Wah, Plasenta Lepas!



Lepasnya plasenta termasuk kasus gawat, dan dokter mesti segera melakukan tindakan.

Lepasnya ari-ari (solusio plasenta) dari tempatnya yang normal, yaitu di dinding rahim bagian atas, kebanyakan terjadi pada kehamilan trimester ketiga. Namun, ada juga yang terjadi sebelum kehamilan berusia 20 minggu.

Ada tiga bentuk gangguan ini. Yakni, seluruh ari-ari terlepas (solusio plasenta totalis), sebagian ari-ari terlepas (solusio plasenta parsialis), atau sebagian kecil dari pinggiran ari-ari terlepas (ruptura sinus marginalis).

Ada 3 tingkatan

Dilihat dari berat ringannya, kasus ini bisa dibagi jadi 3 tingkatan, dan masing-masing memiliki gejala sendiri.

* Solusio plasenta ringan: lepasnya sebagian kecil ari-ari. Gejalanya, perut terasa sedikit sakit, rahim terasa agak tegang, darah yang keluar sedikit berwarna kehitaman.

* Solusio plasenta sedang: ari-ari telah terlepas lebih dari seperempatnya. Gejalanya, perut terasa sakit, rahim tegang terus-menerus, dan keluar darah dari vagina. Meski darah nampaknya sedikit, tetapi sebenarnya telah terjadi perdarahan cukup hebat di ‘dalam’ (sekitar 1000 ml). Dalam kondisi ini, si ibu jatuh syok (kehilangan kesadaran), janin mungkin telah meninggal, walau dalam beberapa kasus ditemukan janin masih hidup tapi kondisinya gawat.

* Solusio plasenta berat: ari-ari telah terlepas lebih dari 2/3 bagian. Biasanya ibu telah syok dan janin meninggal. Rahim kalau diraba terasa sangat tegang dan terasa nyeri. Mungkin saja tidak terjadi perdarahan lewat vagina, karena telah terjadi kelainan pembekuan darah.

Apa akibatnya?

Kasus ini termasuk berat. Akibat dari lepasnya plasenta, si ibu bisa meninggal, janin meninggal, dan terjadi pembekuan darah. Umumnya, janin yang masih dapat diselamatkan adalah hanya pada kasus solusio plasenta ringan.

Meski penyebabnya sampai kini belum diketahui dengan pasti, tetapi diduga karena:
· Usia ibu waktu hamil di atas 35 tahun.
· Kurangnya asam folat.
· Penyakit darah tinggi menahun.
· Pre-eklampsia (gejala keracunan kehamilan).
· Tali pusat pendek.

Gejala plasenta terlepas memang sering rancu dengan kasus plasenta menutupi jalan lahir (plasenta previa). Tetapi yang membuat dokter curiga kalau hal ini plasenta terlepas adalah, gejala rahim yang terasa tegang terus-menerus dan darah yang keluar berwarna kehitaman. Sementara pada kasus plasenta previa, darah yang keluar berwarna merah segar. Karena itu, untuk memastikan dan menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan lewat Ultrasonografi (USG).

Tergantung kasus

Penanganan solusio plasenta amat tergantung dari berat ringannya kasus.

* Solusio plasenta ringan. Apabila terjadi si usia kehamilan kurang dari 36 minggu dan perdarahannya berhenti, si ibu tidak merasakan sakit perut, ia akan dirawat di rumah sakit dengan pengawasan yang ketat. Tetapi, bila perdarahan terjadi terus-menerus dan lewat USG terlihat makin banyak bagian plasenta yang lepas, maka dokter akan melakukan tindakan mengakhiri kehamilan. Namun, bila diketahui janin masih hidup, dokter akan melakukan operasi caesar untuk menyelamatkannya. Bila janin meninggal, ketuban akan dipecahkan dan ibu diinfus agar janin bisa segera dilahirkan.

* Solusio plasenta sedang dan berat. Dokter biasanya akan melakukan:
· Transfusi darah untuk si ibu.
· Segera memecahkan ketuban dan diberi infus oksitosin untuk mempercepat persalinan.
· Apabila lewat cara tadi persalinan tidak kunjung terjadi, dokter akan melakukan operasi caesar agar plasenta yang lepas tadi dapat segera diatasi dan nyawa ibu terselamatkan!

Laila Andaryani Hadis

Konsultasi ilmiah: dr. I.P.G Kayika, SpOG, POGI Jaya, Divisi Ginekologi Sosial, Departemen Obstetri & Ginekologi, FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Ayo, Unjuk Gigi!


Bermasalah dengan gigi? Wah, jangan, dong! Rawat gigi, dan cling… senyum Anda pun memesona.

Sakit gigi itu luar biasa rasanya. Apalagi kalau terjadi di saat hamil, wah... bisa Anda bayangkan sendiri bagaimana ‘menyiksanya’. Makanya, tak ada cara yang lebih baik menghindarinya selain menjaga kesehatan gigi sejak dini.

Menjaga kesehatan gigi itu mudah. Cukup membiasakan diri menggosok gigi secara benar setiap kali habis makan, dan rutin mengunjungi dokter gigi setiap 6 bulan sekali.

Bersihkan gigi = keharusan

Pengaruh hormon kehamilan kadang menimpa gigi geligi Anda. Beberapa wanita mengalami pembesaran gusi sehingga mudah berdarah. Selain itu, morning sickness di masa awal kehamilan juga punya andil dalam meningkatkan derajat keasaman mulut, yang memudahkan terjadinya lubang pada gigi. Kondisi ini bisa jadi lebih parah kalau Anda, karena rasa mual, jadi malas menggosok gigi.

Makanya, menjaga kebersihan dan kesehatan rongga mulut dan gigi di masa hamil adalah keharusan.

* Kumur setelah muntah, untuk membersihkan sisa-sisa asam lambung yang ada di dalam mulut.
* Pilih pasta gigi yang membuat Anda segar, sehingga terhindar dari rasa mual.
* Sesekali gunakan obat kumur bila ada rasa tidak nyaman dalam mulut.
* Gunakan benang gigi (dental floss) untuk menjangkau sisa-sisa makanan yang mungkin masih terselip di sela-sela gigi-geligi.
* Kurangi makanan yang terlalu banyak asam dan manis karena cenderung merusak gigi. Untuk mengatasi rasa mual dan tidak enak pada mulut, boleh-boleh saja mengonsumsi makanan asam dan manis, namun batasi secukupnya.
* Konsumsi makanan mengandung kalsium untuk pertumbuhan cikal bakal gigi si kecil mulai muncul di trimester pertama.

Tambal gigi? Boleh saja!

Kalau gusi dan gigi geligi Anda terganggu, jangan tunda lagi, segeralah ke dokter gigi sebelum kondisinya semakin parah.

* Katakan pada dokter gigi kalau Anda sedang hamil. Dengan begitu, dokter bisa menentukan tindakannya, termasuk dalam pemilihan obat, agar tidak mengganggu pertumbuhan dan kesehatan janin.
* Seandainya ada gigi yang harus dicabut, umumnya dokter akan menundanya bila Anda sedang hamil di trimester pertama dan ketiga. Karena, prosedur cabut gigi seringkali membuat ibu hamil stres. Padahal masa trimester pertama kehamilan merupakan periode pembentukan janin. Stres mudah memicu terjadinya keguguran. Sedangkan pada masa trimester ketiga, stres dapat memicu terjadinya kontraksi. Biasanya Anda akan diberi obat khusus untuk mencegah sakit.
* Hindari penggunaan amalgam sebagai bahan penambal gigi. Karena, dalam amalgam ada kandungan merkuri (Hg). Logam berat tersebut melalui aliran darah bisa ikut masuk ke dalam kandungan dan membahayakan janin. Jadi sebelum menambal gigi, konsultasikan dulu dengan dokter gigi Anda, bahan apa yang aman untuk menambal gigi.
* Hindari rontgen gigi dengan sinar-X karena dapat menganggu pertumbuhan janin.

Boleh Pasang Kawat Gigi?

Sebaiknya Anda tunda dulu sampai si kecil lahir. Bukankah perawatan gigi seperti ini tidak bersifat darurat? Toh, ini hanya masalah estetika saja. Lagi pula, Anda harus bolak-balik ke dokter gigi. Repot dan tidak nyaman, kan? Apalagi kalau pakai acara harus cabut gigi segala!

Laila Andaryani Hadis ( ayahbunda-online.com)

Konsultasi ilmiah: drg. Saivon Silalahi, PDGI, RSU Bhineka Bakti Husada, Sawangan, Depok

Kenali Hormon-hormon Kehamilan



Beberapa hormon berperan penting dalam kehamilan dan persalinan, bahkan menyusui. Kenalkah Anda?

Satu hal yang tak bisa lepas dari proses kehamilan adalah perubahan hormon yang menyebabkan berbagai perubahan organ dan sistem tubuh seorang ibu hamil.

Sebenarnya, apa sih, hormon itu? Hormon adalah zat yang dibentuk oleh bagian tubuh tertentu dalam jumlah kecil dan dibawa ke jaringan tubuh lainnya. Hormon punya pengaruh khas, yakni merangsang dan menggiatkan kerja organ-organ tubuh.

Sebagian dari pengeluaran hormon-hormon tersebut dikontrol oleh kelenjar pitutiari yang berada di bagian dasar otak. Sebagian lagi dihasilkan indung telur, kelenjar tiroid (kelenjar gondok), serta plasenta (ari-ari). Semuanya bertugas mempersiapkan tubuh dalam menghadapi perkembangan janin. Yuk, kita simak jenis-jenisnya.

Progesteron

Hormon ini fungsinya banyak, antara lain membangun lapisan di dinding rahim untuk menyangga plasenta, mencegah kontraksi atau pengerutan otot-otot rahim sehingga menghindari persalinan dini, dan membantu menyiapkan payudara untuk menyusui.

Di lain pihak, progesteron akan membuat pembuluh darah melebar. Akibatnya, tekanan darah jadi turun, dan ibu hamil akan merasa pusing. Selain itu, homon ini juga menyebabkan sistem pencernaan sedikit terganggu, seperti perut kembung atau sembelit; mempengaruhi perasaan atau suasana hati ibu hamil; serta meningkatkan suhu tubuh dan menyebabkan mual.

Estrogen

Hormon ini membuat puting payudara membesar, dan merangsang pertumbuhan kelenjar susu. Selain itu, estrogen juga membantu memperkuat dinding rahim untuk mengatasi kontraksi pada saat persalinan. Namun, estrogen juga akan melunakkan jaringan-jaringan tubuh, sehingga jaringan ikat dan sendi-sendi tubuh menjadi lemah (tidak dapat menyangga tubuh dengan kuat untuk sementara waktu). Akibatnya, ibu hamil kadang-kadang mengalami sakit punggung.

HCG

Human Chorionic Gonadotropin adalah hormon khas kehamilan, karena

hanya ditemukan di dalam darah dan urin wanita hamil. Hormon ini dibentuk oleh lapisan jaringan bagian luar janin serta plasenta yang terbentuk pada awal pertumbuhan janin (trofoblas). Fungsinya, antara lain mempertahankan jaringan berwarna kuning dalam indung telur yang terbentuk ketika indung telur baru saja melepaskan sel telur (korpus luteum), yang membuat estrogen, progesteron dan plasenta terbentuk sepenuhnya.

HPL

Human Placental Lactogen adalah hormon yang diproduksi plasenta dan merupakan hormon yang merangsang pertumbuhan.

Prolaktin

Hormon yang dihasilkan oleh kelenjar pituitari ini bertanggung jawab terhadap peningkatan sel yang memproduksi ASI dalam payudara. Asal tahu saja, estrogen sebenarnya menghambat produksi ASI. Untungnya begitu bayi lahir, kadar hormon estrogen ini mendadak turun, sehingga prolaktin dapat merangsang produksi ASI.

Oksitosin

Hormon ini terlibat dalam proses reproduksi pada pria dan wanita, serta . membantu merangsang kontraksi pada saat kehamilan dan persalinan. Selain itu, oksitosin berperan penting pada terjadinya efek pengaliran susu saat ibu menyusui bayinya. Selain itu, mengingat hormon ini juga merangsang terjadinya kontraksi rahim saat ibu menyusui, maka aktivitas ini bisa mempercepat terjadinya penyusutan rahim.

Relaksin

Hormon ini muncul pada awal kehamilan, dan bertanggung jawab membantu mengatasi aktivitas rahim dan melembutkan leher rahim dalam rangka persiapan proses persalinan kelak.

Laila Andaryani Hadis

Konsultasi ilmiah: dr. Ali Baziad, SpOG, POGI Jaya, Divisi Endokrinologi,
Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Bersenang-senang Dulu, Bersakit-sakit Kemudian?



Akhir-akhir ini, operasi caesar menjadi tren, karena dinilai lebih praktis dan tidak terlalu menyakitkan. Bahkan, para dokter kerap menyodorkan opsi ini. Anda harus tahu, operasi caesar bukannya tanpa komplikasi.

Kita tidak dapat menutup mata melihat adanya kecenderungan terus meningkatnya jumlah ‘peserta’ operasi caesar. Menurut Dra. Yati Utoyo Lubis, Ph.D, staf pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, “Ironisnya, si pasien itu sendiri diduga memilih operasi caesar yang tak seharusnya (tanpa indikasi kesehatan atau medis) karena sosialisasi yang keliru.”

