukan, darah ari-ari, plasenta dan perifer ibu diambil untuk pemeriksaan malaria dengan mikroskopi, dan biopsi plasenta dilakukan untuk histologi. Berat bayi diukur dan usia kandungan diperkirakan. Satu dan enam minggu setelah kelahiran, ibu dan bayi kembali untuk pemeriksaan klinis.

Dari 456 perempuan HIV-positif yang terdaftar, 224 menerima IPTp bulanan dan 232 menerima dua dosis IPTp yang baku. Demografi pada awal dan ciri-ciri klinis, pemakaian kelambu berinsektisida, pengobatan antimalaria terakhir, dan parasitemia perifer adalah sebanding di antara kedua kelompok pengobatan.

Tidak ada perbedaan antara IPTp bulanan dan dua dosis IPTp yang baku terhadap malaria di plasenta berdasarkan histopatologi (26% banding 29%; risiko relatif [RR], 0,90) atau parasitemia plasenta (2% banding 4%; RR, 0,55). Juga tidak ada perbedaan pada anemia pada ibu, bayi lahir meninggal, kelahiran prematur, LBW, atau kematian bayi pada usia enam minggu karena sebab apapun.

Perempuan dalam kelompok IPTp bulanan rata-rata menerima empat dosis SP dan hanya satu persen menerima satu dosis. Sebaliknya, 16 % perempuan dalam kelompok dua dosis IPTp menerima satu dosis SP. Hasil pada ibu dan kelahiran dibandingkan antara perempuan yang menerima dosis tunggal dan yang menerima dua hingga empat dosis atau lebih. SP dosis tunggal secara bermakna berhubungan dengan risiko yang lebih tinggi terhadap anemia pada ibu, parasitemia perifer dan tali plasenta, bayi prematur serta LBW.

Sebagai kesimpulan, penelitian di Zambia menunjukkan bahwa di daerah penularan malaria rendah, SP IPTp bulanan adalah sebanding dengan rejimen dua dosis yang baku untuk pencegahan malaria plasenta atau dampak buruk kelahiran. Tetapi risiko kekurangan dosis meningkat secara bermakna pada rejimen dua dosis.

Temuan ini mendukung penelitian sebelumnya di Kenya dan Malawi tentang manfaat SP IPTp pada perempuan Afrika yang hamil yang HIV-positif. Mereka juga menunjukkan dampak dosis SP secara bermakna dan meremehkan keampuhan pengobatan SP dosis tunggal.

Dampak temuan ini terhadap kebijakan adalah bahwa SP IPTp bulanan tetap menjadi pilihan yang lebih baik untuk mengendalikan malaria pada perempuan hamil yang HIV-positif karena mereka lebih mungkin menerima lebih dari satu dosis SP. Tetapi, semangat tentang SP IPTp secara umum harus disikapi secara hati-hati.

Ada keprihatinan tentang kemungkinan toksisitas sulfonamida. Walaupun dalam penelitian di Zambia ini tingkat peristiwa dampak buruknya rendah, serupa pada kedua kelompok pengobatan, ada satu kasus penyakit kuning setelah lahir dan satu kasus sindrom Stevens-Johnson (SJS) yang mematikan. Karena risiko SJS meningkat secara tidak proporsional pada peserta yang terinfeksi HIV, SP IPTp pada peserta ini adalah berisiko walaupun sejauh ini kejadian toksisitas yang dilaporkan akibat SP IPTp adalah rendah.

Resistansi terhadap SP juga meningkat di banyak negara di Afrika dan pedoman IPTp berbasis SP akan segera tidak berlaku lagi di banyak negara. Tajuk rencana bersama menyarankan bahwa alternatif IPTp sebagai kombinasi obat antimalaria sebaiknya ditinjau kembali terkaitan dengan penggunaan kelambu berinsektisida karena kelambu berinsektisida adalah unsur pelengkap terhadap pengendalian malaria pada perempuan hamil. Uji coba ini sedang dilakukan di Afrika.

Koinfeksi HIV dan HCV pada kehamilan

Oleh: aidsmeds.com

Ibu hamil yang koinfeksi HIV dan virus hepatitis C (HCV) lebih mungkin memiliki viral load HIV yang dapat terdeteksi walaupun mereka memakai terapi antiretroviral (ARV) dibandingkan ibu yang hanya terinfeksi HIV. Hasil penelitian ini yang memberi kesan bahwa ibu hamil yang hidup dengan HIV dan HCV harus diobati dan dipantau secara hati-hati, akan diterbitkan dalam jurnal HIV Medicine edisi mendatang.

