Rokok Memicu Autisme?
Hindarilah rokok, terutama saat hamil, sebab, menurut para peneliti dari The Karolinska Intitutet, Swedia, merokok di awal kehamilan dapat memicu terjadinya autisme pada bayi yang akan dilahirkan kelak. Dari sekitar 2000 anak yang dilihatkan dalam penelitian itu, ditemukan dari anak-anak yang ibunya merokok, hampir sekitar 40 prosen menderita autistik.
Para ibu hamil yang merokok, 1,4 kali lipat lebih beresika melahirkan anak autisme, karena rokok yang diisap ibu dapat mempengaruhi pertumbuhan janin dalam kandungan, diduga rokok tersebut juga dapat memicu terjadinya autistik tadi. Para peneliti itu cukup heran dengan hasil tersebut karena menurut mereka, sebelumnya tidak diketahui rokok merupakan faktor yang memicu terjadinya autisme.
sumber: Lisa Nomor 32/Tahun III/12 - 18 Agustus 2002, hal.15
Pengaruh Rokok Pada Kehamilan
Kehamilan adalah masa kritis bagi janin yang sedang dikandung, janin menerima pasok zat makanan hanya dari tubuh ibunya melalui placenta. Selama waktu kehamilan, terjadi masa kritis yang berbeda-beda dengan efek yang berbeda pula.
Racun rokok yang diserap oleh ibu (baik sebagai perokok maupun perokok pasif), meningkatkan resiko sebagai berikut pada janin:
sumber: http://rokok.komunikasi.org/artikel/pregnancy.php3
Rokok Akibatkan Keguguran
Anak terlahir sempurna dambaan tiap keluarga. Namun terkadang harapan itu tak sesuai dengan kenyataan. Bayi yang ditunggu-tunggu ternyata lahir dalam kondisi kurang sempurna atau cacat. Menurut dokter spesialis anak, dr. Putu Siadi Purniti Sp.A, tumbuh kembang janin dimulai sejak pembuahan atau konsepsi, yakni ketika bertemunya sel telur dan sperma, hingga terbentuklah janin.
Perkembangan janin dalam rahim ibu perlu mendapat perhatian khusus. Jika tak diindahkan, perkembangan bayi tak maksimal, seperti lahir cacat, berat badan rendah, hingga kematian. Beberapa faktor yang bisa memengaruhi perkembangan janin dalam kandungan di antaranya, gizi ibu saat mengandung. “Gizi harus diperhatikan, agar bayi yang dilahirkan memiliki berat badan cukup. Selain itu dengan asupan gizi, tumbuh kembang bayi kelak tak terhambat,” jelasnya.
Kekurangan gizi pada ibu hamil sering terjadi saat kehamilan 0-3 bulan (masa ngidam). Pada masa ini, makanan yang masuk dalam tubuh ibu dirasakan tak enak, sehingga perut terasa mual dan muntah. Perhatian suami harus intensif.
Faktor lain yang menyebabkan bayi lahir tak normal adalah infeksi yang sering menyerang ibu hamil, seperti infeksi torch. Biasanya, torch sering dialami ibu hamil saat menginjak trimester pertama kehamilan. Penyakit ini dapat mengakibatkan cacat bawaan. “Torch (T adalah toksoplasmosis) merupakan protozoa sistemik yang disebabkan Toxoplasma Gondii, yang menyerang manusia, binatang menyusui dan burung,” ungkap Siadi.
Infeksi toxoplasma pada trimester pertama kehamilan dapat berpengaruh 17% pada janin, akibatnya bayi mengalami abortus, cacat bawaan, maupun kematian bayi dalam kandungan, risiko gangguan perkembangan susunan saraf serta retardasi mental. Sedang huruf O dalam torch berarti other yang merupakan penyakit lain seperti sifilis dan HIV AIDS. R berarti rubela atau biasa disebut campak Jerman. Penyakit ini menyebabkan kelainan bawaan dan kematian pada janin di dalam kandungan. C adalah cytomegalovirus.
Penularan infeksi yang satu ini melalui sekresi maupun ekskresi tubuh yang terinfeksi baik itu melalui urin, ludah maupun melalui air susu ibu. Infeksi ini menyebabkan sindrom berat badan lahir rendah, kepala kecil, retardasi mental dan pembesaran hati maupun ginjal. Sedangkan huruf H dalam torch berarti herpes. Ukuran berat badan bayi saat dilahirkan normal dengan ukuran 2,5 kg-4 kg. Jika kurang, komplikasi penyakit mudah menyerang. Jika berat badan lebih dari normal, penyakit akibat diabetes militus yang menyerang si ibu, berisiko terhadap kondisi bayi.