Memang, menurut WHO (Badan Kesehatan Dunia), standar rata-rata operasi caesar di sebuah negara adalah sekitar 5–15%. “Di Indonesia sendiri, persentase operasi caesar sekitar 5%. Di rumah sakit pemerintah rata-rata 11%, sementara di rumah sakit swasta bisa lebih dari 30%,” ujar Prof. dr. Gulardi Wiknyosastro, Sp.OG, Guru Besar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. .

Kecenderungan peningkatan jumlah pasien yang menjalani operasi caesar di rumah sakit swasta ini sempat mengkhawatirkan para dokter yang patuh pada kode etik kedokteran. Bukan saja di Indonesia, tapi juga di Amerika.

Tonya Jamois , Ketua International Caesarean Awareness Network (ICAN - Jaringan Masyarakat Internasional Peduli Caesar) mengatakan, “ American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG - Perkumpulan Ahli Obstetrik dan Ginekologi di Amerika) telah memberikan peraturan untuk para anggotanya, yakni untuk sebuah operasi caesar, mereka harus menunjukkan pada pasien bukan saja prosedur operasi, tapi juga harus menjelaskan bahwa operasi caesar lebih berisiko untuk ibu dan bayinya dibandingkan dengan persalinan normal.”

Harus diakui, banyak wanita yang merasa khawatir harus menjalani persalinan normal hanya karena sering mendengar cerita orang lain mengenai rasa sakit yang akan dialaminya pada proses persalinan normal. Padahal, di ujung cerita, biasanya orang tersebut mengatakan merasa lega dan bahagia begitu buah hatinya lahir. Rasa sakit yang mendera sebelumnya hampir-hampir tidak terasa lagi.

Selain itu, ada bagian cerita yang sering ‘tertangkap’ oleh para wanita tadi, yakni persalinan dengan operasi caesar konon bisa lebih cepat dan proses persalinan bisa tetap diikuti oleh si pasien.

“Mereka lalu menangkap bagian yang menyenangkan dari cerita ini tanpa disertai pengetahuan mengenai rasa sakit yang lama setelah operasi, berbagai risiko yang dapat timbul akibat operasi, maupun proses pemulihan pascaoperasi yang lama. Dengan sosialisasi ‘keliru’ semacam itu, ditambah dengan semakin banyaknya wanita muda yang menjalani operasi caesar, maka seolah-olah operasi menjadi sebuah jalan keluar bagi kekhawatiran mereka,” lanjut Yati .

Padahal, menurut dr. Marius Widjajarta, SE , Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI), “Operasi caesar boleh dilakukan asal ada indikasi medis.”

Repotnya, kini, makin banyak pilihan dan juga tawaran yang menyebabkan meningkatnya operasi caesar yang justru tidak perlu.

Sekali caesar tetap caesar?

Meningkatnya jumlah pasien yang menjalani operasi caesar antara lain juga karena pendapat yang menyatakan, bahwa sekali operasi caesar tetap operasi caesar. Artinya, bila mereka menjalani operasi casear sebelumnya, maka persalinan berikutnya mau tidak mau harus caesar lagi. Tidak ada pilihan lain.

“Padahal, dengan sayatan sejajar dengan garis perut dan kondisi kehamilan setelahnya yang baik, persalinan berikutnya tak selalu harus melalui operasi. Juga, mungkin saja pada persalinan pertama terjadi plasenta previa atau terjadi persalinan macet, sementara pada kehamilan kedua kondisinya baik-baik saja sehingga persalinan normal bisa dilakukan,” ujar Prof. Gulardi

Repotnya, ada pula wanita yang minta melahirkan dengan operasi caesar hanya karena ingin memilih tanggal atau waktu persalinan. Kalau keadaannya begini, Prof. Gulardi yang juga mantan Ketua Pengurus Besar Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia menandaskan sekali lagi, “Bila tidak ada keadaan gawat dan indikasi untuk operasi, maka tindakan operasi tidak sesuai dengan kode etik kedokteran. Dokter juga seharusnya memberikan penjelasan pada pasien mengenai risiko operasi caesar yang lebih tinggi dibandingkan dengan persalinan normal.“

Nah, salah satu penangkal agar tidak mudah memilih operasi caesar adalah dengan memiliki pengetahuan cukup banyak mengenai operasi itu sendiri.

Ada andil rumah sakit juga

Sekilas, tampaknya si pasien itu sendiri yang menjadi ‘biang keladi’ naiknya jumlah angka operasi caesar tanpa indikasi medis. Padahal, pihak rumah sakit juga punya andil. Iming-iming yang ditawarkan oleh pihak rumah sakit seringkali sulit ditampik.

“Bahkan, ada yang melaporkan pada kami, bahwa ada paket yang menawarkan operasi caesar sekalian operasi usus buntu. Padahal, menurut kode etik kedokteran, kedua operasi tersebut tak perlu dilakukan, apalagi sekaligus, jika tak ada indikasi kesehatan,” kata dr. Marius W.

Belum lagi, disinyalir ada pihak rumah sakit yang seakan-akan menggiring pasien untuk ‘memilih’ operasi caesar ketimbang persalinan normal. Misalnya, dengan menyatakan bahwa janin terlilit tali pusat (biasanya dengan menunjukkan hasil USG atau ultrasonografi). Nah, pasien yang tak punya pengetahuan kesehatan sama sekali biasanya akan menuruti tawaran dokternya untuk operasi. “Padahal, lilitan tali pusat tak selalu harus dioperasi,” tutur Prof. Gulardi W.

Sehubungan dengan ini, Prof. Gulardi menambahkan, “Jika ada indikasi untuk operasi pun, dokter harus menjelaskan mengenai penyakitnya, alternatif pengobatannya, serta apa alasan si ibu harus menjalani operasi.”

Pada kondisi tertentu, seperti plasenta previa (ari ari janin menutupi jalan lahir) atau ukuran panggul tak sesuai dengan besar bayi, indikasi operasi caesar memang perlu dan sudah bisa diperkirakan melalui pemeriksaan sebelumnya.

Sayangnya, banyak hal lain yang sebenarnya bukan indikasi medis untuk operasi, namun diarahkan seolah-olah sebuah indikasi operasi. “Keadaan seperti ini bisa terjadi karena di Indonesia belum ada standar pelayanan kesehatan yang jelas,” sambung dr. Marius W. Lalu, apa jalan ke luarnya?

Second Opinion

“Jika Anda menghadapi dokter yang bersikukuh agar Anda dioperasi dan Anda merasa tidak ada indikasi kuat untuk menjalani operasi tersebut, maka sebaiknya Anda mencari second opinion atau bahkan third opinion. Bandingkan pendapat antara dokter yang satu dengan yang lainnya. Lalu, bagaimana cara Anda memilih dokter-dokter yang tepat untuk dimintai pendapat lainnya? “Sebaiknya cari dokter dari rumah sakit yang berbeda. Bisa juga Anda pilih dokter dengan usia yang berbeda. Memang jumlah uang yang akan dikeluarkan dari kocek Anda cukup banyak. Tetapi, dibandingkan dengan risiko yang mungkin Anda hadapi, rasanya pengorbanan Anda itu sepadan,” jelasnya lagi.

Jadi, bila Anda ingin menjalani operasi caesar tanpa indikasi medis, tidak salahnya jika Anda menggali dulu pengalaman mereka yang pernah mengalami proses persalinan dengan operasi dan secara normal. Apalagi, persalinan normal lebih murah, lebih nyaman karena proses penyembuhannya lebih cepat, serta risikonya lebih kecil bagi ibu dan bayinya ketimbang operasi.
Wajarkah Ngidam Anda?

Jangan salah, ada lho ngidam yang tak wajar. Ah, ada-ada saja!

Kita pasti sering dengar kalau di awal kehamilan, muncul keinginan kuat dari calon ibu untuk makan makanan tertentu. Biasanya, makanan yang jadi “incaran” ngidam adalah yang rasanya asin, asam atau segar. Dan harus dituruti betapapun sulit mendapatkannya.

Belum jelas

Ternyata sampai sekarang penyebab ngidam belum bisa diketahui dengan pasti. Sebagian ada yang berpendapat akibat tubuh wanita hamil membutuhkan beberapa zat gizi tertentu, terutama yang terdapat dalam makanan yang diidamkannya itu. Namun, pendapat ini belum bisa dibuktikan.

Yang lebih “masuk akal” adalah akibat aktifnya hormon-hormon selama kehamilan, antara lain meningkatnya kadar progesteron. Naiknya kadar hormon ini berpengaruh pada fungsi dan metabolisme tubuh, salah satunya pada organ pencernaan dan produksi air liur.

Pada beberapa wanita, produksi air liur di awal kehamilan sangat meningkat. Hal ini selain menyebabkan ia jadi sering meludah, juga timbul rasa logam dan “tebal” di mulut yang membuat wanita hamil muda sering merasa mual dan muntah, dan ingin makan makanan yang rasanya tajam, seperti asam atau asin. Adakalanya, di masa ini wanita hamil cenderung menolak beberapa jenis makanan, padahal sebelumnya makanan itu biasa dimakan. Ini karena terjadi perubahan “rasa” pada wanita tersebut.

Bisa dikendalikan

Pada dasarnya, masa tak nyaman yang muncul di awal kehamilan itu hanya berlangsung tidak lebih dari 3 bulan Jadi, soal ngidam ini sebenarnya bisa dikendalikan. Caranya:

* Siapkan diri menjalani kehamilan. Terima semua perubahan dengan penuh kesadaran.
* Konsumsi makanan bergizi secara lengkap dan seimbang.
* Untuk menghindari rasa mual yang muncul, makan dalam porsi kecil tetapi sering. Biskuit/krekers atau air jahe hangat, nyaman untuk menangkal mual.
* Hindari makanan beraroma tajam, pedas, berminyak, juga kafein.
* Banyak minum. Bisa air putih, sari buah, atau buah-buahan segar yang banyak mengandung air.
* Jangan langsung tidur setelah makan. Paling tidak, beri selang waktu 2 jam.
* Tetaplah beraktivitas agar peredaran darah lancar dan metabolisme tubuh pun berjalan baik.

Nah, selamat menikmati kehamilan yang menyenangkan!

Nia L. Tobing
Konsultasi ilmiah: dr. Dwiana Ocviyanti, Sp.OG, POGI Jaya, FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta .

Hamil di Usia 20, 30, atau 40-an



Sadari Konsekuensinya

Ingin punya anak adalah hak setiap orang, namun perlu dipikirkan risikonya jika menjalani kehamilan pertama di usia “lanjut”.

Wanita masa kini merdeka memilih jalan hidup dan kehidupannya. Apa yang jadi prioritas hidupnya, itulah yang diutamakan. Tentu saja situasi ini berpengaruh pada rencana kehidupan berumah tangga serta keputusan menjalani kehamilan dan punya anak.

Berbagai alasan melatarbelakangi keputusan menjalani kehamilan dan punya anak. Yang pasti, saat ini tidak sedikit wanita meyakini, bahwa menjalani kehamilan dan punya anak harus siap fisik dan mental. Masalahnya, tak jarang wanita malah seperti keterusan menunda kehamilannya dan, tak terasa, usia terus bertambah.

Padahal menurut para ahli, usia dan fisik wanita berpengaruh terhadap proses kehamilan pertama, pada kesehatan janin dan proses persalinan. World Health Organisation (WHO) memberikan rekomendasi sebagaimana disampaikan dr. J.M. Seno Adjie, SpOG., ahli kebidanan dan kandungan dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, “Sampai sekarang, rekomendasi WHO untuk usia yang dianggap paling aman menjalani kehamilan dan persalinan adalah 20 hingga 30 tahun. Tapi mengingat kemajuan teknologi saat ini, sampai usia 35 tahun masih bolehlah untuk hamil.”

Beda usia, beda kondisi fisik

Apa pengaruh usia dan fisik wanita pada kehamilan pertama dan proses persalinan? “Kehamilan di usia kurang dari 20 tahun bisa menimbulkan masalah, karena kondisi fisik belum 100% siap. Kehamilan dan persalinan di usia tersebut, meningkatkan angka kematian ibu dan janin 4-6 kali lipat dibanding wanita yang hamil dan bersalin di usia 20-30 tahun,” jelas dr. Seno.

Beberapa risiko yang bisa terjadi pada kehamilan di usia kurang dari 20 tahun adalah kecenderungan naiknya tekanan darah dan pertumbuhan janin terhambat. “Bisa jadi secara mental pun si wanita belum siap. Ini menyebabkan kesadaran untuk memeriksakan diri dan kandungannya rendah. Di luar urusan kehamilan dan persalinan, risiko kanker leher rahim pun meningkat akibat hubungan seks dan melahirkan sebelum usia 20 tahun ini,” tambah dr. Seno.

Berbeda dengan wanita usia 20–30 tahun yang dianggap ideal untuk menjalani kehamilan dan persalinan. “Di rentang usia ini kondisi fisik wanita dalam keadaan prima. Rahim sudah mampu memberi perlindungan atau kondisi yang maksimal untuk kehamilan. Umumnya secara mental pun siap, yang berdampak pada perilaku merawat dan menjaga kehamilannya secara hati-hati,” jelas dr. Seno

Sedangkan usia 30-35 tahun sebenarnya merupakan masa transisi “Kehamilan pada usia ini masih bisa diterima asal kondisi tubuh dan kesehatan wanita yang bersangkutan, termasuk gizinya, dalam keadaan baik,” ujar dr. Seno

Setelah usia 35 tahun, sebagian wanita digolongkan pada kehamilan berisiko tinggi. “Di kurun usia ini, angka kematian ibu melahirkan dan bayi meningkat. Itu sebabnya, sebenarnya, tidak dianjurkan menjalani kehamilan di atas usia 40 tahun,” ungkap dr. Seno yang juga staf pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.