Selain untuk melindungi kesehatan para ibu sendiri, ibu dengan viral load HIV terdeteksi sering didorong untuk memakai ART untuk mengurangi risiko menularkan virus kepada bayinya. Tetapi hanya ada sedikit data tentang kehamilan pada ibu yang koinfeksi HIV dengan baik HCV maupun virus hepatitis B (HBV).

Claire Thorne, MD, dari UCL Institute of Child Health at University College London, Inggris dan rekan meneliti rekam medis ibu hamil yang HIV-positif dalam European Collaborative Study (ECS) untuk menentukan peran koinfeksi tersebut pada kesehatan ibu selama masa kehamilan. Dari 1.050ibu HIV-positif dalam penelitian tersebut, 12% juga terinfeksi HCV dan 5% HBV-positif.

Tim Thorne menemukan bahwa ibu yang koinfeksi HIV dan HCV dua kali lebih mungkin memiliki viral load HIV yang terdeteksi selama tiga bula terakhir kehamilannya – yang meningkatkan risiko penularan HIV pada bayinya – dibandingkan dengan ibu yang hanya terinfeksi HIV. Lebih lanjut, tim Thorne menemukan peningkatan risiko viral load terdeteksi pada ibu yang koinfeksi, terlepas mereka memakai ART atau tidak.

Infeksi HIV pada ayah berdampak kecil terhadap perkembangan janin

Oleh: Reuters Health

Infeksi HIV pada calon ayah tampak tidak berdampak terhadap proses reproduksi atau perkembangan janin. Hal ini menurut para peneliti Spanyol.

“Infeksi HIV pada pasangan serodiskordan (salah seorang pasangannya adalah Odha) dengan laki-laki yang terinfeksi tampaknya tidak berdampak negatif terhadap perkembangan janin atau hasil pembuahan dengan menyuntikkan sperma ke telur (intracytoplasmic sperm injection/ICSI),” dikatakan oleh peneliti senior Dr. Nicolas Garrido.

Dr. Garrido dan rekan di Instituto Valenciano de Infertilidad, Valensia, meneliti 30 pasangan serodiskordan dan 79 pasangan kontrol yang tidak terinfeksi HIV yang mengunjungi klinik untuk melakukan ICSI.

Tingkat pembuahan dan pembelahan adalah serupa pada kedua kelompok, demikian juga pada perkembangan janin di hari ke-2 dan 3, dan tidak ada perbedaan antara jumah rata-rata tertinggi pada janin di hari ke-3. Hal ini dilaporkan para peneliti dalam jurnal Fertility and Sterility edisi Januari 2008.

Tetapi apabila janin dibiakkan hingga 5 atau 6 hari, peningkatan hambatan perkembangan pada janin secara bermakna ditemukan pada pasangan serodikordan dibandingkan kelompok kontrol, tetapi jumah blastosis rata-rata tertinggi pada hari ke-6 adalah sebanding pada kedua kelompok.

Lebih lanjut, para peneliti menemukan bahwa tidak ada perbedaan di antara kedua kelompok dalam jumlah janin yang disimpan dan dipindahkan, ditanamkan, atau angka kehamilan, kehamilan kembar atau keguguran.

Dr. Garrido menyimpulkan “Data ini adalah sesuai untuk pasangan yang terinfeksi HIV yang berusaha untuk mempunyai anak secara aman. Janin yang dihasilkan mereka tidak terdampak oleh status penyakit atau pengobatan antiretroviral mereka.”

Ibu HIV-positif berisiko keguguran saat hamil tua

Oleh: Edwin J. Bernard, aidsmap.com

Kemungkinan ibu HIV-positif mengalami keguguran saat hamil tua tampaknya antara dua dan empat kali lebih tinggi dibandingkan ibu HIV-negatif. Hal ini berdasarkan peninjauan secara retrospektif rekam medis dari sebuah klinik HIV di London timur yang dipresentasikan dalam konferensi tahunan British HIV Association (BHIVA) ke-14 pada April 2008 di Belfast.

Penelitian pada 2004 di Uganda menemukan bahwa risiko keguguran adalah lima kali lebih tinggi pada infeksi HIV tidak bergejala dibandingkan pada ibu HIV-negatif. Namun walaupun jumlah ibu hamil yang HIV di Inggris semakin meningkat, pada 2007, 794 ibu HIV-positif diketahui hamil, hanya ada sedikit data tentang keguguran pada ibu HIV-positif.