Selain faktor tersebut, kebiasaan buruk ibu seperti merokok, mengonsumsi narkoba, alkohol juga berdampak tak baik bagi janin dalam kandungan. Seorang ibu hamil juga perlu menghindari stres, karena kondisi psikologis ibu sangat berpengaruh terhadap janin dalam kandungan. Berbagai penelitian menunjukkan, rokok dan alkohol bisa mengakibatkan keguguran, bayi lahir dengan berat badan rendah, prematur, serta cacat maupun kematian.
Karena itu wanita hamil sebaiknya menghentikan kebiasaan merokok. “Bahkan ketika tengah merencanakan kehamilan pun, merokok sebaiknya tak lagi dilakukan. Hal itu tak hanya dilakukan sang ibu, namun suami pun sebaiknya tak merokok, untuk menghindari terkena dampak merokok pasif,” tuturnya. Untuk menghindari berbagai kelainan atau pun penyakit yang dialami janin dalam kandungan, sejak dini para ibu hamil hendaknya melakukan konsultasi dengan dokter atau bidan untuk memperoleh informasi yang benar bagaimana merawat janin dalam kandungan. “Hal ini dimaksudkan agar bayi yang dilahirkan nantinya sempurna. Kelahiran bayi pun diharapkan melalui jasa bidan atau dokter, jangan dukun, hal ini untuk menghindari terjadinya komplikasi,” tegasnya
Sumber : arixs, Tokoh.
Risiko Merokok Selama Hamil
Perempuan yang merokok selama kehamilan berisiko tinggi melahirkan anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas (attention deficit hyperactivity disorder/ADHD). ADHD adalah gangguan perilaku yang disebabkan disfungsi neurobiologik dengan gejala utama tidak mampu memusatkan perhatian, hiperaktivitas, dan impulsivitas.
Hal tersebut diutarakan para peneliti dari Inggris seperti dilansir Reuters, Kamis (20/11/2003). Dr Anita Thapar dari Fakultas Kedokteran Universitas Wales College dan peneliti lainnya mengevaluasi anak-anak dengan gejala ADHD.
Evaluasi dilakukan dengan kuesioner terhadap 1.452 pasangan anak kembar. Pada kuesioner ditanyakan apakah saat hamil ibu dari para anak kembar itu merokok dan gangguan/kerugian apa saja yang dialami keluarga tersebut.
Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yang dipublikasikan pada American Journal of Psychiatry edisi November, faktor genetik merupakan hal yang paling utama dalam kasus ADHD. Meskipun demikian, kaitan merokok selama kehamilan dengan perkembangan munculnya gejala ADHD pada anak turut diperhitungkan. Hasil penelitian itu oleh para peneliti dari Universitas Wales dievaluasi kembali dengan mempertimbangkan dampak gangguan sosial, berat badan saat lahir, dan merokok selama kehamilan. Hasil evaluasi menunjukkan, merokok selama hamil secara signifikan mempengaruhi perkembangan gejala ADHD.
“Penemuan kami memperluas hasil penelitian sebelumnya, yang memperlihatkan kaitan merokok selama kehamilan dengan ADHD, walaupun faktor genetik berkontribusi pada gejala ADHD,” kata Thapar.
Gejala Utama
Psikiater dr Dwidjo Saputro SPKJ dalam makalahnya “Attention Deficit/Hyperactivity Disorder sebagai Penyerta Autistic Spectrum Disorder” menyebutkan ADHD termasuk dalam kelompok Attention Deficit and Disruptive Behavior Disorder.
Termasuk dalam kelompok itu adalah gangguan perilaku lain seperti gangguan sikap menentang, gangguan tingkah laku. Gangguan semacam itu merupakan gangguan psikiatrik pada anak dan remaja yang paling banyak ditemukan di klinik maupun populasi umum dengan prevalensi berkisar 1 persen sampai 29,2 persen.
Penelitian di sekolah dasar di Kabupaten Sleman Yogyakarta pada 2000 menunjukkan prevalensi ADHD 9,5 persen. Pada setiap kelas sekolah dasar diperkirakan 2-3 anak dengan ADHD atau 1-2 di antara 10 anak sekolah dasar mengalami ADHD.
Gejala utama kesulitan memusatkan perhatian bisa bermanifestasi sebagai seolah tidak mendengar, sering tidak mampu memusatkan perhatian secara terus-menerus pada waktu menyelesaikan tugas, sering perhatiannya mudah beralih oleh rangsang dari luar.
Sementara gejala utama hiperaktivitas-impulsivitas dapat bermanifestasi sebagai terlalu aktif, tidak mengenal lelah, tidak dapat duduk diam, tangan dan kaki selalu bergerak, sering berlari atau memanjat, terlalu banyak berbicara, tidak dapat menunggu giliran atau antre, sering usil atau mengganggu anak lain.
Ciri perilaku semacam itu juga ditemukan pada 2 persen sampai 17 persen anak normal dan tumpang tindih dengan gejala gangguan psikiatrik lain, seperti gangguan perkembangan pervasive termasuk gangguan autistik, gangguan cemas, depresi dan skizofrenia.
Sumber : Suara Pembaruan