Siap fisik, siap mental?

Bagaimana dengan proses kematangan secara psikologis? Dra. Agustine Sukarlan Basri, M.Si., staf pengajar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia menjelaskan, bahwa perkembangan masa dewasa bisa dibagi menjadi dewasa muda (usia 21-39 tahun), dewasa madya (usia 40-50 tahun), dan dewasa akhir (lanjut usia/lansia). Masing-masing fase memiliki ciri.

“Masa dewasa muda merupakan masa membina kedekatan dan hubungan yang lebih dalam dengan lawan jenis. Ini bisa berarti masa membina kehidupan berkeluarga. Pada masa ini secara kepribadian seorang wanita sudah siap. Secara kognitif, perkembangan intelegensia dan pola pikirnya sudah matang. Ia mampu mengatasi konflik-konflik emosional,” jelas Agustine.

Dewasa madya merupakan masa ketika secara kepribadian lebih mantap. Kehidupan wanita masa ini umumnya lebih tenang, sudah berkeluarga, dan punya anak. Bagi yang berkarier, kariernya juga sudah ‘jelas’.

Di masa dewasa akhir, umumnya kehidupan wanita lebih tenang karena anak-anak mulai beranjak besar, sehingga lebih memiliki waktu untuk diri sendiri.

Lalu mengapa saat ini tak sedikit wanita usia muda, khususnya usia 20 tahunan malah menunda berkeluarga dan punya anak?

Agustine menjelaskan, “Kalau dilihat dari tahapan perkembangan kematangan tadi, sebenarnya wanita-wanita usia 20 tahun ke atas itu siap punya anak. Mereka sudah sampai pada tahap kematangan kognitif, emosional, maupun aspek-aspek kepribadian lainnya. Tapi memang, secara situasional, saat ini hanya sedikit wanita usia 20 tahunan yang langsung memutuskan menikah dan punya anak.”

Biasanya, masih menurut Agustine, karena wanita-wanita usia 20 tahunan tersebut belum meletakkan prioritas utama hidupnya pada pernikahan. Mungkin mereka masih ingin menyelesaikan kuliah, atau ingin berkarier dahulu. Bisa jadi, keputusan ini juga karena pengaruh lingkungan.

“Kehidupan ‘kan berkembang sehingga dalam benak wanita-wanita 20 tahunan itu terbersit pikiran, ‘Kenapa pada masa ini saya harus mengurus bayi sementara teman-teman saya belum.’ Akibatnya, mereka malah berkarier, meneruskan pendidikan ke jenjang berikut, dan lain-lain. Intinya, mereka lebih memilih mendapatkan kebebasan dan mengembangkan diri seoptimal mungkin dahulu. Padahal, kalau wanita usia 20 tahunan itu memutuskan untuk kuliah namun bersedia menjalankan kehamilan dan punya anak, ya tidak masalah,” papar Agustine

Salah satu wanita itu adalah Runi (26 tahun). Ketika memutuskan menikah, ia masih dalam tahap akhir kuliahnya di Fakultas Kedokteran. Bahkan saat hamil, Runi bertugas sebagai co ass di rumah sakit yang jauh dari tempat tinggalnya.

Memang dalam perkembangan selanjutnya, wanita-wanita yang menikah dan punya anak di usia 20 tahunan, di masa dewasa madya merasa tenang karena anak sudah besar dan punya waktu untuk diri sendiri. Kepuasan perkawinan bagi mereka meningkat tatkala masuk usia dewasa madya (40-an).

“Bagi wanita yang menunda pernikahan dan keinginan punya anaknya, kelak di masa usia dewasa madya malah sibuk mengurus bayi. Akibatnya, kepuasan di masa ini pun menurun. Apalagi, meski secara mendasar di usia dewasa madya wanita lebih matang, tetapi secara fisik ia berisiko tinggi menjalani kehamilan dan persalinan. Ini bisa mendatangkan kecemasan,” jelas Agustine.

Usia lanjut, rawan risiko

Mau tidak mau, suka atau tidak suka, proses kehamilan dan persalinan berkaitan dengan kondisi dan fungsi organ-organ wanita. Artinya, sejalan dengan bertambahnya usia, tidak sedikit fungsi organ yang menurun.

“Semakin bertambah usia, semakin sulit hamil karena sel telur yang siap dibuahi semakin sedikit. Selain itu, kualitas sel telur juga semakin menurun. Itu sebabnya, pada kehamilan pertama di usia lanjut, risiko perkembangan janin tidak normal dan timbulnya penyakit kelainan bawaan juga tinggi, terutama sindroma Down,” jelas dr. Seno.

Lebih lanjut dr. Seno menjelaskan, meningkatnya usia juga membuat kondisi dan fungsi rahim menurun. Salah satu akibatnya adalah jaringan rahim tak lagi subur. Padahal, dinding rahim tempat menempelnya plasenta. Kondisi ini memunculkan kecenderungan terjadinya plasenta previa atau plasenta tidak menempel di tempat semestinya.

Selain itu, jaringan rongga panggul dan otot-ototnya pun melemah sejalan pertambahan usia. Hal ini membuat rongga panggul tidak mudah lagi menghadapi dan mengatasi komplikasi yang berat, seperti perdarahan. Pada keadaan tertentu, kondisi hormonalnya tidak seoptimal usia sebelumnya. Itu sebabnya, risiko keguguran, kematian janin, dan komplikasi lainnya juga meningkat.

Silakan hamil, asal…

Bagaimana bila seorang wanita baru menikah setelah usia 35 tahun, apakah mereka tidak diizinkan punya anak? Tentu saja tidak!. Hamil dan punya anak adalah hak asasi setiap wanita. Silakan jalani. “Tapi, selayaknya wanita yang bersangkutan memahami segala konsekuensi kehamilan di usia tua, bahwa ia memasuki kehamilan dengan risiko. Jadi, pada dasarnya, tidak penting apakah seorang wanita menunda kehamilannya sehingga baru memutuskan hamil di usia lanjut atau karena memang menikahnya di usia lanjut, yang penting wanita itu menyadari betul usia berapa ia pertama kali hamil, dan sadar risikonya,” jelas dr. Seno.

Menguatkan anjuran dr. Seno, Agustine menegaskan, “Semua terpulang pada individu yang bersangkutan. Standar ideal orang itu berbeda-beda. Hamil itu ‘ kan artinya siap jadi ibu. Banyak orang yang mau punya anak tapi masih sulit melihat bahwa mereka harus siap berkorban. Mereka harus siap memikirkan orang lain, terutama janinnya. Memang idealnya, menikah dan punya anak di masa usia prima, yaitu di bawah 30 tahun. Pada masa ini perkembangan kepribadian seorang wanita sudah siap. Maksudnya, sekolah sudah selesai dan sudah berkarier.”

Seandainya belum memungkinkan hamil dan melahirkan di usia prima, dr. Seno berpesan, “Periksakan diri secara teratur ke dokter. Dengan memperhatikan risiko, wanita bersangkutan harus lebih memperhatikan kondisi atau asupan gizinya. Krena, penurunan fungsi metabolisme tubuh dan nutrisi calon ibu sangat menentukan kondisi kehamilan dan persalinannya. Komplikasi yang mungkin muncul bisa ditekan bila kondisi keduanya baik.”

Satu hal yang patut diingat adalah tak perlu terlalu takut seandainya baru bisa hamil pertama di usia lewat dari 35 tahun. Tidak semua wanita hamil mengalami risiko itu. Ini dialami Satyorini (37 tahun). Kondisi kesehatan membuatnya terpaksa baru bisa menjalani kehamilan di usia ‘batas aman’. “Tetapi saya selalu berpikir positif dan tentu saja menjalani semua anjuran dokter,” katanya.

“Ya, konsultasi yang teratur memperkecil segala komplikasi,” tegas dr. Seno. Menyadari dan memahami risiko yang bisa terjadi, wanita bersangkutan tentu perlu memiliki kesadaran tinggi untuk menjaga dan memantau kondisi kesehatan tubuh dan janinnya, seperti memeriksakan diri dan janin secara teratur ke dokter kandungan.

Nia L. Tobing
Bahan: Laila Andaryani Hadis, NLT

Pilih-pilih Pakaian Dalam



Tak hanya nyaman, pakaian dalam saat hamil juga harus aman, dan... tetap terlihat seksi!

Tak bisa disangkal, hampir semua bagian tubuh memang bertambah besar dan berat di saat hamil. Alhasil, pakaian dalam mesti beli baru biar pas dan nyaman.

Bra

Selama hamil, payudara Anda perlu tersangga dengan baik. Jadi, perhatikan kiat berikut.

* Pilih bra yang biasa dipakai untuk berolahraga, bra biasa tapi tanpa kawat penyangga (kawat penyangga dapat mencederai jaringan payudara yang lembut), atau bra khusus untuk kehamilan.

* Sebenarnya, Anda tidak harus mengenakan bra khusus untuk kehamilan, namun pemakaian bra jenis ini dapat menyangga payudara dengan baik, sehingga terasa nyaman saat Anda bergerak.

* Ada bra yang bisa dipakai sejak masa hamil hingga menyusui. Bra jenis ini memiliki “jendela” yang bisa dibuka bila Anda ingin menyusui bayi kelak. Bra ini juga memudahkan, mengingat setelah melahirkan Anda perlu pakai bra siang dan malam (terutama di minggu pertama), untuk menghindari tetesan ASI “tumpah” ke mana-mana.

* Pilih bra yang sebagian besar bahan dasarnya terbuat dari katun, agar kulit bisa “bernapas” dengan nyaman. Sekalipun begitu, bahan elastis yang menyertainya akan membuat bra lebih lentur ketika ukurannya berubah.

* Jika payudara Anda berukuran cukup besar, pilih bra yang memiliki tali bahu lebar, sehingga dapat menahan beban payudara. Selain itu, Anda pun tetap terlihat seksi.

* Pastikan penyangga bra di bagian bawah cup nyaman dipakai. Jika terlalu ketat dapat memicu sakit di ulu hati. Selain itu, bra yang terlalu ketat akan menahan aliran darah seputar payudara, dan meningkatkan kemungkinan penyumbatan saluran air susu (mastitis). Memakai bra yang pas akan menghindari berbagai gangguan tersebut.

Celana dalam

Awalnya mungkin Anda masih bisa memakai celana dalam yang biasa Anda pakai. Akibat perut yang mulai membesar, terkadang akan lebih terasa nyaman bila bagian pinggangnya ditarik ke bawah hingga di bawah garis perut (bikini line). Namun, umumnya celana dalam Anda harus diganti dengan yang lebih besar setelah kehamilan memasuki usia 16 minggu.

* Pilih celana dalam berbahan dasar katun, karena memberi “ventilasi” yang baik sehingga menghambat pertumbuhan jamur. Ingat, selama hamil suhu tubuh akan meningkat dan cairan vagina juga kadang-kadang keluar, sehingga membuat ibu hamil rentan terhadap infeksi bakteri.

* Perhatikan ukuran dan karet celana, jangan sampai menekan perut, pinggang atau lingkar paha.

* Celana dalam yang pas, menutupi sekaligus menyangga perut dan bokong, serta tidak terlalu ketat menekan bagian selangkangan, akan sangat membantu ibu hamil yang mengalami varises (pembesaran pembuluh darah balik vena).

Kenali Perubahan Payudara

Di awal kehamilan, payudara biasanya lembut dan agak membengkak. Bagi yang berpayudara kecil, selama 20 minggu pertama mungkin masih bisa memakai bra ukuran lama. Setelah usia kehamilan 20-24 minggu, payudara akan bertambah besar.

Pada umumnya, pembesaran payudara pada trimester ke-3 merupakan ukuran yang hampir sama dengan setelah melahirkan, ketika payudara penuh dengan ASI. Itu sebabnya, saat ini Anda bisa membeli bra yang dapat dipakai untuk menyusui kelak.

Perlu diketahui, sekitar seminggu setelah melahirkan, ukuran payudara biasanya bertambah karena ASI yang mulai banyak diproduksi. Namun, biasanya ukuran tersebut kembali seperti saat hamil karena produksi ASI sudah stabil.

Nah, selamat tampil penuh percaya diri dan memesona dengan pakaian dalam yang nyaman dan aman, serta menunjang penampilan Anda.

Retno Wahab Supriyadi( ayahbunda-online.com)

Tip Trimester Kedua



Masa-masa ‘tidak nyaman’ terlewat sudah. Sekarang santai, dong!

Berbahagialah kehamilan Anda kini berusia 13-27 minggu, karena pada trimester kedua ini biasanya merupakan masa-masa yang paling nyaman. Anda akan merasa penuh vitalitas dan semangat, sehingga bisa melakukan aktivitas yang mungkin sebelumnya tidak bisa dilakukan. Hanya saja, jangan mentang-mentang nyaman lalu Anda lupa diri dan melakukan aktivitas berlebihan.

* Batasi nafsu makan yang tak terbendung, mengingat umumnya nafsu makan Anda mulai membaik. Jaga jangan sampai berat badan Anda berlebihan.

* Konsumsi makanan bergizi seimbang dengan penekanan pada zat besi, karena volume darah meningkat 40-60%. Peningkatan ini untuk memenuhi kebutuhan ibu dan menyuplai makanan serta oksigen ke janin.

* Kini saatnya ‘resmi’ pakai baju hamil. Lewat dari usia 12 minggu, rahim Anda memang makin membesar, yakni sekitar 1 cm setiap minggunya. Rata-rata wanita akan mulai tampak besar perutnya pada usia kehamilan 16 minggu.