Oleh karena itu para peneliti dari Homerton University Hospital di London timur melakukan peninjauan secara retrospektif terhadap rekam medis ibu HIV-positif yang mengunjungi klini k pralahir antara 2000 dan 2007, mengamati tingkat keguguran saat hamil tua.

Para peneliti meneliti keguguran saat hamil tua - didefinisikan sebagai 14 minggu atau lebih - karena kurang lebih 25% dari seluruh keguguran terjadi pada triwulan pertama, sering kali tidak terdeteksi dan banyak ibu tidak datang untuk perawatan pralahir sebelum 14 minggu.

Ada 242 kehamilan selama masa penelitian, 19 kehamilan (pada 18 ibu) berakhir dengan keguguran: rasio 8%.

Ciri-ciri para ibu

Usia ibu yang mengalami keguguran saat hamil tuaberkisar antara 23,3 dan 39,4 tahun, dan usia rata-rata adalah 31,6 tahun.

Semua kecuali empat ibu (78%) lahir di Afrika sub-Sahara dan 11 ibu (61%) tidak jelas status keimigrasiannya. Sebagai tambahan, tujuh (39%) tercatat memiliki masalah psikologis, misalnya kekerasan oleh pasangannya dan kesulitan keuangan yang berat. Para peneliti mencatat “Hal ini adalah pencerminan hubungan yang rumit antara HIV, migrasi dan jender yang sering merupakan kerentanan masalah sosial berat.”

Sedikit lebih dari separuh ibu (10; 56%) baru didiagnosis HIV waktu kehamilan ini dan sebagian besar (74%) memiliki penyakit HIV tidak bergejala. Jumlah CD4 rata-rata adalah 327 dan jumlah CD4 rata-rata waktu keguguran adalah 393. Sebagian besar ibu memiliki viral load HIV sedang (38% di bawah 400, 56% antara 400dan100.000).

Hampir separuh (8; 42%) ibu memakai ART (dua memakai ART berbasis NNRTIdan enam memakai ART berbasis PI). Separuh ibu memakai ART sebelum hamil dan separuh lainnya setelah menjadi hamil.

Delapan (42%) ibu sebelumnya pernah mengalami keguguran. Dua ibu tercatat merokok dan tiga koinfeksi virus hepatitis B, tetapi tidak ada riwayat penggunaan narkoba suntikan atau alkohol berat pada ibu manapun.

Data kematian janin

Lima belas kematian adalah karena keguguran saat hamil tua, dan empat karena kematian dalam kandungan.

Usia kehamilan saat keguguran berkisar antara 14 dan 39 minggu, dengan median 18 minggu.

Sejumlah 14 ibu menyetujui pemeriksaan jenazah, yang sebagaian sangat besar (10; 70%) menunjukkan penyebab kematian adalah korioamnionitis (peradangan selaput yang menutupi janin) umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri yang menyebar dari bagian rahim-vagina.

Penelitian sebelumnya memberi kesan peningkatan risiko korioamnionitis dikaitkan dengan vaginosis bakteri pada kehamilan HIV-positif, walaupun hal ini umumnya dikaitkan dengan penularan pada janin di dalam kandungan.

Walau penyebabnya belum jelas, para peneliti mengatakan, diperkirakan bahwa dampak penekanan kekebalan terhadap HIV dan kehamilan secara kumulatif mungkin mengakibatkan peningkatan penyebaran infeksi vagina.

Disarankan skrining kesehatan seksual

Hanya enam dari sepuluh ibu yang penyebab kematian janinya adalah karena korioamnionitis, sebelumnya pernah melakukan skrining kesehatan seksual waktu hamil (walaupun tidak ditemukan infeksi pada keenam ibu ini).

Para peneliti mencatat bahwa dari semua keguguran, skrining kesehatan seksual hanya dilakukan pada 53% kasus, dan mereka menunjukkan bahwa pedoman BHIVA saat ini menyarankan semua ibu diskrining terhadap infeksi menular seksual (IMS) sedini mungkin saat memasuki masa kehamilan.

Walaupun tidak ada kelompok kontrol pembanding sehingga mempersulit para peneliti untuk mengambil kesimpulan, mereka mencatat bahwa rasio keguguran 8% adalah “tinggi”, karena rasio pada populasi umum yang HIV-negatif adalah 2%, dan 4% pada ibu HIV-negatif di London timur.