* Kenakan BH yang menopang payudara dengan baik. Masalahnya, saat ini payudara terasa semakin berat dan lunak akibat perubahan hormon progesteron, estrogen, oksitosin, dan prolaktin untuk persiapan menyusui.

* Lakukan senam Kegel untuk melatih otot-otot panggul, yang bisa dilakukan sambil berdiri, duduk, atau berbaring. Caranya, kerutkan otot seperti saat Anda menahan buang air kecil.

* Nikmatilah saat-saat bercinta dengan suami. Bulan-bulan ini adalah masa paling nyaman melakukan hubungan suami isteri.

* Lakukan olahraga low impact seperti berenang, yoga, senam, dan jalan kaki. Tubuh yang nyaman membuat Anda nyaman berolahraga.

* Tak ada salahnya Anda mulai hunting keperluan bayi, seperti baju, boks dan peralatan bayi lainnya. Anda juga bisa mendatangi rumah bersalin untuk melihat fasilitas yang tersedia, sesuai kriteria Anda.

* Ikuti kelas pranatal untuk belajar cara menyusui yang benar, merawat bayi dan pertolongan pertama jika si kecil sakit. Beberapa rumah sakit di kota besar mengadakan kelas ini. Jika di kota Anda tidak ada, mungkin Anda bisa tanyakan kepada dokter atau bidan untuk melatih Anda.

* Jika Anda mengalami heartburn (bagian bawah dada atau atas perut seperti terbakar) yang disebabkan relaksasi otot saluran cerna akibat asam lambung naik ke kerongkongan, atasi dengan:

- Hindari makan terlalu banyak sebelum tidur.

- Hindari makanan yang berlemak, pedas dan berminyak.

- Tinggikan posisi kepala sehingga asam lambung tidak naik ke kerongkongan.

* Atasi kram kaki dengan menaikkan kaki ke atas. Bila Anda terkena kram kaki ketika duduk atau saat tidur, cobalah gerakan jari-jari kaki ke arah atas.

* Untuk mengurangi dan/atau menghindari rasa sakit di daerah punggung sampai ke bagian panggul dan pinggang (low back pain) yang biasa muncul di usia kandungan 5 bulanan, lakukan cara berikut.

- Jangan berdiri atau duduk terlalu lama.

- Bila mengambil sesuatu di lantai, lakukan dengan berjongkok.

- Gunakan sepatu yang bertumit rendah.

- Cobalah tidur dengan posisi miring ke kiri.

Di masa yang menyenangkan ini, ada satu momen yang membahagiakan. Anda akan merasakan gerakan si kecil di usianya sekitar 22 minggu. Wah, senangnya!

Laila Andaryani Hadis
Konsultasi ilmiah: dr. Ali Sungkar, Sp.OG, POGI Jaya, Divisi Fetomaternal Departemen Ginekologi dan Obstetri, FKUI/RSUPN Cipto Mangkunkusumo, Jakarta.

Tip Trimester Tiga



Biarpun Anda bakal sering merasa tak nyaman, tapi masa ini juga bisa mendatangkan kesenangan, lho.

Siap-siap saja. Di trimester ketiga ini bisa jadi Anda kembali merasakan hal-hal yang mengganggu kenyamanan. Jangan terlalu dipikirkan, lebih baik Anda ingat tak lama lagi buah hati Anda akan hadir. Banyak wanita hamil bersemangat dan sangat bahagia melakukan persiapan datangnya si kecil.

Atasi rasa tak nyaman

Perut Anda semakin ‘mancung’ dan berat. Ini jelas mengganggu keseimbangan Anda. Seringkali tanpa sadar Anda menyondongkan tubuh ke belakang dan menekuk pinggang. Akibatnya, Anda akan sering merasa pegal di belakang pinggang. Ini tip mengatasinya.

* Jaga sikap tubuh agar tubuh bagian atas tidak menekuk ke belakang.

* Lakukan squatting position, yaitu sikap selalu tegak, baik saat berdiri maupun jongkok, atau saat mengambil barang yang letaknya lebih rendah dari badan.

* Bagi beban sama rata di kedua sisi tubuh saat membawa barang.

* Pakai penyangga perut khusus ibu hamil, sehingga Anda tidak merasakan tekanan perut yang mendorong Anda menekuk tubuh ke belakang.

* Usahakan posisi kepala lebih tinggi dari dada, saat Anda berbaring. Posisi ini melegakan dan meringankan rasa tak nyaman saat perut menekan ke atas.

* Lakukan olah tubuh ringan agar peredaran darah tetap lancar.

* Jangan abaikan istirahat, mengingat di masa ini Anda kembali akan merasa cepat lelah.

Siap-siap melahirkan

Kini saatnya Anda melakukan persiapan menghadapi proses persalinan. Berikut tip praktisnya.

* Ikut dalam kelas senam hamil dan persiapan persalinan yang biasanya ada di rumah sakit bersalin. Atau, lakukan olah tubuh ringan seperti yoga, sekaligus pelajari ‘ilmu’ relaksasi yang akan sangat membantu melancarkan proses persalinan.

* Siapkan diri dan lingkungan kalau-kalau karena kondisi tertentu, Anda harus segera melahirkan si kecil. Setelah memasuki usia 7 bulan, meski belum ‘bulannya’, bayi sudah bisa dilahirkan.

* Cek dan ricek rumah bersalin tempat Anda mendaftarkan diri untuk melahirkan. Pastikan adanya dokter dan kamar pada saat melahirkan nanti.

* Siapkan keperluan Anda selama di rumah bersalin, mulai dari baju dengan bukaan depan, hingga keperluan mandi serta buku bacaan favorit Anda. Masukkan benda-benda tersebut dalam satu tas yang siap angkat. Jadi setiap saat diperlukan, Anda tidak lagi bingung menyiapkannya.

* Siapkan keperluan bayi untuk saat pulang dari rumah bersalin kelak, seperti popok, baju, hingga selimutnya.

* Bila ingin memakai tenaga pengasuh bayi, sebaiknya sudah disiapkan sejak sekarang.

* Bagi Anda wanita bekerja, siapkan juga pekerjaan-pekerjaan Anda, termasuk siapa yang akan didelegasikan untuk tugas-tugas Anda saat cuti melahirkan nanti.

* Sebaiknya Anda mulai menyiapkan nama si buah hati yang akan segera lahir. Kasihan ‘ kan , kalau sampai beberapa hari setelah lahir ia belum punya nama.

Nia L. Tobing

Konsultasi ilmiah: dr. J.M Seno Adjie, SpOG(K), POGI Jaya, Bagian Obstetri dan Ginekologi FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta .

Biosensor, “Susuk” Ilmiah Abad 21



Berkat data dari “susuk” berupa chip komputer yang ditanam ke dalam tubuh, pemeriksaan dan pengobatan jadi mudah dan cepat. Teknologi yang dinamakan biosensor ini sudah mulai diterapkan di Amerika.

Di klinik masa depan, tentunya kalau dikelola oleh manajemen yang tidak gagap teknologi, proses penanganan pasien bisa jadi akan berbeda. Kita mungkin tak perlu lama-lama menunggu, dan membaca tumpukan majalah usang saat mengantri di ruang praktek dokter. Chip komputer yang disisipkan – sebagaimana susuk- di tubuh pasien akan mempercepat semua proses.

Sumber informasi

Kedengarannya memang agak mengerikan. Ada benda asing masuk tubuh Anda seperti susuk. Tapi tidak seperti jimat yang konon bisa bikin sakti atau seksi itu, chip dapat menangkap informasi penting dari tubuh Anda. Misalnya adanya virus atau infeksi. Atau, lebih dahsyat lagi, chip itu akan mengirim obat langsung ke aliran darah Anda. Semuanya ini mungkin sekali akan terjadi pada saat anak balita Anda memasuki usia siap masuk kuliah di masa mendatang.

Asal tahu saja, pada saat ini sebenarnya teknologi biosensor sudah mulai merebak di dunia kedokteran di Amerika. Biosensor eksternal sudah dipakai di negara maju di ruang gawat darurat sebagai unit diagnostik point-of-care . Contohnya adalah chip yang dibuat i-Stat , yang sering dijuluki “lab dalam chip”. Benda ini dapat dengan sangat cepat menginformasikan apakah seorang pasien terkena serangan jantung dengan cara mengetes darah.

Perusahaan lain, seperti MicroChips , sudah mulai mengembangkan biosensor yang dapat ditanam dalam tubuh untuk mengawasi tingkat glukosa pada darah dan juga untuk mengirim insulin. Digital Angel , perusahaan lain, sudah mulai merancang sebuah penggabungan biosensor eksternal buatannya dengan buatan VeriChip , perusahaan yang membuat mikroprosesor yang dapat ditanam ke tubuh manusia.

‘Dokter’ dalam daging

Jika laju perkembangan teknologi dekade ini terus berlanjut, MicroChips , seperti dituturkan presiden direkturnya John Santini , dalam sepuluh tahun setelah itu teknologi ini akan berkembang menjadi “dokter-dalam-daging”. Dengan kata lain, chip yang ditanam pada tubuh manusia akan mampu mendiagnosa dan ‘merawat’ pasien seperti yang layaknya dilakukan oleh para dokter.

Boleh dibilang, teknologi ini sudah diterapkan dalam konteks kebijakan keamanan pemerintah Amerika Serikat. Menurut beberapa laporan, negeri Paman Sam telah menerapkan teknologi ini untuk mendapat peringatan dini soal terorisme yang menggunakan senjata biologi macam kuman Anthrax (penyakit sapi gila). Caranya, dengan menanam biosensor pada stasiun milik pemerintah yang memonitor soal-soal lingkungan hidup.

Biosensor dalam alat tersebut tentu saja bisa menjadi bagian dari seragam atau perlengkapan angkatan bersenjata. Atau, bisa juga dipasang di kantor atau perumahan seperti detektor asap yang kini sudah lumrah itu. Terlepas dari aplikasi di bidang militer dan teknologi, pada akhirnya kegunaan utama bionsensor tetap akan ada di dunia medis untuk mendeteksi penyakit, dari mulai flu sampai kanker .

Jati Hidayat
PC Magazine

Operasi Plastik



Amankah untuk Organ Reproduksi?

Tren Baru: mengembalikan penampilan fisik dengan bedah plastik, Amankah jika kelak hamil dan menyusui lagi?

Seorang artis kondang buka rahasia tentang penampilannya yang tetap cling, meski ia sudah jadi ibu beberapa anak. Sang diva mengaku menjalani bedah plastik. Oh, apanya yang dioperasi?

Organ tubuh yang kerap ‘dibenahi’ adalah payudara dan daerah seputar perut. Padahal di dalam wilayah tersebut terdapat sistem reproduksi wanita.

Rekontruksi dan estetika

Sebenarnya apa sih, bedah plastik itu? Bedah plastik adalah tindakan operasi atau pembedahan yang bertujuan memperbaiki fungsi dan estetika bagian tubuh. Kata plastik dalam istilah ini berasal dari bahasa Yunani plastikos yang berarti membentuk. Jadi, sama sekali tidak ada hubungannya dengan istilah plastik yang kita kenal secara umum.

Nah, menurut dr. Elida Sari Siburian, SpBP, dokter spesialis bedah plastik dari RS Fatmawati, Jakarta, “Bedah plastik ini terbagi menjadi dua jenis, yakni bedah plastik rekonstruksi dan bedah plastik estetika. Seorang dokter ahli bedah plastik, mengerjakan keduanya.”

Elida memberi contoh, “Pada seorang wanita yang telah melakukan operasi pengangkatan tumor pada payudaranya, dokter bedah plastik dapat membantu mengembalikan bentuk payudara seperti semula melalui bedah plastik rekonstruksi.”

Bagaimana dengan bedah plastik estetika? “Salah satu contohnya adalah yang banyak dibicarakan sekarang, yaitu liposuction atau sedot lemak dan tummy tuck, yaitu tindakan membentuk perut serta menarik otot-otot perut. Liposuction sendiri bertujuan untuk pembentukan atau shaping. Jadi, jangan berharap setelah melakukan ini, tubuh akan menjadi kurus atau langsing. Begitu juga dengan tummy tuck. Sebab, lemak yang diambil adalah yang terletak di bawah lapisan kulit, sehingga tidak bertujuan mengecilkan bagian dalam perut,” jelas dokter yang mengambil spesialisasi bedah plastik di FKUI pada tahun 1999 ini.

Itu sebabnya, dr. Elida mengingatkan, bila Anda baru saja melahirkan dan kebetulan tubuh jadi sangat melar, hendaknya tidak segera melakukan pengembalian bentuk tubuh, baik dengan liposuction maupun tummy tuck. Tunggulah sampai lewat dari 3 bulan setelah melahirkan.

Alasannya, masih menurut dr. Elida, “Pertama, secara medis, kedudukan atau posisi rahim pada ibu yang baru melahirkan masih tinggi, belum kembali ke posisi normal. Kedua, kadar hormon di dalam tubuh si ibu belum stabil. Dan ketiga, ibu yang baru melahirkan biasanya masih dalam proses mengalami gangguan aliran darah balik dari kaki, karena rahimnya yang membesar selama masa kehamilan. Juga, kondisi jaringan tubuhnya belum membaik seperti sediakala, sehingga kalau dilakukan upaya pengembalian bentuk tubuh, hasilnya akan tidak optimal.”

Anisa Bahar (27 tahun), penyanyi yang baru melahirkan Shakty Fany Pratama (1 tahun), adalah salah seorang yang melakukan upaya pembenahan penampilan dengan mematuhi aturan main dari dokter. “Saya melakukan liposuction 4 bulan setelah melahirkan. Ini berdasarkan saran dokter kandungan saya. Katanya, paling cepat baru boleh dilakukan setelah 3 bulan.”

Sementara Aisyah (bukan nama sebenarnya) yang merasakan adanya lemak menggelambir di beberapa bagian tubuhnya setelah punya 5 anak, memutuskan untuk melakukan liposuction dan tummy tuck kurang-lebih setahun yang lalu, setelah anak terkecilnya berusia 7 tahun.

Masih seputar bedah plastik, dr. Budi Imam Santoso, SpOG(K) yang menjabat sebagai Kepala Divisi Uroginekologi, Departemen Obstetrik dan Ginekologi, FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta, menambahkan, “Bagi mereka yang mengalami kerusakan fungsi otot dasar panggul akibat persalinan alami, juga dapat dilakukan tindakan pembenahan dengan bedah plastik, untuk tujuan rekonstruksi dan estetika.”

Hamil dan menyusui lagi

Alasan kuat yang mendorong seorang wanita mau ‘bersakit-sakit’ melakukan operasi plastik, tak bisa dipungkiri, kebanyakan memang untuk memperbaiki penampilan. Anisa Bahar tidak menutup-nutupi akan hal itu. “Setelah melahirkan, berat badan saya naik sampai 35 kg! Mengerikan! Saya sampai tidak berani tampil di panggung. Saya tidak percaya diri setiap kali melihat bentuk badan saya sendiri! Malu banget rasanya….“

Aisyah punya alasan sedikit berbeda. “Motivasi saya melakukan liposuction dan tummy tuck untuk masalah penampilan dan kesehatan. Kalau terlalu banyak lemak di dalam tubuh saya, pasti risiko terserang berbagai jenis penyakit juga lebih besar. Apalagi dalam keluarga saya ada riwayat penyakit diabetes.”

Dari kasus-kasus yang pernah ditanganinya, dr. Elida yang memiliki sertifikat nasional dan internasional untuk melakukan bedah plastik ini menuturkan fenomena yang berkembang di tengah masyarakat, “Memang, wanita sekarang, apalagi mereka yang bekerja, secara estetika membutuhkan pakaian yang nyaman, praktis, dan membuatnya percaya diri terhadap penampilannya, sesuai profesi masing-masing. Tak heran, kalau setelah melahirkan, ada yang ingin cepat-cepat memperbaiki kembali bentuk tubuhnya agar bisa berpenampilan seperti sebelum hamil. Bukan hanya bentuk perutnya tapi juga ukuran payudaranya.”

Sementara itu, dr. Budi melihat adanya alasan lain bagi seorang wanita untuk melakukan bedah plastik. “Lebih dari 90% kasus kerusakan otot dasar panggul, terjadi akibat proses persalinan alami. Keadaan ini dapat mengakibatkan gangguan berupa ketidakmampuan menahan buang air kecil dan air besar. Juga, penurunan posisi rahim, kandung kemih, serta rektum. Bahkan, bisa sampai mengakibatkan tidak berfungsinya organ seksual. Nah, pembenahan terhadap gangguan fungsi otot dasar panggul dengan tindakan bedah konstruksi maupun estetika, lebih bertujuan untuk mengembalikan atau meningkatkan kualitas hidup si ibu.”

Setelah menjalani operasi plastik dan menikmati hasil dari ‘jerih payah’ dan ‘pengorbanan’ mereka, baik Anisa maupun Aisyah mengaku merasa sangat puas. Bahkan, mereka juga mengatakan rasa percaya dirinya menjadi pulih. Mereka merasa happy dengan dirinya! “Walau hasilnya baru terlihat agak lama, sekitar 6 bulan kemudian, tapi saya puas! Orang-orang di sekitar saya juga kaget dan memuji, khususnya suami saya….” tutur Anisa dengan nada bahagia.

Tak jauh beda dengan Anisa, Aisyah pun merasakan kebahagiaan melihat hasilnya. “Seluruh keluarga yang mendukung keputusan saya waktu itu, juga merasa puas.”

Lalu, bagaimana akibat operasi tersebut untuk organ reproduksi ibu? Baik dr. Elida dan dr. Budi sepakat menyatakan bahwa setelah dilakukan bedah plastik rekonstruksi maupun estetika, seluruh organ reproduksi yang ‘dibenahi’ dapat berfungsi kembali seperti sediakala. “Bagi mereka yang menjalani bedah plastik payudara, akan tetap dapat berfungsi untuk menyusui anaknya. Karena implant diletakkan di bawah kelenjar air susu. Begitu juga dengan sedot lemak pada perut,” jelas dr. Elida. Jadi, ibu yang bersangkutan juga boleh hamil lagi 3 bulan setelah operasi plastik, karena proses liposuction dan tummy tuck tidak melibatkan rahim.

Tak heran jika artis seksi Hollywood Pamela Anderson yang terkenal dengan ukuran payudaranya yang jauh di atas rata-rata. Tetap sukses menyusui kedua anaknya meski pada payudaranya dilakukan bantuan operasi penambahan implant.

Sementara untuk bedah plastik rekonstruksi akibat kerusakan otot dasar panggul pasca persalinan, dr. Budi juga menegaskan, “Setelah dilakukan operasi, anatomi, fungsi, dan penampilan organ reproduksi yang dibenahi akan kembali seperti semula. Jadi, si ibu aman-aman saja bila ingin hamil lagi.”

Segudang informasi

Sebagai pakar dalam urusan bedah plastik pada tubuh wanita, baik dr. Elida maupun dr. Budi sama-sama menyarankan kepada mereka yang berniat melakukan bedah plastik untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya sebelum mengambil keputusan.

Dokter Elida yang pernah mengikuti Simposium Internasional Asosiasi Bedah Plastik Amerika Serikat di Chicago bulan September-Oktober 2005 ini, mengingatkan, “Anda harus mengerti dulu makna dari berbagai istilah tindakan yang akan dilakukan pada bedah plastik. Misalnya, arti dan tujuan dari liposuction dan tummy tuck. Termasuk, pertimbangan kesiapan mental si ibu bila setelah melewati prosedur operasi yang mungkin dirasakan sakit, dan apabila dia kelak hamil lagi, siapkah untuk merasakan sakit lagi pada waktu menjalani proses persalinan, mengingat ambang sakit setiap orang berbeda.

Juga, perlu dipertimbangkan bekas luka operasinya, akan ditempatkan di sebelah mana, serta Anda pun harus tahu hasil yang akan dicapai setelah menjalani seluruh rangkaian operasi.”

Saran dr. Budi untuk bedah plastik rekonstruksi kerusakan otot dasar panggul pasca melahirkan juga tak jauh beda. “Si ibu yang akan menjalani operasi harus membekali diri dulu dengan informasi tentang cara mendeteksi secara dini adanya kerusakan fungsi otot dasar panggulnya sehabis melahirkan. Bila sudah positif didiagnosa dokter, biasanya pembenahan dan pemulihan pertama adalah dengan menyarankan si ibu berlatih senam Kegel. Apabila dengan cara itu tidak berhasil, barulah kita lakukan tindakan operasi. Tapi, kita juga akan mengatakan secara terus terang bahwa tingkat keberhasilannya paling tinggi hanya sekitar 80%.”

Upaya membekali diri ini juga dilakukan Anisa. “Sebelum melakukan liposuction, saya konsultasi dulu dengan dokter bedah plastik dan dokter kandungan. Karena saya berencana punya anak lagi, saya tidak melakukan liposuction melebihi saran dokter. Jadi dilakukan bertahap, tidak secara instan. Bagian lemak yang disedot juga tidak termasuk payudara.”

Sedangkan Aisyah, sebelum melakukan liposuction dan tummy tuck, rajimn mencari informasi dan berkonsultasi dengan dokter. “Saya konsultasi ke dokter sampai 3 kali,” katanya.

Satu hal yang juga perlu diingat dan dijadikan bahan pertimbangan yang matang sebelum berencana melakukan bedah plastik adalah, apa yang baik bagi orang lain, belum tentu baik pula bagi Anda! Karena, tubuh setiap orang sangat unik. Sebagai contoh, mungkin tubuh teman Anda yang melakukan bedah plastik tidak memiliki bakat mudah terbentuk keloid, sehingga hasil operasinya terlihat sukses karena tidak meninggalkan bekas yang berarti. Sebaliknya, bila Anda memiliki bakat keloid, sebaiknya berpikir lebih panjang sebelum mengambil keputusan. Karena, pada mereka yang berbakat keloid, bekas luka operasi umumnya akan menjadi keloid yang cukup mengganggu. Bisa-bisa malah timbul masalah baru!

Sebagai tambahan bahan pertimbangan Anda menurut dr. Elida, carilah dokter ahli bedah plastik yang bersertifikat. Akan lebih baik kalau dokter tersebut juga memiliki sertifikat internasional sehingga kalau pun terjadi sesuatu di kemudian hari, penanganannya dapat dirujuk ke dokter lain yang lebih ahli dalam skala internasional.

Sri Lestariningsih ( ayahbunda-online.com )

Mengintip Janin Minggu ke 13 - 24



Dia terus tumbuh dan berkembang. Anda pun mengalami perubahan. Wow... si kecil mulai bergerak!

Hampir tiga bulan yang lalu banyak di antara Anda terpaksa menunda kegiatan karena ‘terganggu’ perubahan hormonal, kini sebaliknya, kebanyakan wanita hamil sangat menikmati tiga bulan kedua kehamilan. Mulai sekarang tubuh Anda sudah berhasil menyesuaikan diri dengan kehamilan Anda.

Kalau kehamilan Anda sehat, berarti hampir tak ada lagi rasa lesu, lemah, mual dan ingin muntah, serta sakit kepala yang dulu sempat mengganggu aktivitas. Yang menggembirakan lagi, si kecil kini mulai menyapa Anda.

Minggu ke-13

* PERTUMBUHAN JANIN

Panjang janin sudah mencapai 9,3 – 10,3 cm, dengan berat 50 gram. Kulit tubuhnya masih tipis, sehingga pembuluh darahnya bisa terlihat dari luar. Bulu-bulu halus pun mulai menutupi tubuhnya. Bahkan ada janin yang sudah bisa mengisap ibu jarinya.

Kedua mata, yang semula terlihat agak jauh terpisah, kini sudah mulai terlihat mendekat dan berangsur ‘pindah’ ke bagian depan wajah. Daun telinganya juga sudah mulai tampak tumbuh.

* TUBUH ANDA

Kini kehamilan Anda mulai ‘terlihat’. Jika Anda meraba di bagian bawah perut akan terasa pertambahan ukuran sekitar 7 cm. Mual-mual dan muntah yang selama ini rajin datang, juga sudah mulai berkurang. Makanya, untuk Anda yang suka memasak, kini sudah dapat Anda nikmati lagi.

Minggu ke-14

* PERTUMBUHAN JANIN

Panjang janin menjadi 10,4 - 11,6 cm dengan berat sekitar 80 gram. Tulang yang terbentuk sudah mulai mengeras dan dengan cepat membentuk kalsium. Seandainya pada usia ini dibuat foto rontgent, maka tulang kerangka bayi sudah bisa terlihat.

Selain bulu-bulu halus yang semakin banyak, kuku jemarinya pun mulai terbentuk. Tungkai kaki juga mulai terlihat lebih panjang dari lengannya, dan keduanya mulai bisa bergerak. Gerakan ini dapat terlihat dari pemeriksaan USG.

* TUBUH ANDA

Jika Anda belum dapat merasakan gerakan janin, jangan khawatir. Gerakan janin pada kehamilan pertama biasanya baru dirasakan pada usia kehamilan 16 – 20 minggu,

Banyak wanita hamil mulai suka ngemil. Tak apa, asalkan Anda cari camilan yang bergizi dan mudah mengonsumsinya. Buah-buahan segar bisa jadi pilihan yang baik.

Minggu ke-15

* PERTUMBUHAN JANIN

Sekarang ia berukuran 11 - 12 cm dengan bobot 100 gram. Jika Anda membuka telapak tangan, nah, sebesar itulah janin Anda sekarang.

Pada usia ini lemak-lemak tubuhnya sudah mulai terbentuk. Lemak ini penting untuk melindungi tubuhnya agar tetap hangat.

* TUBUH ANDA

Perut Anda sekarang sudah lebih kelihatan menyembul, sehingga kalau suami Anda memeluk, dia sudah dapat merasakan besarnya rahim Anda. Kalau Anda mau, saat ini Anda sudah mulai dapat memakai busana hamil yang nyaman.

Ada satu hal yang petut Anda perhatikan yakni posisi tidur. Kadangkala terasa tekanan pada pembuluh darah besar yang ada di bagian belakang perut. Makanya, agar lebih nyaman sebaiknya Anda tidak terlalu lama tidur telentang. Sesekali cobalah miring ke arah kanan.

Minggu ke-16

* PERTUMBUHAN JANIN

Pelan-pelan dia terus membesar mencapai 12,5 – 14 cm dan beratnya 150 gram. Saat ini penampilannya sudah mirip manusia, dengan mata yang mulai menempati posisinya. Demikian pula perbandingan panjang tungkai kaki dan lengan yang mulai seimbang.

* TUBUH ANDA

Anda merasa jauh lebih nyaman, janin Anda pun sudah lebih kuat. Kini saatnya Anda beraktivitas kembali.

Anda suka bepergian atau olahraga seperti berenang, jalan kaki atau bersepeda? Silakan lakukan atas persetujuan dokter.