Penelitian mereka menyoroti bahwa ibu dengan HIV mungkin lebih berisiko tinggi terhadap keguguran dibandingkan populasi umum. Tetapi mengapa hal ini terjadi tidak jelas, dan mereka mengakhiri dengan mengusulkan pengumpulan data prospektif skala besar tentang HIV dan keguguran pada “wilayah yang kurang diteliti ini.”

Seperempat perempuan HIV-positif menginginkan bayi

Oleh: United Press International

Satu dari empat perempuan dengan hasil tes HIV positif ingin mempunyai bayi, para peneliti AS mengatakan.

Temuan penelitian yang diterbitkan dalam jurnal AIDS and Behavior, menunjukkan bahwa dokter perlu menyadari bahwa perempuan HIV-positif mungkin bergumul dengan keputusan unjuk menjadi ibu.

“Kita tidak boleh berpendapat bahwa perempuan tidak akan menjadi hamil atau tidak ingin hamil karena sekarang mereka HIV-positif. Itu adalah dugaan yang keliru,” rekan penulis penelitian Julianne Serovich dari Ohio State University di Columbus, AS menyatakan.

“Dokter harus secara rutin berdiskusi tentang kehamilan dengan perempuan HIV-positif yang dalam usia subur.”

Dalam penelitian ini, usia adalah faktor utama dengan hampir 40% perempuan di bawah usia 30 tahun dan 11% berusia di atas 30 tahun yang memilih untuk hamil. Faktor lain yang mempengaruhi keputusan untuk menjadi ibu termasuk ketakutan menularkan penyakit pada anak dan keprihatinan tentang kesehatan mereka sendiri.

Para peneliti menungumpulkan angket tentang keputusan untuk hamil dari 74 perempuan yang terlibat dalam penelitian jangka panjang yang lebih besar, yang meneliti keputusan pengungkapan status HIV dan status kejiwaan perempuan tersebut. Penelitian ini muncul berdasarkan pengamatan para pewawancara bahwa para peserta membicarakan tentang kehamilan dan kadang menjadi hamil.

Kehamilan melindungi terhadap pengembangan penyakit HIV

Oleh: POZ

Kehamilan mungkin sesungguhnya memberi dampak perlindungan pada kesehatan ibu yang HIV-positif. Hal ini diungkapkan berdasarkan data baru yang diterbitkan dalam Journal of Infectious Diseases edisi 1 Oktober 2007. Penelitian ini menemukan bahwa kemungkinan ibu hamil yang HIV-positif mengembangkan AIDS atau kematian adalah 60 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak menjadi hamil.

Penulis utama penelitian, Jennifer Tai, MD, dari Fakultas Kedokteran Universitas Vanderbilt, dan rekan memantau 759 Odha perempuan antara Januari 1997 dan Desember 2004. Sejumlah 540 perempuan menerima pengobatan antiretroviral (ART). Selama masa penelitian, 139 di antara 759 perempuan yang diteliti menjadi hamil. Para peneliti menemukan bahwa hanya 11 (delapan persen) di antara perempuan yang menjadi hamil mengembangkan AIDS atau meninggal, dibandingkan dengan 149 (24 persen) yang tidak menjadi hamil. Karena kelompok ibu hamil lebih mungkin mempunyai ciri-ciri tertentu, misalnya jumlah CD4 yang lebih tinggi dan lebih patuh terhadap ART, maka para peneliti melakukan analisis kedua. Bahkan setelah mengendalikan faktor tersebut, penelitian ini menyimpulkan bahwa ibu hamil tetap lebih mungkin untuk tidak mengembangkan AIDS.

Sejak ART ditemukan, ini adalah penelitian yang pertama kali menilai pengembangan penyakit pada ibu hamil, dan harus memberi kenyamanan bagi Odha perempuan yang hamil atau ingin memiliki anak sendiri. Dalam tajuk rencana bersama, Kathy Anastos, MD, dokter di Montefiore Medical Center di Bronx, NY, AS menyimpulkan hasil penelitian ini secara baik dan menulis, “Bagi semua perempuan, kehamilan adalah suatu perjudian: tidak ada jaminan kehamilan normal atau bayi yang sehat. Bagi perempuan yang terinfeksi HIV menjadi hamil, temuan penelitian ini memberi kesan bahwa, paling tidak dalam hal pengembangan penyakit, rasio odds mungkin berpihak pada mereka.”