Minggu ke-17

* PERTUMBUHAN JANIN

Si kecil kini sudah 13 – 15 cm dengan berat 200 gram. Sejak minggu ini sampai saat kelahirannya kelak, berat janin akan meningkat sampai lebih dari 12 kali lipat.

Pada usia ini jika ia mengalami gangguan pertumbuhan pada sistem saraf yang dapat menyebabkan terjadinya hidrosefalus (kepala besar karena berisi cairan), bisa segera terlihat melalui pemeriksaan USG. Dokter pun bisa melakukan tindakan medis untuk menolongnya.

* TUBUH ANDA

Jika dilihat dari samping, perut Anda semakin membuncit. Pertambahan berat badan Anda biasanya sudah mencapai sekitar 3,6 – 6,3 kg. Tapi tahukah Anda, ternyata dari berat ini, hanya 200 gram milik janin. Selebihnya, milik plasenta (170 gram), cairan ketuban 320 gram, serta rahim Anda sendiri yang bertambah besar (320 gram). Selain itu, payudara Anda pun ikut bertambah berat (sekitar 170 gram), dan sisanya merupakan peningkatan volume darah serta berbagai persiapan untuk menyusui kelak.

Minggu ke-18

* PERTUMBUHAN JANIN

Bobot tubuhnya sudah 260 gram dngan panjang 14 - 16 cm. Kulit tubuhnya tumbuh dua lapis. Epidermis, yang ada di permukaan, serta dermis yang ada di lapisan dalam. Pada minggu ini, bagian epidermis membentuk empat lapisan, yang salah satunya bertanggung jawab untuk membentuk sidik jari di tangan maupun di kaki.

* TUBUH ANDA

Dokter akan mengukur tinggi rahim Anda. Pengukuran dapat dilakukan dari tulang pubis (tulang kemaluan), atau dari pusar Anda. Ukuran ini perlu untuk mengetahui kapan janin bisa dilahirkan. Atau, jika memang jauh dari ukuran normal, bisa jadi tanda bagi doker untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Namun jangan langsung khawatir, sebab ukuran perut untuk setiap individu tidak selalu sama. Selama dokter mengatakan tak ada masalah, ya... tenang saja.

Minggu ke-19

* PERTUMBUHAN JANIN

Coba Anda ambil pisang ambon. Ya seukuran itulah si kecil (panjang 18 cm, berat 300 gram). Hebatnya, mulai hari ini perkembangan saluran pencernaannya membuatnya mampu menelan cairan ketuban. Ia minum banyak cairan dan meneruskan bahan-bahan yang tidak dapat diserap ke usus besarnya. Diperkirakan, cairan ketuban itu dibutuhkan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan janin.

* TUBUH ANDA

Aha! Kini pinggang Anda sudah betul-betul ‘hilang’ tak berbatas lagi. Dengan tinggi rahim sekitar 21 cm dan pertambahan berat badan sekitar 3,5 - 6,3 kg, penampilan Anda sudah sempurna sebagai wanita hamil.

Kalau aktivitas Anda lebih banyak bertumpu di kaki, adakalanya membuat kaki Anda terlihat membengkak. Cobalah sisihkan waktu untuk berbaring sebentar dengan mengganjal kaki memakai bantal.

Minggu ke-20

* PERTUMBUHAN JANIN

Si kecil bertambah 1 cm menjadi 19 cm dan bobotnya mencapai 350 gram. Kelopak mata dan alisnya mulai terbentuk, dan kuku di jari-jarinya juga sudah mulai tumbuh menutupi ujung jarinya.

* TUBUH ANDA

Puncak rahim Anda sekarang 2 cm di atas pusat, atau sekitar 22 cm dari tulang kemaluan. Saat inilah kehamilan terasa benar-benar nyaman. Tidak terlalu besar, sehingga tidak mengganggu gerakan sama sekali. Anda masih dapat membungkuk atau duduk dengan nyaman.

Boleh dibilang, ini juga merupakan saat yang paling menyenangkan selama hamil. Anda pun kini dapat kembali merawat wajah dengan krim yang pernah membuat Anda mual karena baunya pada trimester pertama.

Minggu ke-21

* PERTUMBUHAN JANIN

Panjang janin sekitar 20 cm dengan berat mencapai 455 gram. Ia sudah tampak seperti boneka. Bulu-bulu di tubuhnya semakin tebal, tubuhnya lebih berisi, meski kulitnya masih keriput.

* TUBUH ANDA

Berat badan Anda biasanya bertambah sekitar 5,5 - 6,8 kg. Wajah Anda juga tampak lebih berisi, sementara perubahan tubuh tidak terlalu berbeda dengan minggu lalu.

Minggu ke-22

* PERTUMBUHAN JANIN

Tubuhnya memang hanya bertambah 1 cm tapi beratnya 540 gram. Meski wajah dan tubuhnya sudah lebih tampak seperti bayi baru lahir, tapi ia masih terlalu kecil untuk lahir. Diperkirakan, pada minggu ini janin sudah dapat mendengar suara-suara dari luar.

* TUBUH ANDA

Tinggi puncak rahim Anda kini sekitar 24 cm. Sebagian dari Anda ada yang merasakan sesak napas, yang mungkin disebabkan terlalu banyak makan sebelum tidur malam. Untuk mengatasinya, makanlah dalam jumlah kecil tetapi sering dengan makanan yang bergizi. Jangan langsung tidur setelah makan.

Minggu ke-23

* PERTUMBUHAN JANIN

Ukurannya sekitar 22 cm dengan bobot tubuh 550 – 650 gram. Namun, setiap janin mempunyai berat dan panjang yang tidak selalu sama. Jadi, jika janin Anda agak berbeda sedikit dengan ukuran tersebut, tak usah terlalu khawatir. Yang penting, dokter menyatakannya normal.

* TUBUH ANDA

Tinggi rahim Anda sekarang 25 cm. Besar rahim Anda hampir sama dengan bola sepak. Puncak rahim berada di tengah-tengah antara bagian bawah tulang dada dan tali pusat. Dengan semakin melarnya perut, kulit perut pun akan tertarik sehingga kadang-kadang terasa gatal.

Minggu ke-24

* PERTUMBUHAN JANIN

Kini panjang tubuhnya mencapai 23 cm, sedang berat tubuhnya sekitar 650 – 750 gram. Tubuh janin sudah lebih berisi lagi. Ia juga sudah mulai punya pola tidur sendiri. Anda pun dapat merasakannya. Coba perhatikan, ada waktu-waktu tertentu dia sangat aktif, sementara pada waktu lain jadi anteng.

* TUBUH ANDA

Pertambahan berat badan Anda pada minggu ini biasanya sekitar 7,2 – 9,9 kg. Dengan semakin besarnya rahim, terkadang muncul rasa pegal sedikit di daerah punggung atau pinggul, juga kram kaki dan agak pusing. Untuk mengatasinya, lakukan olahraga ringan, sehingga peredaran darah Anda lancar.

Retno Wahab Supriyadi

Konsultasi ilmiah: dr. Seno Adjie, Sp.OG, Staf pengajar Departemen Obstetri dan Ginekologi, FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Dengarkan Alarm Degup Jantung



Dalam kondisi normal pun, jantung ibu hamil bekerja lebih berat. Bagaimana pula kalau mengalami gangguan?

Lita, 27 tahun, mengaku tak pernah merasakan keluhan sakit jantung. Sejak kecil, ia memang jarang melakukan aktivitas fisik. Ketika hamil dan usia kehamilannya masuk trimester kedua, keluhan pun mulai muncul. Sesak napas, tersengal-sengal, pusing, dan mudah letih.

“Tadinya saya masih mengabaikannya, kan orang lain juga mengalami,” ujar Lita. Ternyata, dokternya menemukan “keanehan” pada bunyi irama jantungnya yang menunjukkan adanya gangguan. Nah, dari pemeriksaan selanjutnya, Lita ternyata mengidap gangguan jantung yang baru terlihat ketika dia hamil.

Di Amerika Serikat, diketahui bahwa gangguan jantung dialami oleh 1–4% ibu hamil, yang sebelumnya tidak pernah diketahui sama sekali oleh penderitanya. Di Indonesia, angka ini belum tercatat.

Kerja keras jantung

Munculnya gangguan jantung yang serius pada seorang ibu hamil, yang sebenarnya sudah menyandang gangguan jantung, memang bukan suatu kebetulan. Mengapa?

Kehamilan itu sendiri merupakan suatu proses yang membuat seluruh tubuh berubah. Seperti apa yang dikatakan dr. Bhimantoro Azwar, SpOG, dokter spesialis obstetri & ginekologi dari RSIA Hermina, Jakarta, “Pada saat hamil, volume darah akan bertambah sekitar 40%. Ini merupakan akibat dari meningkatnya kadar hormon estrogen, terutama pada usia kehamilan 30 minggu. Akibatnya, jantung harus bekerja lebih berat dan lebih cepat untuk memompa darah.”

Selain itu, perlu Anda tahu, meningkatnya volume darah ini lebih besar dari peningkatan massa sel darah merah. Akibatnya, sering timbul anemia (kekurangan sel darah merah dalam darah) pada ibu hamil.

Jadi, tanpa adanya gangguan jantung pun, kerja jantung sebenarnya sudah berat ketika hamil. Tak heran, kalau seorang ibu hamil kadang-kadang juga akan merasakan napasnya terengah-engah dan mudah lelah, sekalipun kondisi jantungnya baik-baik saja.

Nah, apalagi mereka yang sebelumnya sudah menyandang gangguan jantung. Jantungnya tentu akan memikul beban yang lebih berat lagi.

Risikonya berat

Lalu, apa risiko yang ada di depan ibu hamil? Risiko itu bisa berupa serangan jantung, stroke, sampai membanjirnya aliran darah ke paru-paru. “Jika sudah ada kelainan gagal jantung, biasanya suplai darah, baik yang ke otak atau ke ginjal, akan terganggu. Untuk memenuhi kebutuhan akan darah yang kaya oksigen, paru-paru harus bekerja keras, dan membengkak,” jelas dr. Bhimantoro.

Prof. Michael Gatzoulis dari Bagian Kardiologi Rumah Sakit Royal Brompton, Inggris, juga menambahkan, “Jika kondisi seperti itu tak diatasi, bukan tak mungkin dapat menyebabkan kematian pada ibu hamil.” Jalan keluarnya?

“Kehamilannya itu harus diawasi secara intensif oleh dokter spesialis kandungan dan dokter spesialis jantung. Jika perlu, si ibu hamil diberi obat-obatan untuk mengatasi gangguan jantungnya, yang tentu saja aman bagi janinnya,” jawab dr. Bhimantoro.

Bila kondisinya stabil, maka si ibu dapat melahirkan bayi pada usia kandungan yang mencukupi (38–40 minggu). “Tapi adakalanya janin harus dikeluarkan lebih awal, misalnya di usia 32 minggu,” lanjut dr. Bhimantoro.

Proses persalinan pada ibu hamil yang menyandang gangguan jantung perlu perhatian lebih. Sebab, peningkatan aliran darah di pembuluh darah balik ke jantung yang terjadi ketika rahim berkontraksi, dapat membahayakan jantung. Pada proses persalinan itu, pengeluaran darah dari jantung meningkat 20% pada setiap kontraksi.

Jelaslah mengapa proses persalinan bayi dari ibu yang menyandang gangguan jantung, bukan hanya perlu ditunggui dokter ahli kandungan, tetapi juga dokter anestesi yang berpengalaman menangani pasien dengan gangguan jantung. Bahkan jika perlu, juga ditunggui dokter spesialis jantung dan dokter spesialis anak yang menangani bayi baru lahir. Sebab, pada kondisi tertentu ada pasien yang ketika melahirkan memang harus menjalani pembiusan agar tidak membahayakan jantungnya.

Pentingnya memeriksakan diri

Untuk mencegah kemungkinan yang tak diinginkan, dokter biasanya menganjurkan wanita, terutama yang sudah tahu bahwa ia sudah menyandang gangguan jantung, untuk berkonsultasi lebih dulu ke dokter sebelum hamil. “Konsultasinya bukan hanya dengan dokter spesialis kandungan, tetapi juga dengan dokter ahli jantung,” ujar dr. Bhimantoro, ayah dari satu anak ini.

“Repotnya, 85-90% dari mereka yang ketika masih anak-anak sudah dikoreksi ganguan jantungnya, seringkali tidak menghubungi lagi rumah sakit tempat mereka dirawat,” ujar Prof. Philip Steer, ahli kandungan dari Chelsea, Inggris. “Akibatnya, banyak wanita yang sudah terlanjur hamil, tanpa tahu risiko yang mungkin akan dialaminya.”

Jadi, sekali lagi, konsultasikan kondisi kesehatan Anda sebelum hamil. Kalau Anda memang mengalami gangguan jantung tergolong ringan, tak perlu terlalu khawatir dengan keadaan Anda. Anda bisa kok, menjalani kehamilan dan persalinan normal selama dalam pantauan dokter.

Risikonya pada Janin

Berikut ini risiko yang kemungkinan dialami bayi dari ibu yang pada saat hamil menderita gangguan jantung.

· Bayi lahir dengan berat badan rendah. Hal ini terjadi karena pada umumnya aliran darah ke janin kurang, sehingga proses perkembangan janin dalam kandungan pun mungkin agak terhambat.

· Bayi lahir prematur. Kondisi seperti ini biasanya terjadi karena kondisi ibu yang memburuk, sehingga bayi perlu segera dikeluarkan melalui operasi.


Gejala Gangguan Jantung

Asosiasi Jantung di Amerika membagi gangguan jantung dalam 4 tingkatan.

Tingkat I: Ringan
Gejala: tanpa gejala, dapat melakukan kegiatan sehari-hari tanpa batas.

Tingkat II: Ringan
Gejala: ada sedikit gejala, yaitu kadang-kadang jika terlalu lelah terjadi bengkak di beberapa bagian tubuh. Selain itu, ada keterbatasan dalam melakukan latihan-latihan tertentu yang agak berat.

Tingkat III: Sedang
Gejala: dapat dikenali dari keterbatasan saat melakukan aktivitas yang berat. Selain itu, orang yang bersangkutan hanya merasa nyaman dalam keadaan istirahat.

Tingkat IV: Berat
Gejala: sukar melakukan kegiatan fisik. Bergerak sedikit saja sudah terengah-engah. Bahkan, gejala gangguan ini juga terasa di saat istirahat.

Catatan:
Untuk wanita yang menyandang gangguan jantung tingkat I & II, biasanya masih diperbolehkan untuk hamil dengan pengawasan dokter.

Retno Wahab Supriyadi ( ayahbunda-online.com)

Kelamaan Duduk atau Berdiri



Sikap tubuh yang baik dan benar berdampak positif terhadap kesehatan kehamilan dan janin Anda.

Salah satu sikap tubuh yang harus Anda perhatikan adalah duduk maupun berdiri, yaitu jangan kelamaan. Memang, gangguan yang muncul bisa dikatakan bukan masalah serius. Tapi, toh bisa menimbulkan rasa tidak nyaman, merepotkan, dan mengganggu penampilan Anda. Jadi, lebih baik bila kita memperkecil risiko.

Lalu, bagaimana bila pekerjaan Anda mengharuskan Anda berada dalam posisi tersebut, atau Anda sedang dalam suatu perjalanan panjang? Jangan khawatir, ada kok kiat mengatasinya.

Tip saat duduk

· Duduklah dengan punggung tegak, paha sejajar dengan lantai, dan telapak kaki menempel rata pada lantai. Bila kursi Anda terlalu tinggi dan tidak dapat diubah, berilah ganjalan pada kaki (bisa berupa kursi kecil), agar peredaran darah tetap lancar. Ganjal belakang punggung dengan bantal yang empuk. Jangan duduk menyilangkan kaki.

· Bila Anda bekerja di depan komputer atau duduk lama di depan meja untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, ambillah waktu beberapa menit untuk peregangan, paling sedikit setiap jam. Caranya, bangun dan lakukan gerakan seperti memutar kepala pelan-pelan. Atau, duduk di kursi dengan lutut terbuka, angkat kedua lengan sejajar dengan pundak, kemudian tarik ke depan sejauh mungkin. Lalu, putar tubuh ke kanan atau ke kiri (seperti menggeliat).

· Bila sedang dalam perjalanan panjang dengan naik mobil sendiri, berhenti sejenak, agar Anda bisa turun lalu berjalan-jalan di sekeliling mobil sekitar 10 menit.

· Bila bepergian dengan kereta api atau pesawat terbang, Anda bisa berdiri sekitar tempat duduk atau berjalan sepanjang gang. Manfaatkan sandaran kaki saat duduk, atau bila bangku di sebelah atau seberang Anda kosong, letakkan kaki Anda di atasnya. Lebih nyaman lagi bila sepatu Anda dilepas.

Tip saat Berdiri

· Bagi Anda yang harus bekerja dengan berdiri cukup lama, biasakanlah berdiri dengan tegak (kedua kaki sedikit meregang), bahu tetap lemas, dada diangkat, dan bokong ditarik sambil menahan perut.

· Agar tidak cepat lelah ketika berdiri, angkatlah salah satu kaki dan letakkan di atas penyangga kaki setinggi 10-15 cm. Ini bertujuan untuk menghindari terjadinya tegangan di dasar punggung. Lakukan secara bergantian dengan kaki yang lain.

· Bila mungkin, hentikan pekerjaan Anda, lalu tempelkan tubuh bagian belakang pada tembok dengan posisi tegak lurus (kaki diregangkan). Turunkan badan perlahan dengan menekuk kaki sampai terasa adanya tarikan di otot paha (jangan sampai terasa sakit).

· Sempatkan beristirahat dan lakukan peregangan di kaki dan pergelangan kaki. Caranya, duduk di lantai dengan kaki lurus ke depan, lalu gerak-gerakkan pergelangan kaki (diputar-putar, tarik telapak kaki ke arah dalam, angkat tumit dengan ujung jari tetap di lantai, atau sebaliknya angkat ujung jari kaki sementara tumit tetap menempel di lantai).

· Bila merasa pusing, misalnya mengalami penurunan tekanan darah (hipotensi) akibat berdiri terlalu lama, segera cari tempat yang nyaman untuk duduk atau beristirahat sejenak.

Ini alasannya

Beberapa gangguan yang sering dikeluhkan akibat kelamaan duduk atau berdiri, yaitu:
· Pegal dan lelah.
· Kram kaki.
· Nyeri pinggang bawah.
· Pembengkakan pada tungkai dan pergelangan kaki.
* Varises (pelebaran pembuluh darah).
* Kontraksi dini.

Catatan:
Waspada bila ada gejala ikutan seperti gejala pre-eklampsia (keracunan kehamilan), penyakit jantung, dan ginjal. Segeralah ke dokter.

Dewi Handajani

Konsultasi ilmiah: dr. Ali Sungkar, Sp.OG, POGI Jaya, Divisi Fetomaternal, Departemen Kebidanan dan Kandungan, FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Refresh Energi di Spa



Masa mual-mual telah berlalu, kini saatnya Anda manjakan diri dengan mengisi energi baru di spa.

Spa ketika hamil? Mengapa tidak! Apalagi selewat masa trimester pertama yang penuh gejolak mual-mual, kini Anda memasuki trimester kedua yang lebih menyenangkan.

Biasanya, beda tempat spa beda pula paket yang ditawarkan. Namun, jenis dan caranya sudah dirancang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi ibu hamil.

Nyaman dan relaks

Sebelum diterapi, biasanya Anda diajak bermeditasi. Kegiatan ini sangat penting karena dapat membantu menurunkan stres. Banyak penelitian membuktikan, stres berkepanjangan selama hamil dapat mengacaukan pengeluaran hormon-hormon di dalam tubuh. Kondisi ini bisa menimbulkan gangguan proses pertumbuhan janin, keguguran atau persalinan prematur. Bahkan, stres yang dialami ibu hamil dikhawatirkan juga dialami oleh janinnya.

Nah, meditasi akan membantu Anda untuk mengenal diri sendiri, dan merasakan hubungan antara Anda dengan janin yang ada dalam rahim. Dengan bermeditasi, diharapkan bukan stres yang Anda alami saja yang berkurang, tetapi juga ‘stres’ yang dirasakan janin. Coba deh, ikuti langkah-langkahnya.

Pertama-tama, pejamkan mata Anda. Buat seluruh tubuh Anda relaks, lalu bernapaslah perlahan melalui hidung (hirup udara perlahan-lahan, konsentrasikan pada aliran udara melalui hidung). Bebaskanlah pikiran Anda sejenak dari kegiatan sehari-hari. Bayangkan seolah-olah Anda sedang bersantai di tempat yang nyaman, aman dan Anda merasa bahagia. Misalnya, di tepi pantai, di gunung, atau sekadar di ruang yang tenang. Setelah tubuh merasa relaks, Anda dapat melakukan kegiatan selanjutnya.

Kulit bersih & sehat

Kegiatan berikutnya bisa berupa scrubbing dan massage. Scrubbing adalah kegiatan menggosok kulit, yang bertujuan mengangkat jaringan kulit yang mati agar kulit Anda selalu bersih dan bercahaya.

Setelah scrubbing, Anda akan di-massage. Kegiatan pijat ibu hamil diharapkan melancarkan aliran darah, serta aliran di kelenjar getah bening. Penelitian Dr. Tiffany Field dari Fakultas Kedokteran Universitas Miami di Amerika Serikat, menunjukkan bahwa pijat ibu hamil, dapat menurunkan hormon penyebab stres dalam tubuh. Sentuhan itu sendiri, sangat penting bukan saja terhadap fisik, tetapi juga untuk emosi ibu hamil.

Penting diingat, pijat ibu hamil tidak boleh ada penekanan, karena dikhawatirkan membahayakan kehamilan. Jadi, massage biasanya hanya dilakukan dalam bentuk pengusapan (efflurage) saja.

Selain itu, perhatikan juga posisi ibu hamil ketika dilakukan pemijatan. Mengingat perut ibu hamil sudah cukup besar, dan agar perut tidak tertekan tubuh. Posisi yang aman adalah duduk dengan kepala dan badan bagian atas disandarkan ke sandaran kursi. Atau, boleh saja jika Anda ingin berbaring, lakukan dengan posisi miring.

Hmm... sungguh nyaman!

Setelah dipijat, Anda akan dipersilakan membersihkan diri dengan cara mandi. Selanjutnya, tubuh Anda akan dilumuri masker dan dibiarkan sampai mengering, lalu dibersihkan. Tujuan kegiatan ini untuk mengencangkan kulit.

Sudah selesai? Belum. Anda bisa memanjakan diri dengan berendam dalam bak berisi air suam-suam kuku (bisa juga mandi bunga dengan ditaburi kelopak bunga mawar) selama 10-15 menit. Setelah itu, tubuh dikeringkan dan diolesi lotion untuk melembapkan kulit. Selain itu, segelas minuman segar telah menanti Anda.

Semua rangkaian kegiatan ini tentu akan berdampak positif terhadap fisik dan emosi Anda. Bagaimana tidak. Perasaan fresh, tenang, nyaman dan damai setelah menjalani kegiatan ini tentu membuat Anda semakin bahagia menjalani kehamilan dan menyambut sang buah hati.

Segudang Manfaat Massage

Sekalipun hanya dalam bentuk pengusapan, namun manfaat massage pada kehamilan sangat banyak.

* Meningkatkan sirkulasi darah, sehingga membantu penghantaran oksigen dan zat-zat makanan ke sel-sel tubuh ibu hamil dan janinnya. Ini berarti meningkatkan vitalitas dan mengurangi rasa lelah yang dialami ibu serta memberikan nutrisi yang lebih baik kepada janinnya.
* Mengurangi tekanan pada jantung, karena membantu sirkulasi darah.
* Membantu mengurangi asam laktat dan sisa metabolisme tubuh lainnya yang jika bertumpuk akan menyebabkan otot cepat merasa lelah. Selain itu, otot-otot yang terasa tegang, kejang, atau kaku, juga bisa lebih relaks. Kelenturan otot ini berguna ketika proses persalinan berlangsung kelak.
* Membantu mengurangi banyak gangguan kehamilan, seperti sakit punggung, kaki yang kaku, sakit kepala, serta bengkak di pergelangan kaki dan sekitar jari.
* Menstimulasi sekresi (pengeluaran) kelenjar, yang membantu menstabilisasikan kadar hormon dalam tubuh.
* Memulihkan depresi atau kekhawatiran yang disebabkan perubahan hormon tubuh ibu hamil.
* Membantu mengendurkan ketegangan saraf, sehingga membantu ibu hamil mudah tertidur dan tidak mengalami insomnia. Bahkan, diharapkan si ibu dapat tidur dengan nyenyak.

Kapan Tak Boleh?

Tunda dulu keinginan ke spa kalau Anda mengalami hal berikut.
* Perdarahan.
* Demam.
* Mengeluarkan banyak cairan, misalnya keputihan.
* Sakit menular.
* Muntah-muntah.
* Pre-eklampsia (gejala keracunan kehamilan).
* Tekanan darah tinggi.
* Diare.
* Sakit di perut.

Retno Wahab Supriyadi (ayahbunda-online.com )

Malas Minum? Dehidrasi, Lho!



Liburan selama hamil? Ayo saja! Tapi awas, jangan malas minum.

Cairan yang keluar dari tubuh, idealnya segera digantikan. Jika tidak, tubuh bukan hanya sekadar kekurangan cairan, tetapi juga mengganggu daya tahan tubuh.

Apa itu dehidrasi?
Kondisi tubuh yang kekurangan cairan, akibat cairan yang keluar lebih banyak dari yang masuk.

Bagaimana bisa terjadi?
Tubuh kita mengandung sekitar 60% cairan. Setiap hari, sekitar 1,7 liter cairan keluar dari tubuh melalui urin, sekitar 1 liter keluar melalui tinja, dan sekitar satu liter keluar melalui keringat dan pernapasan.

Cairan yang diharapkan masuk, baik melalui minuman maupun makanan berkuah, sekitar tiga liter per hari. Jika cairan yang keluar tidak diimbangi dengan cairan yang masuk, maka terjadilah dehidrasi.

Ibu hamil bisa dehidrasi?
Bisa. Jika mual-mual dan muntah di trimester pertama tidak diimbangi dengan usaha memasukkan kembali makanan dan minuman, maka terjadi dehidrasi.

Selain itu, selama hamil, kelenjar keringat bekerja lebih aktif, dan pembuluh darah pada kulit juga membesar, sehingga tubuh ibu hamil selalu banyak berkeringat. Lebih-lebih, bila ibu hamil yang bersangkutan banyak berkegiatan di luar ruangan (out door) dan sering terpapar terik matahari.

Masalahnya, seringkali ibu hamil enggan minum karena malas pipis. Padahal, dengan mengurangi jatah minum, tubuh jadi kekurangan cairan.

Berbahayakah?
Kalau tidak segera ditangani, ya bisa jadi bahaya. Secara umum, kekurangan cairan dalam tubuh akan mengakibatkan terjadinya gangguan keseimbangan elektrolit tubuh (senyawa yang larutannya merupakan penghantar arus listrik dalam tubuh kita). Ini karena pengeluaran cairan tubuh disertai dengan pengeluaran garam dan mineral.

Awalnya, mungkin hanya dehidrasi ringan yang ditandai dengan rasa haus yang sangat, sehingga merangsang penderita untuk minum lebih banyak. Tapi kalau rasa haus ini diabaikan, dehidrasi akan bertambah berat. Tanda-tandanya, mata cekung dan kulit menjadi tidak elastis (bila dicubit, bekas cubitan tidak cepat kembali). Kalau kondisi ini tidak segera dipulihkan, kesadaran akan menurun, bahkan mengalami shock. Kondisi ini bisa mengakibatkan kematian.

Akibat bagi janin?
Kalau tubuh ibu hamil kekurangan cairan, ia akan mengalami pengenceran darah (hemodilusi), yang membuat sirkulasi darah serta suplai oksigen ke plasenta dan janin terganggu. Selain itu, dehidrasi yang disebabkan diare, demam atau penguapan tubuh yang berlebihan, juga membuat mekanisme pertahanan tubuh jadi terganggu.

Bisakah dihindari?
Jaga jangan sampai tubuh kehausan serta jangan malas minum, apalagi dengan alasan malas pipis.

Minum sesuai kebutuhan (8-12 gelas/hari), atau paling tidak minum setiap 15 menit sekali. Bentuknya bisa air putih, sari buah, jus atau buah-buahan serta sayuran berkuah. Namun, sebaiknya tidak terlalu banyak minum minuman bersoda, teh atau kopi, karena minuman ini mengandung kafein yang bersifat diuretik (meningkatkan frekuensi buang air kecil). Padahal, kalau terlalu sering buang air kecil, cairan tubuh makin banyak yang keluar ‘kan?

Selain itu, bila hendak beraktivitas di luar ruangan, gunakan pakaian yang menyerap keringat, misalnya dari katun. Pakaian yang menyerap keringat bisa membantu mengurangi penguapan tubuh.

Kalau sudah telanjur?
Sebaiknya ibu hamil diberi cairan berupa larutan garam elektrolit, misalnya oralit. Bila oralit tidak tersedia, dapat dipakai larutan gula dan garam yang dibuat sendiri. Tapi, bila tidak juga pulih, ibu hamil dehidrasi perlu diberi cairan melalui infus di rumah sakit.

Nia L.T

Konsultasi ilmiah: dr. Ali Sungkar, SpOG, POGI Jaya, FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Sedang Apa di Dalam, Nak?



Stimulasi pralahir terhadap janin ternyata berdampak luar biasa. Bagaimana caranya?

Kisah kehidupan manusia dimulai saat sel sperma membuahi sel telur. Sesaat kemudian, sel telur yang sudah dibuahi tersebut berjalan menuju rahim lewat saluran indung telur, lalu menanamkan diri di dinding rahim. Di sana, dia akan membelah diri untuk tumbuh dan berkembang. Dalam waktu kurang lebih 3 minggu, sel telur yang telah membelah diri dan disebut embrio itu, akan terus berkembang menjadi janin.

Tahukah Anda, Anda bisa memberinya aneka stimulasi yang sangat bermanfaat bagi kecerdasan dan kepribadian sang janin? Ya, jangan lupa, dia adalah makhluk hidup yang sedang tumbuh. Di situlah perlunya kita, ayah dan bundanya, memberikan stimulasi pralahir.

Lebih dini, lebih baik

Menurut teori, stimulasi pralahir idealnya diberikan saat janin usia trimester kedua (usia kandungan 16 minggu). Namun, tidak ada salahnya Anda mulai melakukannya sejak trimester pertama, di mana susunan otak sudah terbentuk, termasuk kaki dan tangannya yang mulai membentuk formasi.

Semakin banyak sel-sel otak menerima stimulasi, semakin kompleks bagian otak yang menerima pesan/rangsang dari tubuh (dendrit). Otak akan makin tumbuh dan menjadi besar. Semua ini akan menentukan inteligensi serta kemampuan sosial dan emosi janin.

Untuk hasil yang optimal, luangkan waktu dua kali setiap hari, sedikitnya 10 menit, untuk menstimulasi janin. Misalnya, pagi dan malam. Perlu Anda tahu, malam hari adalah waktu yang paling tepat, karena janin sangat aktif. Atau, bisa juga dilakukan saat Anda dalam kendaraan menuju atau pulang dari tempat kerja.

Awalnya, mungkin Anda tak merasakan adanya reaksi dari si kecil. Namun, yakinilah dalam diri Anda, janin bisa merasakan sentuhan dan mendengarkan suara ayah bundanya. Kelak, seiring pertambahan usianya, dia akan memberikan reaksi. Misalnya, berupa tendangan dari balik perut bunda.

Banyak caranya

Sebenarnya, apa saja yang dapat Anda lakukan untuk menstimulasinya? Wah... banyak, dan umumnya mudah dilakukan. Berikut adalah beberapa contoh:

· Memperkenalkan diri

“Hallo, ini bunda, dan ini ayah.” Ya, seperti memperkenalkan diri kepada orang lain untuk pertama kalinya, Anda berdua bisa melakukannya kepada si kecil. Janin akan mendengar kata-kata lembut orang tuanya. Ucapkan berulang kali dalam kata-kata dan intonasi yang lembut. Bagi ayah, dekatkan kepala pada perut bunda, dan bicaralah pada si kecil.

· Mengusap

Bunda atau ayah, lakukan gerakan melingkar berupa usapan (jari dan telapak tangan terbuka dan sedikit tekanan) di bagian perut. Khusus buat ayah, letakkan jari-jemari di perut bunda lalu usap/belai bagian bawah perut yang merupakan punggung bayi, lalu naik ke bagian atas perut dimana posisi pantat bayi. Selain dengan iringan kata-kata yang lembut, Anda juga bisa melakukannya dengan musik-musik lembut, seperti musik klasik.

· Memperdengarkan musik

Perdengarkan musik lembut atau musik klasik setiap malam, kurang lebih 10 menit setiap harinya. Menurut penelitian yang dilakukan di negara-negara barat, musik klasik adalah bentuk stimulasi yang sempurna. Namun, kita dapat memperdengarkannya musik-musik easy listening, new age, musik tradisional, atau musik lain sepanjang musik itu tidak dipasang terlalu keras. Memperdengarkan musik dapat juga dilakukan dengan mendekatkan headset kepada perut ibu.

· Membacakan cerita atau doa

Membacakan cerita tidak hanya bisa dilakukan setelah si kecil lahir. Waktu ia berwujud janin pun, Anda dan pasangan dapat membacakannya cerita atau doa-doa. Tak perlu waktu panjang, semua ini bisa Anda lakukan beberapa menit saja. Bukankah doa memberikan ketenteraman batin bagi orang tua dan janin?

· Mengajak bicara sepanjang waktu

Anggap saja si calon bayi sudah mengerti apa yang Anda bicarakan. Setiap hari, apa pun kejadian yang Anda berdua alami, ceritakanlah pada si kecil. Hitung-hitung “curhat” atau mencurahkan isi hatilah. Lakukan dengan suara lemah lembut dan penuh kesungguhan. Namun, secara bergantian, tanyakan juga kabarnya atau apa yang dialaminya di dalam rahim Bunda yang hangat.

· Berdansa bersama

Ah, indahnya tarian ayah dan bunda. Selain menyenangkan bagi yang melakukannya, gerakan tarian juga membawa sensasi kegembiraan bagi janin. Pasanglah musik dansa, lakukan dansa secara perlahan. Wow, janin Anda pun akan ikut berdansa!

Nah, stimulasi tidak usah memerlukan biaya mahal bukan? Caranya mudah dan waktunya bisa kapan saja. Jadi tunggu apa lagi, ayo lakukan stimulasi pada si kecil sejak janin!

Laila Andaryani Hadis

Konsultasi ilmiah: dr. Caroline Tirtayasa, Sp.OG, POGI Jaya, Omni Medical Center, Pulo Mas, Jakarta.

Superfoods untuk “Supermom”



Selama kehamilan, Anda harus benar-benar mempertanggungjawabkan apa yang Anda masukkan ke dalam tubuh.

Benar! Kini, apa pun jenis makanan dan minuman yang Anda konsumsi, janin Anda pun akan ikut “mencicipinya”. Itu sebabnya, Anda harus memperhatikan dengan baik setiap suap makanan dan setiap teguk minuman Anda. Karena, melalui makanan dan minuman yang Anda pilih itulah, janin memperoleh semua zat nutrisi yang ia butuhkan

Nah, agar proses tumbuh-kembangnya optimal, superfoods bisa menjadi salah satu pilihan Anda.

Apa sih, superfoods itu?

Istilah superfoods, masih agak asing. Ini diakui dr. Srimurni Prastowo, SpGK dari Departemen Ilmu Gizi FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo. “Setahu saya, istilah superfoods masih belum populer. Itu hanya istilah untuk menu yang terdiri dari berbagai jenis bahan makanan alami, sehingga menghasilkan kombinasi zat-zat nutrisi lengkap yang dibutuhkan oleh tubuh, termasuk ibu hamil, agar tumbuh-kembang janinnya berlangsung optimal.”

Istilah superfoods ini diperkenalkan pertama kali oleh seorang dokter dari Scripps Memorial Hospital di La Jolla, California, dan University of California di San Diego, Amerika Serikat, Steven G. Pratt, M.D., FACS di dalam bukunya “Superfoods RX: Fourteen Foods That Will Change Your Life”. Di dalam bukunya tersebut, terdapat sederet daftar sumber bahan makanan nabati yang dianjurkan. Nah, menu yang dibuat dari kombinasi bahan-bahan makanan itulah yang dikenal sebagai superfoods.

Superfoods dipercaya dapat mencegah timbulnya berbagai penyakit. Tak heran bila kemudian muncul panduan menu superfoods bagi ibu hamil yang ditulis Dr. Jane Horti, seorang dokter spesialis gizi anak dari London, Inggris, seperti yang dilaporkan artikel “Pregnancy Superfoods Revealed” di BBC News edisi 10 Januari 2001. “Panduan itu sebetulnya ditulis untuk membantu para ibu hamil yang ‘bingung’ dalam memilih menu yang sehat dan aman selama masa kehamilannya. Jadi, panduan menu superfoods merupakan alternatif sumber zat nutrisi yang berasal dari bahan makanan alami, terutama nabati.”

Mengurangi keluhan

Manfaat mengonsumsi menu superfoods bagi kesehatan sudah banyak diteliti. Namun, bagaimana pengaruh superfoods ini terhadap keluhan yang muncul selama masa kehamilan?

Superfoods selama masa kehamilan dapat menghindarkan ibu hamil dari keluhan yang biasa muncul, misalnya morning sickness dan anemia. Munculnya keluhan ini, menurut Kate Barber dalam artikelnya “Pregnancy Superfoods” di majalah Pregnancy & Birth edisi Juli-Agustus 2005, antara lain bisa disebabkan oleh zat-zat nutrisi yang dibutuhkan janin tidak terpenuhi dengan baik. Sehingga, janin akan “mengambilnya” dari cadangan di dalam tubuh ibu hamil.

Tentang menu bagi ibu hamil ini, dr. Srimurni yang seorang dokter spesialis gizi ini berpendapat, “Memang, menu yang dikonsumsi oleh ibu hamil, harus mengandung semua zat nutrisi yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang janinnya secara lengkap. Yakni, mengandung karbohidrat, protein, lemak, sayuran, serta vitamin dan mineral.”

Lantas, apakah benar bila seluruh kebutuhan gizi selama hamil terpenuhi dengan baik, maka munculnya keluhan-keluhan kehamilan, seperti anemia, mudah kelelahan, kram, serta morning sickness dapat dicegah?

“Selama masa kehamilan, kebutuhan energi meningkat sebesar 300 kalori, protein antara 15 hingga 17 gram, asam folat 200 mikrogram, kalsium 150 miligram, dan yodium 50 miligram. Jadi, superfoods dapat ditambahkan dalam menu yang yang biasa dikonsumsi saat tidak sedang hamil. Nah, dengan mengonsumsi makanan sesuai kebutuhan tubuh ibu hamil dan janinnya, maka pembentukan energi, sel darah merah dan jaringan, baru dapat berjalan optimal. Khusus untuk keluhan morning sickness, pencegahannya tidak mutlak hanya dari pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi melibatkan banyak faktor lainnya, seperti perubahan hormonal,” jawab dr. Srimurni.

Pentingnya konsultasi

Jika Anda tertarik untuk mencoba superfoods, tak ada salahnya berkonsultasi lebih dulu dengan dokter ahli gizi. Jadi, Anda mengetahui dengan jelas berapa kebutuhan masing-masing jenis zat nutrisi selama masa kehamilan ini.

Seperti dikatakan dr. Srimurni, “Perlu diingat bahwa yang dimaksud dengan superfoods sebenarnya adalah bahan-bahan makanan yang padat gizi. Dalam volume kecil pun, kandungan gizi di dalam menu yang disusun dari bahan makanan yang termasuk ke dalam superfoods, sudah hampir lengkap. Itu sebabnya, superfoods bisa jadi bagian dari menu utama, misalnya untuk menu makan pagi dan makan malam.”

Sri Lestariningsih (ayahbunda-online.com)
Ada kesalahan di dalam gadget ini